Industri Fashion Belum Merata

218
MOTIF SEMARANGAN: Para model memamerkan koleksi busana dari Danar Hadi dengan motif batik khas Semarangan. (Nur Chamin/ Jawa Pos Radar Semarang)
MOTIF SEMARANGAN: Para model memamerkan koleksi busana dari Danar Hadi dengan motif batik khas Semarangan. (Nur Chamin/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Pemerintah kota dan kabupaten di Jawa Tengah wajib mengenalkan industri fashion di daerahnya. Hal tersebut sebagai langkah meningkatkan kontribusi dari industri tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Jawa Tengah (Disperindag) Muhammad Arif Sambodo menuturkan, saat ini industri tekstil termasuk garmen dan fashion di dalamnya telah menyumbang 8,41 persen dari pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Bahkan untuk perdangangan ekspor, industri tersebut berada pada urutan pertama diatas furniture. Yakni mencapai 40 persen dari total ekspor Jateng. Jumlah tersebut terus naik dari tahun ke tahun. Hal tersebut membuktikan bahwa industri fashion memang terus berkembang di Jateng

“Industri ini bukan lagi potensi yang besar. Namun ini sudah terealisasi sedemikian baik untuk menunjang ekonomi Jateng,” ujarnya saat diskusi Peluang Industri Fashion di Jawa Tengah Kamis (27/2/2020).

Hanya saja dirinya menambahkan masih ada tantangan dalam memperkuat sektor tersebut. Salah satunya yakni masih tersentralisirnya industri fashion di beberapa kabupaten kota saja. Seperti di Sukoharjo, Kota Semarang, Solo dan sekitarnya serta Kabupaten Semarang dan sekitarnya. Sehingga mayoritas masih didominasi kota dan kabupaten besar saja.

“Bisa dilihat kan biasanya industri fashion ya ada di kota besar saja. Anggotanya pun dari kota besar juga. Jadi belum merata,” lanjutnya.

Maka dari itu pihaknya terus mendorong pemerataan industri di berbagai kabupaten kota dan daerah. Salah satunya dengan mewajibkan daerah untuk mengenalkan produk fashion kearifan lokal yang mereka punya. Selain itu pihaknya juga selalu membahas pemerataan industri dalam rencana pembangunan menengah dan tahunan. Pihaknya mengaku akan mulai menyasar Jawa Tengah bagian selatan untuk pengembangan industri. Sehingga tidak berfokus ke wilayah pantai utara saja.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang Munthohar menuturkan, pertumbuhan industri fashion di kota Lumpia mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan kontribusinya telah mencapai 6,52 persen. Maka dari itu pihaknya akan berupaya menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Sehingga dapat menjaga konsistensi dari industri fashion untuk terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Bahkan yang membanggakan tahun 2019 lalu kita diberi penghargaan 10 kota kreatif di Indonedia. Ini tidak lepas dari tingkat kreatifitas pelaku design Semarang yang terus mengembangkan produknya,” ujarnya. (akm/zal)

Tinggalkan Balasan