Meninggal Akibat Infeksi Paru

Pasien Dikabarkan Meninggal Akibat Korona

506
KLARIFIKASI: Dokter yang merawat pasien meninggal dunia dr Fathur Nurcholis bersama Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr Kariadi dr Agoes Oerip Purwoko, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr M Abdul Hakam dan Kepala Dinas Kesehatan Jateng dr Yulianto Prabowo.(NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KLARIFIKASI: Dokter yang merawat pasien meninggal dunia dr Fathur Nurcholis bersama Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr Kariadi dr Agoes Oerip Purwoko, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr M Abdul Hakam dan Kepala Dinas Kesehatan Jateng dr Yulianto Prabowo.(NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG,— Seorang pasien RSUP dr Kariadi dikabarkan meninggal akibat terinfeksi Coronavirus disease (Covid-19), Minggu (23/2) lalu. Pasien tersebut diketahui WNI berusia 37 tahun dengan riwayat perjalanan dari Spanyol, Dubai, lalu ke Jakarta. Kali pertama dirawat di rumah sakit daerah pada 17 Februari, lalu masuk RSUP dr Kariadi pada 19 Februari,dan meninggal pada Minggu (23/2) pukul 12.00. Saat datang, pasien memiliki keluhan sesak napas, batuk, dan demam. Pasien lalu ditangani di ruang ICU. Namun penyebab meninggalnya pasien akibat Covid-19 itu dibantah oleh pihak RSUP dr Kariadi.

Dokter yang merawat pasien tersebut, dr Fathur Nurcholis, SpPD-KP menegaskan, pasien tersebut meninggal karena infeksi paru-paru dan pernafasan bersifat berat. Sehingga paru-paru mengalami kerusakan akibat sesuatu bukan virus korona. Sebab, hasil pemeriksaan di laboratorium Jakarta menyatakan negatif Covid-19. “Pasien yang meninggal kemarin disebabkan Bronkopneumonia dan bukan Covid 19. Untuk memastikan, pasien dilakukan pemeriksaan dan tinggal menunggu hasilnya,” katanya.

Dijelaskan, Bronkopneumonia atau peradangan menyebabkan inflamasi di saluran nafas, paru, dan parantin paru, hingga pasien tersebut mengalami gangguan pernafasan. Pasien itu tidak bisa mengambil oksigen dan tidak bisa mengeluarkan CO2 atau gagal nafas. “Pasien dengan kriteria yang berat apapun penyebabnya salah satunya Bronkopneumonia akan mengalami komplikasi multiorgan, sehingga walaupun penyebab awalnya yang diserang pernafasan, komplikasi bisa ke seluruh organ atau multiorgan failure atau kegagalan di seluruh organ,” bebernya.

Dokter Fathur kembali menegaskan bahwa penyebab meninggalnya pasien tersebut lantaran mengalami gagal nafas kedua karena Sepsis Shock dengan multiorgan failure. Yang perlu ditegaskan, lanjut dia, penyebab Bronkopneumonia terutama karena ada bakteri, virus, dan jamur. Penyakit ini bisa terjadi semua orang, baik orang dalam pengawasan ataupun pemantauan terkait Covid.

“Di Indonesia yang tidak bersentuhan bisa jadi terkena Bronkopneumonia, tetapi derajatnya ringan, sedang, dan berat. Dan yang meninggal itu derajatnya berat karena kerusakan parunya berat. Kemungkinan penyebabnya baktiterial atau bakteri atipikal. Dalam penatalaksananya dan pemulasaraan seperti flu burung, mask, atau lainnya,” jelasnya.

Ia mengaku sudah melakukan pemantauan selama 14 hari di ruang isolasi. Pasien tidak boleh bergaul dengan orang lain agar tidak menular, keluarganya sudah pisahkan dan diberi edukasi. Bahkan keluarganya tidak boleh berkunjung ke rumah sakit. “Proses ini yang sulit sebenarnya. Bagimana menjelaskan kepada keluarganya yang melarang keluarganya untuk mendampingi pasien. Proses itu sudah dilakukan terkait dengan pemulasaraan jenazah pasien di RS menuju ke pemakanam oleh keluarga dan semua sudah dilakukan agar tidak terjadi penularan kalau misalnya ternyata hasilnya positif , tetapi ini hasilnya negatif. Murni karena Phenemony dan bukan infeksi korona,” tegasnya.

