Manisan Mirip Kurma, Sirup Baik untuk Kesehatan

Kreativitas Ibu-Ibu PKK RW 5 Muggassari Semarang Olah Belimbing Wuluh

717
INOVATIF: Sri Murtini dan Lurah Mugassari Sri Suhartini didampingi tim PKK RW 5 menunjukkan sirup belimbing wuluh dan manisan.
INOVATIF: Sri Murtini dan Lurah Mugassari Sri Suhartini didampingi tim PKK RW 5 menunjukkan sirup belimbing wuluh dan manisan.

RADARSEMARANG.ID, – Belimbing wuluh rasanya asam. Namun di tangan ibu-ibu PKK RW 5 Kelurahan Mugassari, Semarang Selatan, buah warna hijau ini mampu disulap menjadi manisan dan sirup segar yang bernilai jual. Seperti apa?,(JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

IBU-ibu kreatif itu adalah Tuti, Lastri, Ika, Indah, Bargianti, Utami, Suyati, Sriyatun, dan Ketua PKK RW 5, Sri Murtini. Ada dua produk dari blimbing wuluh yang dikembangkan. Yakni, manisan buah dan Sirup 29. Nama Sirup 29 sebagaimana tempat rumah produksinya di nomor 29. Sekilas produk manisan tersebut mirip kurma. Rasanya juga manis-manis sedikit asam. Namun untuk sirupnya cukup segar. Apalagi kalau diminum dengan es. Rasa asamnya tak begitu terasa.

Di kampung padat penduduk ini, belimbing wuluh tumbuh subur. Buahnya banyak. Bahkan, sampai rontok, berceceran. Sayang terbuang sia-sia. Selama ini ibu-ibu setempat hanya memanfaatkan belimbing wuluh paling 1-2 biji untuk memasak. Karena buahnya melimpah, Ketua PKK RW 5 Sri Murtini didukung Lurah Mugassari Sri Suhartini, menggerakkan warganya memanfaatkan buah tersebut. Apalagi dari beberapa sumber literatur yang dibaca Sri Murtini, diketahui belimbing wuluh memiliki banyak khasiat.

“Belimbing wuluh itu berkhasiat meredakan batuk dan pilek, meredakan demam dan flu, mengatasi alergi, mengobati infeksi akibat gigitan serangga, mengobati penyakit gondongan, mengatasi penyakit diabetes, mengatasi tekanan darah tinggi, mengatasi wasir, serta menurunkan berat badan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain itu, lanjut dia, mengonsumsi belimbing wuluh bisa meredakan nyeri, menjaga kesehatan tulang dan gigi, mengobati jerawat dan mengobati penyakit menular seksual. Dari situlah, ia tergerak untuk mengumpulkan warganya membuat inovasi produk dengan bahan dasar belimbing wuluh. “Di sini (RW 5) ada 50-an pohon belimbing wuluh. Setiap RT ada. Untuk produk manisan bisa dijadikan pengganti kismis,”ujar Sri Murtini.

Proses pembuatan manisan belimbing wuluh tidak rumit. Alat yang dipakai juga masih tradisional. Pertama, belimbing wuluh sekitar satu kilogram dicuci, kemudian ditiriskan dan direbus dengan air sekitar seliter. Setelah air mendidih, belimbing wuluh dimasukkan, baru ditiriskan lagi. Setelah itu, diberi tambahan gula setengah kilo, ditutup selama semalaman. Pagi harinya ditiriskan dan diangkat belimbingnya.

Setelah itu, belimbingnya ditambah lagi gula sekitar dua ons, selanjutnya ditiriskan lagi. Air belimbing wuluh disaring dan dimasak sampai mendidih untuk dijadikan bahan sirup. Khusus belimbingnya dijemur sebagai manisan. Proses menjemurnya sampai tiga harian. Dalam proses penjemuran itu hasilnya sudah manis sendiri, karena dalam prosesnya sudah direndam gula.

“Mungkin bagi sebagian besar orang, rasa belimbing wuluh tidaklah selezat rasa belimbing biasa. Tapi kami mampu buktikan jadi sirup dan manisan bernilai jual. Proses pembuatannya sekitar tiga hari. Saat ini sudah kami komersilkan pemesanan di RW 5. Masalah harga bisa berdamai kalau dipesan banyak,”ungkapnya.

Adapun harga eceran produknya, untuk sirup ukuran 300 ml sekitar Rp 10 ribu per botol. Sedangkan manisan satu cup botol juga dibanderol Rp 10 ribu. Produknya dikemas dalam keranjang mini. Tak dipungkiri , produknya pernah dibeli oleh Camat Semarang Selatan Eko Wiwi Yuniarto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang Tri Supriyanto dan Kepala Bappeda Kota Semarang Bunyamin saat dijual melalui pameran maupun saat diberi pelatihan.
“Penjualan sudah ada. Terkadang melalui pameran. Ada juga warga sekitar sini (Mugassari) yang pesan. Tapi kelemahannya bisa diproduksi melihat musim buahnya,”jelasnya.

Lurah Mugassari Sri Suhartini mengaku, untuk memaksimalkan produk warganya tersebut, pihaknya sudah berupaya untuk rutin menghadirkan narasumber. Khususnya pelatihan dalam hal proses pemasakan agar lebih higenis, pemasaran dan pengemasan agar lebih menarik. Dengan begitu masyarakat sebagai konsumen bersedia mencicipi dan membeli. Langkah itu, dikatakannya, sebagai bentuk peningkatan ekonomi warga.

“Kami juga berupaya mengajak warga menanam tanaman belimbing wuluh untuk dibudidayakan di seputar tanaman toga dan sekitar rumah. Jadi, bisa manfaatkan lahan sempit. Masing-masing rumah juga kami wajibkan tanaman toga minimal limah buah,”ungkapnya.

Pihaknya juga menyanjung atas prestasi warganya, khususnya kelompok PKK di kelurahannya. Karena 2019 berhasil meraih juara umum tingkat Kota Semarang. Produk belimbing wuluh tersebut juga pernah ditonjolkan dalam produk UMKM di acara Car Free Day, yang dihadiri sejumlah tokoh mulai Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi hingga Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

“Jadi, produknya sudah dicicipi bermacam-macam tokoh, minimal sudah dikenal ada produk ini. Kami juga persiapan maju PIRT. Kelemahannya produksinya terbatas, tergantung bahan baku,” Sri Suhartini. (*/aro)

Tinggalkan Balasan