Udinus Sulap Sampah Plastik jadi Aspal

230
ASPAL PLASTIK : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Rektor Udinus Prof Edi Noersasongko ketika mengaplikaskan aspal plastik di sekitar kampus Udinus, kemarin.(ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ASPAL PLASTIK : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Rektor Udinus Prof Edi Noersasongko ketika mengaplikaskan aspal plastik di sekitar kampus Udinus, kemarin.(ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG,– Sepanjang 1 kilometer Jalan Yudistira, Jalan Arjuna Raya, Kelurahan Pendrikan Kidul Kota Semarang, Senin (17/2) siang, diaspal ulang oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Rektor Udinus Prof Edi Noersasongko. Ini bukan aspal biasa, tapi aspal yang sudah dicampur dengan olahan sampah plastik.
Prof Edi Noersasongko mengatakan, pengaspalan jalan di area Udinus membutuhkan sekitar 444 ton aspal dan 1,6 ton sampah plastik yang sudah dicacah.

“Pengurangan sampah plastik menjadi program Udinus menuju green campus. Kami bekerjasama dengan Balitbang Kementrian PUPR serta Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk mengaplikasikan aspal dari plastik ini,” katanya Senin (17/2) kemarin.

Sebelum dicampur aspal, katanya, Udinus mengembangkan alat pencacah serta menggandeng mahasiswa hingga PKK Kota Semarang untuk ikut berpartisipasi mengumpulkan sampah plastik. Pembuatan sampah plastik dilakukan oleh AMP (Aspalt Mixing Plant) dengan supervisi teknis dari peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) dan Balai Litbang Penerapan Teknologi Jalan dan Jembatan.

“Ini akan terus berlanjut. Banyak permintaan masyarakat untuk melakukan pengaspalan. Kami harap inovasi ini bisa memicu dan memacu perguruan tinggi lain agar memerangi sampah plastik serta lebih peduli lagi terhadap sampah,” jelasnya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi sangat mengapresiasi langkah Udinus menjadi perguruan tinggi swasta pertama memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan campuran aspal. Dinas PU Kota Semarang harus bisa memanfaatkan inovasi aspal plastik Udinus. “Ini harus dipatenkan. Konsep jalan ini juga harus ditiru oleh PU Kota Semarang, bukan persoalan murah atau mahal. Namun tentang pengurangan sampah yang mencemari lingkungan,” ucapnya.

Dalam sehari, lanjut Hendi, Semarang menghasilkan 1.400 ton sampah. Sebanyak 40 persennya adalah sampah plastik. Pemkot Semarang sendiri, telah menerbitkan Perwal 27 tahun 2019 tentang larangan penggunaan sampah plastik di toko modern di Semarang. “Kalau diaplikaskan tentu luar biasa, apalagi di Semarang ada 101 bank sampah yang bisa digandeng untuk membuat plastik menjadi aspal,” pungkasnya. (den/ida)

Tinggalkan Balasan