Empat Poin untuk Pengembangan UMKM

95
TUGAS BARU: Sebanyak 41 kepala Desa (Kades) terpilih gelombang II masa periode 2019-2025 dilantik oleh Bupati Batang Wihaji, di Pendopo Kantor Bupati Kamis (27/12). (ISTIMEWA)
TUGAS BARU: Sebanyak 41 kepala Desa (Kades) terpilih gelombang II masa periode 2019-2025 dilantik oleh Bupati Batang Wihaji, di Pendopo Kantor Bupati Kamis (27/12). (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengingatkan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk memperhatikan unsur bahan baku, pengemasan (packaging), pemasaran dan kontinyuitas dalam melangsungkan usahanya.

Hal ini, menurut perempuan yang akrab disapa Mbak Ita ini, supaya performa dan kondisi UMKM di Kota Semarang semakin kuat dan bisa berperan dalam program pengurangan kemiskinan.

“Yang utama, bahan baku produk, packaging, kemudian pemasaran dan kontinyuitas. Kemudian di backup pelaku sektor Perbankan dan teman-teman OPD, nanti kemiskinan akan berkurang,” ujar Ita dalam pengukuhan pengurus Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) 2019 di ruang Lokakrida lantai 8, Balai Kota Semarang Kamis (26/12).

Ita membeber, Kota Semarang telah melampaui target dalam menurunkan kemiskinan. Target 2019 turun menjadi 4,1 persen warga miskin. Namun hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) penurunan di angka 3,29 persen. “Alhamdulillah turun 3,29 persen,” tegas Ita.

Selain mendorong pengurangan kemiskinan, UMKM juga mendorong kemajuan pariwisata, serta peningkatan ekonomi. “Kota Semarang nomor ke 23 dari 35 kabupaten/kota dari pembentukan tim ini. Meski sedikit terlambat pembentukannya tapi gasse sing paling pol. Apalagi UMKM nantinya akan jadi anak emas bagi pembangunan di Indonesia,” jelasnya.

Prioritas pembentukan tim TPKAD ini adalah memperkuat sinergitas antara pemerintah dan steakholder. Termasuk Perbankan. Sehingga sektor UMKM ini akan menjadi sektor unggulan dan tidak akan mati.

“Tapi saya ingatkan, UMKM ini kadang-kadang ada kelemahannya. Utamanya kontiynuitas. Ojo pas dagangane laku keras, UKMme tutup, alesane boyok e loro (Jangan saat dagangannya laku keras, UMKnya utup. Alasannya punggungnya sakit). Kalau yang ibu-ibu ngurusin suami, ngurusin anak. Kalau UMKM ingin besar berkembang, yang pertama bahan baku, sudah ada,” bebernya.

Kemudian masalah kemasan. Harus bisa semenarik mungkin. Selain itu Ita juga menekankan pentingnya strategi pemasaran produk. Harus dilakukan di tempat-tempat strategis secara offline. Serta dengan cara memasarkan melalui e-comerce secara online agar menembus pasar yang semakin luas.

“Barangnya bagus tapi tidak dijual di tempat yang bagus dan strategis, percuma. Tapi sekarang memakai pemasaran online dan offline,” ujarnya.
Manajemen keuangan, juga disinggung oleh Ita sangat penting dilakukan. Apalagi dalam mengelola UMKM, pihak Perbankan juga akan terlibat penuh dalam unsur permodalan. (*/zal)