UIN Walisongo Tambah 10 Guru Besar Baru

336

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang bertekad menambahkan jumlah guru besar lebih banyak lagi. Hal tersebut untuk meningkatkan indikator proses karir di kampus berjas hijau ini.

Rektor UIN Walisongo Prof Imam Taufiq menuturkan, saat ini kampusnya masih kekurangan guru besar. Pasalnya, jumlah guru besar yang harus dimiliki suatu kampus minimal harus sama dengan jumlah program studi (prodi) yang dimiliki. Dengan jumlah total 47 prodi, saat ini pihaknya baru memiliki 27 guru besar. Masih jauh dari kata ideal.
“Kami masih kurang banyak guru besar. Terutama di fakultas dan prodi baru,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Kampus 3 UIN Walisongo, Rabu (8/1) kemarin.

Dirinya menargetkan tahun ini kampusnya dapat mencetak 10 guru besar baru dari berbagai fakultas. Pihaknya akan memberikan fasilitas untuk memudahkan hal tersebut. Antara lain dengan mengintensifkan klinik penulisan jurnal bereputasi dan memberikan apresiasi berupa uang tunai bagi karya tulis yang dapat diterbitkan. Selain itu, mengurangi beban mengajar sementara bagi para doktor yang hampir menuntaskan proses menjadi guru besar.

“Kami dorong para doktor yang jumlahnya lebih dari 100 orang dengan pangkat sudah 3b dan 3c untuk bisa menjadi guru besar. Saya rasa, ini cukup mudah mengingat saat ini banyak doktor yang masih berusia muda, sehingga lebih mudah membuat karya tulis bereputasi internasional,” pungkasnya.

Sementara itu, UIN Walisongo kembali menambah guru besar ke–27 dengan mengukuhkan Prof Musahadi sembagai guru besar Ilmu Hukum Islam. Dirinya menyampaikan pidato ilmiah mengenai “Fikih Prasmanan (Mencermati Disrupsi di Bidang Hukum Islam). Ayah empat anak tersebut menyoroti tentang kemudahan mengeksplorasi pengetahuan fikih lintas mazhab dan genre dari internet yang ada saat ini. “Saat ini banyak orang menjadi santri dari kiai Google. Mau tidak mau, suka tidak suka, ini memang terjadi di era digitalisasi saat ini,” ujarnya.

Melihat hal terseut, dirinya mengingatkan pentingnya peran para guru dan kiai untuk tetap memberikan bimbingan keagamaan. Meskipun disajikan berbagai menu fikih yang banyak (prasmanan), masyarakat dapat selektif dan terhindar dari pengaruh negatif.

“Kita harus bisa selektif menerima fikih yang disajikan prasmanan tersebut. Karna tanpa bimbingan yang benar, bukanya mengikuti syariat, justru bisa terpapar paham terorisme yang saat ini marak,” pungkasnya. (akm/ida)