Ada 32 Kampung Tematik Tak Optimal

Bunyamin: Pemkot akan Lakukan Pendampingan

217
“Kita akan terus lakukan pendampingan untuk kampung-kampung yang tidak aktif, supaya dapat menemukan potensi mereka.” Bunyamin, Kepala Bappeda Kota Semarang
“Kita akan terus lakukan pendampingan untuk kampung-kampung yang tidak aktif, supaya dapat menemukan potensi mereka.” Bunyamin, Kepala Bappeda Kota Semarang

RADARSEMARANG.ID SEMARANG –Puluhan kampung tematik yang sudah tidak aktif diminta untuk dikaji ulang. Pasalnya, kampung-kampung tematik itu hanya memajang papan nama saja, namun kegiatannya tidak ada. Sejumlah kampung tematik yang vakum, di antaranya Kampung Jahe di Kelurahan Pleburan dan Kampung Keripik Sukun di Kelurahan Peterongan. Tercatat, sedikitnya 32 kampung tematik di 16 kecamatan yang ditengarai tidak optimal.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Mualim mengatakan, selama ini masih banyak kampung tematik yang akhirnya terjebak dalam pemaksaan diri. Misalnya, menentukan tema tertentu, namun tidak didasari dengan kajian budaya, kebiasaan warga, atau sejarah tentang kampung tersebut. “Akhirnya ada yang tidak aktif dan itu harus dievaluasi kembali,” katanya.

Meski begitu, ada pula kelurahan yang menunjukan hasilnya menjadi semakin indah, nyaman, dan berkembang dengan konsep kampung tematik ini. Misalnya, Kampung Pelangi di Kelurahan Randusari, Semarang Selatan. Meski sudah berjalan, Pemkot Semarang diminta tidak boleh lepas tangan begitu saja. Harus ada pembinaan yang dilakukan terus menerus dengan melibatkan sejumlah OPD terkait.

“Dewan tentu akan terus mendorong program kampung tematik, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Politisi Partai Gerindra ini.

Dikatakan, pembentukan kampung tematik harus disesuaikan dengan potensi yang ada saja. “Kalau memang ada potensi dan layak dikembangkan, kelurahan tersebut bisa ikut program kampung tematik,” tandasnya.

Seperti diketahui, program kampung tematik merupakan inovasi Pemkot Semarang untuk mengatasi permasalahan pemenuhan kebutuhan dasar. Khususnya, pada peningkatan kualitas lingkungan rumah tinggal warga miskin dan prasarana dasar permukiman. Kampung tematik merupakan titik sasaran dari sebagian wilayah yang melakukan perbaikan dengan memperhatikan beberapa hal. Di antaranya mengubah kampung kumuh menjadi tidak kumuh, serta peningkatan penghijauan wilayah. Juga pelibatan masyarakat secara aktif, perbaikan kondisi lingkungan menjadi lebih baik, dan mengangkat potensi sosial serta ekonomi masyarakat pada wilayah tersebut.

Di Kota Semarang sudah bermunculan kampung-kampung tematik baru. Ada beberapa kampung yang mencoba menawarkan kekhasannya tersendiri. Di antaranya, Kampung Lunpia di Kelurahan Kranggan; Kampung Pelangi di Kelurahan Randusari; Kampung Batik di Kelurahan Rejomulyo; Kampung Mangut di Kelurahan Mangunharjo, dan sejumlah kampung tematik lain.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang Bunyamin mengakui jika masih ada kampung tematik yang kurang optimal atau tidak aktif. “Setiap kecamatan ada, bahkan ada yang lebih dari satu kelurahan,” ujar Bunyamin.

Jika di satu kecamatan saja ada dua kampung tematik yang tidak aktif, maka setidaknya ada total 32 kampung tematik tidak aktif. Sementara itu APBD yang digelontorkan untuk membiayai satu kampung tematik tidak sedikit. Di 2020 ini saja, lanjut dia, dari 32 kampung tematik yang baru dibentuk, masing-masing titik dianggarkan Rp 200 juta. “Ada 32 kampung tematik baru di 2020 ini,” ujarnya.

Di dalam kampung tematik tersebut, kata dia, pihak Bappeda hanya membuatkan embrio. “Jika sudah jadi, kita serahkan ke pihak terkait, misalnya jika itu pariwisata ya ke Disbudpar. Kalau UMKM ya ke Dinas Koperasi dan UMKM,” katanya.
Untuk kampung tematik yang tidak berkembang atau mati, kata dia, pemkot akan terus melakukan pendampingan. “Kita akan terus lakukan pendampingan untuk kampung-kampung yang tidak aktif, supaya dapat menemukan potensi mereka,” ujarnya. (ewb/aro)