Keuskupan Kagumi Payung Besar MAJT

380
BINA TOLERANSI: Rombongan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Indonesia terkesan dengan kemegahan MAJT. (ISTIMEWA)
BINA TOLERANSI: Rombongan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Indonesia terkesan dengan kemegahan MAJT. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG -Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Indonesia mengagumi megahnya payung Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Rombongan berjumlah 17 orang dari berbagai provinsi itu riuh bertepuk tangan ketika enam payung hidrolik MAJT dimekarkan.

Rombongan tersebut bersal dari Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Wali Gereja Indonesia. Guna menjalin tali persaudaraan lintas iman, mereka mengunjungi MAJT, Selasa (17/12). Rombongan didampingi Ketua FKUB Jateng Taslim Sahlan, diterima Wakil Ketua PP MAJT Prof H Edi Noersasongko bersama Sekretaris KH Muhyiddin, Wakil Sekretaris KH Istadjib AS, dan KH Marom dan para koordinator–sekretaris bidang PP MAJT.

Selain itu, rombongan juga menyaksikan Alquran Raksasa di ruang utama MAJT, koleksi museum perkembangan Islam di Jawa. Bahkan pimpinan rombongan Mgr Harun Yuwono menyempatkan memukul beduk raksasa. Mereka juga menyaksikan keindahan Kota Semarang lewat teropong di lantai 19 Menara Al-Husna MAJT.

Sikap ramah yang ditunjukkan para Pengelola Pelaksana (PP) MAJT, juga sangat mendapatkan hati tersendiri dari para rombongan. Sekum PP MAJT KH Muhyiddin, menyatakan jika sikap tulus, ramah penuh persaudaraan tersebut cermin kebesaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin. “Lewat dakwah ini, maka PP MAJT membuka seluas-luasnya kerja sama dengan siapa pun guna menyemai nilai-nilai rahmatan lil alamin,” tegas Muhyiddin.

Pada kesempatan tersebut, Muhyiddin sangat bangga memperkenalkan MAJT sebagai pusat peribadatan dan peradaban Islam dunia yang berciri ahlussunah wal jamaah (wasathiyah). Imbuhnya, reputasi MAJT kini telah merambah ke kancah internasional. “MAJT mengaktifkan dakwah dan menjunjung peradaban dunia lewat nilai-nilai kemajemukan dan persaudaraan dalam konteks sesama muslim, sesama bangsa  dan sesama manusia,” ucapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam kunjungan itu, mereka juga berdiskusi mengenai pluratitas yang menjadi khasanah Indonesia terutama dalam konteks berbangsa dan bernegara. Termasuk problem yang dihadapi rakyat Papua akhir-akhir ini.

“Dalam konteks konflik Papua, tersimpulkan kunci penyelesaian ada pada tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk mampu mengarahkan umat agar dapat bersikap propoorsi dan tidak terpengaruh provokasi,” pungkasnya. (yan/hid/ida)