Direktur Medik dan Keperawatan dr Agoes Oerip Purwoko SpOG(K) MARS mengatakan, pasien yang meninggal secara klinis dikategorikan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) karena ada riwayat pasien dari luar negeri. Gejala klinisnya demam, batuk, dan sesak nafas sampai pada gangguan nafas berat. Namun setelah dilakukan pemeriksaan sesuai dengan pedoman yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan, pasien tersebut negatif virus korona.

“Jadi, sembilan dari 10 pasien sudah dinyatakan negatif hasil pemeriksaan laboratorium oleh Badan Litbang Pusat dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI di Jakarta. Karena di Indonesia yang melakukan pemeriksaan dipusatkan di Litbangkes di Jakarta,” tegas dr Agoes Oerip Purwoko didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng dr Yulianto Prabowo MKes, Tim Medis dr Fathur Nurcholis SpPD-KP dan dr Nurfarchanah SpPD-KPTI, serta Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr M Abdul Hakam SpPD, Rabu (26/2)

Agoes menambahkan, warga asing yang dirawat di RSUP dr Kariadi ada tiga, yakni Warga Negara Korea, Jepang dan Tiongkok. Sedangkan lainnya Warga Negara Indonesia (WNI) yang berjumlah tujuh orang. Satu pasien masih dirawat dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Terkait dengan penanganan jenazah pasien tersebut, menurut Agoes, juga berbeda dengan yang terkena virus korona. Pasien belum jelas atau dalam pengawasan itu perlakuannya kita anggap positif, karena melindungi diri sendiri petugas kesehatan yang melakukan penanganan dan diperlakukan di ruang isolasi. Petugasnya menggunakan pakaian khusus, tujuannya sebenarnya untuk mencegah kalau misalnya itu terbukti infeksi korona, itu tidak menular ke petugas.

“Selama 24 jam penuh petugas memakai standar Alat Pelindung Diri (APD). Perlakuan terhadap pasien meninggal pun prosesnya kita samakan dengan pasien yang dianggap positif. Walaupun sampai dengan sehari setelah meninggal hasilnya negatif,” paparnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr M Abdul Hakam SpPD mengatakan, pasien yang mendapatkan notifikasi itu pada 13 Februari lalu sampai Kota Semarang. Kemudian sempat di Semarang selama sehari. Ketika turun dari pesawat itu, masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) karena tidak ada keluhan sebelumnya.
“Dalam waktu dua hari, ternyata mulai batuk, kemudian berobat ke rumah sakit dan diizinkan menjalani rawat jalan,” katanya.

Dikatakan, pasien tersebut sempat keluar kota dan justru penyakitnya semakin parah. Tadinya hanya batuk ditambah demam dan sempat berobat dua kali. Pasien itu mengalami sesak nafasnya hingga rawat inap. Dari situ, status pasien itu dinaikan menjadi Orang Dalam Pengawasan dari rumah sakit, kemudian dirujuk ke RSUP dr Kariadi.
Pada 19 Februari, pasien sudah infeksi paru berat dan langsung dibawa ke ruang isolasi. Pada 23 Februari, pasien dinyatakan meninggal.

Abdul Hakam menambahkan, sejak 13 Februari, pihak rumah sakit sudah memantau keluarganya. Dan, hingga kemarin, anggota keluarganya tidak ada yang mengalami gejala batuk, sesak nafas dan demam. Keluarganya dinyatakan sehat semua, baik yang di Semarang maupun luar kota.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng dr Yulianto Prabowo MKes mengatakan, sampai hari ini 16 pasien yang diobservasi, 15 orang di antaranya sudah sembuh dan bukan Covid-19, serta seorang meninggal . “Dari semua yang diobservasi memang tidak memenuhi kriteria WHO untuk suspect Covid sebenarnya. Ini akan terus dilakukan kewaspadaan. Jangan sampai menimbulkan rasa takut pada masyarakat. Dokter sudah melakukan kerja yang maksimal, dan itu sebagai patokan kami sikap bersama di Jateng,” katanya.(hid/aro)

Tinggalkan Balasan