RSUD KRMT Wongsonegoro Kebanjiran Pasien DBD

Sejumlah pasien DBD dirawat di selasar RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, SemarangWabah Demam Berdarah Dengue (DBD) semakin meluas. Sejumlah rumah sakit di Kota Semarang mulai dibanjiri pasien. Seperti di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KRMT Wongsonegoro Kota Semarang. Tercatat, selama Januari hingga awal Maret 2020 ini telah merawat 182 pasien DBD. Hingga kemarin, masih ada 12 pasien DBD yang dirawat.  Sebagian besar pasien adalah anak-anak.

“Dari 12 pasien itu, empat di antaranya dirawat di ruang PICU,” kata Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD KRMT Wongsonegoro Eko Krisnarto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (11/3/2020).

Eko menambahkan,  dalam menghadapi meningkatnya pasien DBD, pihak rumah sakit telah memaksimalkan ruangan yang ada, bahkan sampai memanfaatkan selasar di ruang perawatan agar pasien demam berdarah tertampung dan tertangani secara medis. Sebab, jumlah pasien selain DBD juga tinggi. Hingga rumah sakit pelat merah ini mengalami overload.

“Mereka yang masih dirawat di selasar itu nantinya akan dimasukkan ke ruang pasien.  Ya, mereka harus antre. Setelah pasien di ruang perawatan pulang dengan persetujuan dokter, giliran pasien di selasar ini masuk. Jadi, harus gantian,” jelasnya.

Dikatakan, pasien DBD didominasi anak dan remaja usia 6 hingga 18 tahun. Tingginya jumlah pasien ini membuat pihaknya harus menyiapkan banyak bed. Juga mengoptimalkan tenaga medis yang ada. Tak hanya itu, jumlah pasien anak di IGD juga meningkat. Diakui, masa-masa outbreak DBD biasanya terjadi Maret atau April hingga menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB).  “Kami sudah mengantisipasi dengan mengoptimalkan tenaga medis dan menyiapkan bed-bed di setiap ruangan hingga selasar,” katanya.

Menurut Eko, jika pasien DBD tidak segera ditangani, yang ditakutkan akan terjadi penurunan trombosit. Hal ini bisa berakibat fatal, karena bisa berakhir pada kematian.  Untuk mengantisipasinya, pasien harus segera mendapatkan cairan infus supaya tidak terjadi dehidrasi dan hemokosentrasi.

“Pasien anak-anak di sini tidak hanya menderita DBD saja, tapi juga diare dan panas tinggi. Panas tinggi itu tidak hanya karena DBD, tetapi bisa juga disebabkan virus lainnya. Misalnya, tipus atau yang lainnya” jelasnya.

Salah satu orang tua pasien DBD, Paiman, warga Kebon Agung, Mranggen, mengaku anaknya, Muhammad Saeful, sejak Jumat (6/3/2020) lalu mengalami panas tinggi. Meski sudah diberi obat penurun panas, tapi tidak ada hasilnya.  Kemudian dibawa ke Puskesmas Mranggen untuk dilakukan pemeriksaan. “Tapi demamnya tidak turun, sehingga dibawa ke RSUD ini. Ternyata anak saya kena demam berdarah,” katanya. (hid/aro/bas)





Tinggalkan Balasan