alexametrics


Hijaukan Lahan di Rembang dan Kendal, Ikut Konservasi Pohon Langka

Komitmen PT Semen Gresik dalam Pelestarian Lingkungan Hidup (1-Bersambung)

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID, – Sejak awal beroperasi 2,5 tahun lalu, PT Semen Gresik Pabrik Rembang sudah memprioritaskan konsep pembangunan industri yang selaras dengan kelestarian lingkungan hidup. Dan hal itu benar-benar dipraktikkan dalam berbagai aktivitas perusahaan persemenan terkemuka ini. Area tambang tanah liat dan batu kapur yang dulunya kering dan tandus kini terlihat lebih hijau berkat penghijauan di kawasan green belt (sabuk hijau) Semen Gresik.

Farruq Ferdian, 48, menghirup udara dalam-dalam saat beraktivitas di kawasan green belt PT Semen Gresik yang ada di wilayah Desa Pasucen dan Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang. Pelan-pelan, ia menghembuskannya melalui rongga hidung dan mulut. Hal itu diulanginya hingga beberapa kali. Setelah itu, lelaki paruh baya warga Desa Timbrangan ini melanjutkan aktivitasnya merawat berbagai pohon yang ada di kawasan sabuk hijau itu.

“Udara di sini bersih dan segar. Pemandangannya juga lebih hijau dibanding beberapa tahun lalu,” kata Dadang – panggilan akrab Farruq Ferdian, Senin (20/1).

Kawasan green belt Semen Gresik Pabrik Rembang luasnya mencapai 19,8 hektare. Sabuk hijau dengan lebar 50 meter itu mengelilingi area tambang batu kapur dan tanah liat. Sejak 2017 – 2019, Semen Gresik mengucurkan anggaran Rp 5,2 miliar untuk penanaman hingga perawatan berbagai jenis pohon di kawasan sabuk hijau itu. Bahkan pada 2020, anggarannya naik menjadi Rp 2,6 miliar. Saat ini, di kawasan sabuk hijau itu, sudah tertanam sekitar 22.464 pohon dari berbagai jenis, baik pohon keras maupun buah-buahan dengan tinggi antara 1,6 meter – 1,75 meter. Mulai dari jati, mahoni, strembesi, sengon, johar, kesambi, sukun, sawo, nangka, mangga, kelengkeng, hingga pohon bambu yang berfungsi sebagai penahan longsor.

Dulu, kata Dadang, area tambang tanah liat dan batu kapur Semen Gresik merupakan ladang jagung tadah hujan. Dalam setahun hanya sekali ditanam dan sekaligus dipanen. Saat musim kemarau, ladang itu tandus, kering dan dibiarkan terbengkalai. Oleh karena itu, menurut Dadang, upaya penghijauan yang dilakukan Semen Gresik sangat bermanfaat. Tidak sekadar membuat lahan tandus menjadi hijau, namun juga menambah cadangan oksigen serta air bawah tanah. “Yang pasti upaya ini bermanfaat untuk manusia maupun makhluk lainnya,” jelasnya.

Koleksi tanaman green belt akan bertambah pada Januari ini. Sebab, pohon cendana (santalum album) khas Rembang yang ditangkarkan Dadang sudah siap ditanam di area sabuk hijau. Dulu, pohon cendana khas Rembang ini banyak terdapat di kawasan hutan Desa Dowan, Kecamatan Gunem. Awal era reformasi, pohon cendana itu banyak dijarah pihak-pihak tak bertanggung jawab. Sehingga pohon penghasil kayu cendana dan minyak atsiri di kawasan hutan Desa Dowan itu menjadi langka. “Ini salah satu ikhtiar untuk konservasi pohon langka di Rembang,” ujarnya.

Kepala Departemen Komunikasi dan Hukum PT Semen Gresik Gatot Mardiana mengatakan, upaya penghijauan yang dilakukan jajarannya tak hanya di kawasan area tambang saja, namun juga berbagai titik lainnya. Mulai dari kawasan pintu masuk, jalan produksi, area Masjid Al Hikam, gedung CCR dan titik lainnya lahan yang dihijaukan seluas 1,84 hektare dengan 11.450 pohon keras. Selain itu, upaya penghijauan juga dilakukan di berbagai lokasi di Kabupaten Rembang. Beberapa di antaranya seperti penanaman 1.000 pohon di Pantai Nyamplung Indah saat peringatan Hari Bumi Sedunia 22 April 2019. Lalu ribuan pohon di Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang, dan Desa Langgar, Kecamatan Sluke hingga kawasan sekolah serta pondok pesantren yang ada di Kota Garam.

Tak hanya itu, Semen Gresik juga melakukan upaya penghijauan di lahan pengganti kawasan hutan yang dipakai untuk area tambang dan tapak pabrik Rembang. Lahan Tukar Menukar Kawasan Hutan (TMKH) dan Izin pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) itu terletak di Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal.

Untuk TMKH lahan yang dipakai 58 hektare dan Semen Gresik menggantinya 125 hektare. Sedang lahan IPPKH yang digunakan 131 hektare dan Semen Gresik menggantinya seluas 274 hektare. Setelah dilakukan pemetaan dan pendataan, dari 125 hektare, ada 56 hektare lahan TMKH yang harus dihijaukan. Sedang dari 274 hektare lahan IPPKH, lahan yang harus dihijaukan seluas 155 hektare. Proses penghijauan lahan pengganti ini sudah dilakukan sejak Desember 2018. Di lahan tersebut sudah ditanam berbagai jenis pohon mulai dari Kaliandra, sengon hingga durian. Selain itu, di sela-sela pepohonan itu juga ditanam kopi. Dan jika tidak ada kendala, berbagai pohon yang sudah ditanam Semen Gresik itu siap diserahterimakan kepada jajaran Perhutani pada Desember 2021.

“Jadi kalau ditotal selama beberapa tahun terakhir, Semen Gresik sudah melakukan penghijauan ratusan hektare lahan yang tandus dan kritis. Ini sudah dan akan terus kita lakukan,” tandas Gatot Mardiana.

Upaya penghijauan dan konservasi pohon langka bukan hal baru bagi jajaran Semen Indonesia Grup. Salah satu contohnya bisa dilihat di kawasan eks tambang Semen Gresik di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur. Lahan pascatambang seluas 187,66 hektare ini disulap menjadi hutan produktif dan kawasan konservasi 10 jenis pohon langka, seperti damar, gaharu, ulin, duwet serta lainnya. Saat ini, eks tambang Tuban 1 sudah menjadi hutan. Bahkan lebih hijau dari saat sebelum ditambang. Lokasi eks tambang itu berubah menjadi “Arboretum Bukit Daun Hutan Koleksi dan Konservasi” yang menjadi destinasi wisata baru warga Tuban dan sekitarnya.
“Arboretum Bukit Daun Hutan Koleksi dan Konservasi yang ada di Tuban ini juga kita diterapkan di Rembang. Bahkan dengan konsep yang lebih baik lagi. Tuban adalah gambaran masa depan Rembang,” tandas Gatot Mardiana. (bersambung/aro)

Terbaru

Fadia Baca Semua Aduan Warga

Tempat Ibadah Harus Taat Prokes

Bentuk Jaringan Kerja Bantu Warga Isoman

Beri Dukungan sekaligus Serap Masalah PKL

Populer

Lainnya