Sinergi Kemensos dan Pemkot Turunkan Angka Kemiskinan Semarang

199
INOVASI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama Menteri Sosial Juliari P Batubara berfoto bersama usai melakukan simulasi transaksi belanja E-Warung Mandiri. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVASI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersama Menteri Sosial Juliari P Batubara berfoto bersama usai melakukan simulasi transaksi belanja E-Warung Mandiri. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Sinergi dan kerja bersama Pemerintah Pusat melalui Kemensos RI dengan Pemkot Semarang dinilai Wali Kota Hendrar Prihadi sebagai kunci keberhasilan di dalam menurunkan angka kemiskinan di ibu kota Jawa Tengah. Hal itu diungkapkan Hendi –sapaan akrab Wali Kota Semarang– saat mendampingi Menteri Sosial Republik Indonesia Juliari Batubara dalam kunjungan kerjanya di Kota Semarang, Jumat (14/2). Bertempat di E Warung Kube Mandiri Jaya, Pusponjolo Selatan, Kecamatan Semarang Barat, Juliari menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) kepada 41.328 Keluarga di Kota Semarang.

Hendi menyebutkan bahwa meski angka kemiskinan di Kota Semarang semakin menurun dari 4,15 persen menjadi 3,98 persen, namun jumlahnya masih sekitar 65.000. Untuk itulah, bantuan sosial sembako yang semula sebesar Rp 110 ribu kini ditingkatkan menjadi Rp 150 ribu atau jumlahnya sebesar Rp 74,4 miliar dalam satu tahun. “Ini merupakan PR bersama. Untuk itu, kami berterima kasih karena Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial memberikan bantuan kepada 41.328 keluarga dalam bentuk BPNT, KUBE, E-Warong yang harapannya dapat semakin mengurangi angka kemiskinan,” ujar Hendi.

“Konsepnya BPNT diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) secara langsung. Para Keluarga Penerima Manfaat dapat menggunakan KKS untuk membeli sejumlah bahan pangan, seperti beras, minyak, sayur, telur, dan ayam di E-Warung atau elektronik warung gotong royong,” terang Hendi.

Menurutnya, yang dimaksud miskin adalah orang yang tidak memiliki penghasilan sehari-hari, dan tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Untuk itu, pihaknya mengupayakan warga usia produktif dan masuk ke dalam kategori prasejahtera didorong untuk mandiri melalui kegiatan kewirausahaan. Sedangkan masyarakat lansia didorong untuk melakukan kegiatan charity, seperti rehab rumah, PKH, baksos dan lain-lain.

Dalam pengentasan kemiskinan, Pemerintah Kota Semarang selama ini juga telah melakukan berbagai upaya konkrit dengan menjamin kehidupan sosial warga mulai dari lahir sampai meninggal. Pemkot berkomitmen untuk melepaskan kota ini dari kemiskinan. Mulai dari bayi di dalam kandungan melalui Posyandu, mendapat kemudahan ambulans dan persalinan gratis melalui UHC. Pendidikan berjenjang juga gratis mulai dari TK, SD, SMP dan tahun 2020 ini sejumlah sekolah swasta juga secara bertahap digratiskan.

Bagi masyarakat yang tergolong angkatan kerja, Pemerintah Kota Semarang memfasilitasi melalui Kredit Wibawa (Kredit Wirausaha Bangkit Jadi Jawara), pendampingan, hingga pemasaran melalui Semarang Creative Gallery. Sedangkan di usia lansia tercover lewat UHC, ada bedah rumah, ambulans jenazah gratis hingga santunan kematian.

Sementara itu, Menteri Sosial Juliari Batubara berharap program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) ini dapat semakin mengurangi angka kemiskinan di Kota Semarang yang berkontribusi juga terhadap jumlah kemiskinan nasional. “Alhamdulillah tahun ini jumlah bantuan yang diterima meningkat dari 110 ribu menjadi 150 ribu agar dapat menambah bahan makanan seperti sayur dan lauk seperti ayam. Harapannya, peningkatan program bantuan sosial sembako ini juga dapat membantu pemerintah dalam penurunan angka stunting, khususnya bagi ibu hamil dan anak usia dini melalui cakupan gizi yang lebih baik,” ujar Juliari. (bbs/den/aro)

Tinggalkan Balasan