Sempat Diajak Ayahnya, Menolak Ikut karena Badan Lelah

Ijabud Jadir, Warga Demak yang Kehilangan Enam Anggota Keluarganya Akibat Kecelakaan

4264
BERDUKA: Ijabud Jadir (baju merah) saat menerima para petakziah di rumahnya.(NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERDUKA: Ijabud Jadir (baju merah) saat menerima para petakziah di rumahnya.(NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEAMARANG.ID,- Ijabud Jadir tak menduga harus kehilangan enam anggota keluarganya sekaligus. Kecelakaan di Rembang, Minggu (8/3) lalu, telah merenggut nyawa ayah, ibu, kakek, nenek dan dua adiknya. Kini, dia tinggal bersama adik laki-lakinya dan seorang kakaknya.(NANANG RENDI AHMAD, Demak, Radar Semarang).

Wajah Jadir sedih. Matanya sembab dan merah. Ia juga tampak kelelahan. Namun ia tetap menemui para petakziah yang terus berdatangan. Sesekali menangis dan berkaca-kaca saat ia bersalaman dengan tamu yang sebagian besar tetangganya.
Ayah, ibu, kakek, nenek, dan kedua adik perempuannya baru saja dimakamkan. Pada Minggu (8/3) mengalami kecelakaan lalu lintas di Rembang. Mobil yang dikemudikan ayahnya menabrak truk dari arah berlawanan.

“Kejadian itu terjadi saat perjalanan pulang dari Surabaya. Ke Surabaya dalam rangka mendatangi hajatan kerabat,” kata pemuda 16 tahun itu kepada Jawa Pos Radar Semarang di rumah duka, Desa Berahan Wetan RT 06 RW 04, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Senin (9/3).

Pada Sabtu (7/3) pagi menjelang subuh, Jadir sempat diajak ayahnya. Namun ia memilih tinggal di rumah. Badannya yang saat itu sedang lelah menjadi alasannya. Setelah keluarganya berangkat pada pukul 03,00, ia melanjutkan tidur.

“Pagi sampai siang saya hanya di rumah. Rasanya suasana rumah sangat sepi. Padahal ada adik dan beberapa karyawan ayah juga di rumah. Saya biasa tinggal di rumah sendirian. Tapi ini rasanya berbeda. Benar-benar suntuk,” ungkap Jadir kepada salah satu petakziah.

Barangkali, lanjut Jadir, itu firasat. Selebihnya tidak ada tanda-tanda lain. Menjelang maghrib, warung bakso milik ayahnya didatangi sepasang suami-istri yang tidak ia kenal.

“Saya dipanggil salah satu karyawan ayah. Katanya tamu itu perlu bertemu saya. Ketika saya temui, mereka menyuruh agar saya sabar dan kuat. Saya bingung maksud dengan mereka,” beber Jadir.

Tamu itu lalu menunjukkan gambar KTP ayahnya dan pelat nomor mobil di ponselnya. Mereka memberi kabar ke Jadir bahwa keluarganya kecelakaan.

“Sontak badan saya lemas. Tulang seperti terlepas. Tamu itu memberitahu bahwa keluarga saya langsung dilarikan ke rumah sakit,” ucap Jadir.

Begitu mendapat kabar, Jadir bersama pamannya bertolak ke rumah sakit. Sesampainya di sana tangis Jadir pecah ketika pihak rumah sakit menyatakan ayah dan ibunya telah tiada.

“Sangka saya ayah dan ibu kritis, belum meninggal. Ternyata mereka meningal di tempat kejadian. Kakek, nenek, dan kedua adik perempuan saya kritis. Belum dinyatakan meninggal. Namun beberapa waktu kemudian, mereka menyusul ayah dan ibu,” tutur Jadir.

Senin (9/3) keenam korban dimakamkan. Jadir merasa sangat kehilangan. Namun ia tak bisa terus-menerus bersedih. Sebab, adik laki-lakinya butuh perannya.

“Sangat kehilangan. Mereka harta yang paling penting di dunia. Kami lima bersaudara. Dua meninggal. Kedua orang tua juga meninggal. Saya anak nomor dua. Kini yang masih ada hanya kakak saya dan adik laki-laki saya (anak ketiga). Saya bertekad melanjutkan usaha ayah untuk biaya hidup dan sekolah adik saya,” tandas Jadir berkaca-kaca.

Seperti diketahui, kecelakaan maut terjadi di jalur Pantura Desa Punjulharjo, Kecamatan Kota, Rembang, Jateng, Minggu (8/3). Tiga kendaraan terlibat dalam kejadian tersebut. Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 17.00 melibatkan mobil Daihatsu Terios nopol H 8416 RE yang ditumpangi keluarga Jadir, truk tandum nopol B 6199 UZ, dan truk tronton nopol W 8764 U. Ayah Jadir, Solikhun, 43, yang mengemudi Terios tewas seketika, termasuk ibunya. Sedangkan kakek, nenek dan kedua adiknya meninggal dalam perawatan di rumah sakit. (*/aro)

Tinggalkan Balasan