Sambut Ramadan, Warga Ngijo Potong 56 Kambing

Ribuan warga mengikuti doa bersama di area petilasan tokoh agama Kiai Asyari yang lokasinya persis di tengah makam umum Kelurahan Ngijo, Kamis (19/3/2020). (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Puluhan kambing dipotong secara bersamaan dan dibagikan ke semua warga. Hal itulah yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ngijo Kecamatan Gunungpati jelang Ramadan, Kamis (19/3/2020).

Masyarakat menyebutnya dengan Tradisi Nyadran. Di kesempatan ini, total kambing yang dipotong yaitu sebanyak 56 ekor. Pemotongannya dilakukan di sebuah petilasan pemuka agama yaitu Kiai Asyari yang lokasinya persis di tengah makam umum Kelurahan Ngijo.

Sejak pukul 06.00, ribuan warga tumpah ruah di area petilasan tokoh agama tersebut. Diawali berdoa bersama, di atas alas duduk seadanya, acara berlangsung khidmad. Tidak lupa, masing-masing warga yang datang juga membawa bekal makanan sendiri-sendiri.

Bekal makanan tersebut diartikan masyarakat lokal sebagai ambengan. Acara doa dipimpin oleh seorang modin bernama Ahmad Yasak. “Sebagai tanda syukur atas rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa, yang sudah diberikan ke kami,” ujar Yusak.

Setelah prosesi berdoa selesai, ribuan warga bergotong royong menyembelih puluhan ekor kambing pemberian warga di areal pemakaman. Kambing yang sudah dipotong langsung dimasak warga, dengan tungku berjejer. Setelah masak daging kambing, kemudian dibungkus dan dibagikan kepada warga yang berkumpul di tengah makam. Kemudian disantap bersama, bahkan ada yang dibawa pulang.

Tradisi Nyadran ini sebenarnya sudah dimulai sejak Rabu (18/3/2020) pukul 00.00. Diawali dengan dzikir bersama, langsung dilanjutkan pagi bersih makam, kemudian potong kambing dari warga yang mempunyai nadar atau haulnya terlaksana.

Warga memasak 56 ekor kambing untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir dalam tradisi nyadran tersebut. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

Khusus untuk prosesi pemotongan dilakukan kaum lelaki dengan tungku berjajar, sementara perempuan bertugas membagikan makanan ringan. “Hasil masakan dibagikan kepada warga yang mengikuti nyadran,” katanya.

Tradisi tahunan ini tidak hanya melibatkan masyarakat setempat yang berdomisili di Ngijo. Bahkan warga asli Ngijo yang sudah merantau ke luar kota berbondong-bondong ikut datang.

Salahsatunya yaitu Rafli, 31. Dirinya datang jauh dari Bandung hanya untuk menyaksikan dan menikmati daging kambing yang disembelih dalam acara tersebut. “Warga percaya ini daging yang sudah didoain, sehingga bisa menyehatkan,” ujarnya.

Tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini dilakukan setiap hari Kamis Wage bulan Rajab, dengan memotong puluhan kambing. Acara ini tidak hanya diikuti warga setempat, namun diikuti warga perantauan. (ewb/ida/bas)

Tinggalkan Balasan