Tambahan Kantong Parkir Kota Lama Mendesak

325
MASIH SEMRAWUT : Di samping Gedung Marba dan belakang Gedung Spiegel digunakan untuk titik parkir liar. Kota Lama membutuhkan lebih banyak kantong parkir sangat.(EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MASIH SEMRAWUT : Di samping Gedung Marba dan belakang Gedung Spiegel digunakan untuk titik parkir liar. Kota Lama membutuhkan lebih banyak kantong parkir sangat.(EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Penyediaan tambahan kantong parkir bagi para wisatawan di Kota Lama Semarang semakin mendesak. Tentunya, rencana Pemkot Semarang membuka kantong parkir di Kota Lama harus segera direalisasikan. Apalagi, saat ini banyak bermunculan titik-titik parkir liar di Kota Lama, seperti di Gang Kedasih, gang samping kantor Jiwasraya dan masih banyak lagi.

Kurangnya kantong parkir, menyebabkan beberapa pengunjung resah ketika hendak memarkirkan kendaraannya. Widyanto Saputro, 26, pengunjung Kota Lama asal Kecamatan Mijen menuturkan jika dirinya harus merogoh kocek sampai Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu untuk satu kali parkir. “Si juru parkir (jukir) juga tidak memberikan kami karcis resmi, hanya ditarik uang saja,” ujarnya, Sabtu (14/12).

Pantauan di lapangan, kini ada puluhan titik parkir yang beroperasi dan menarik tarif parkir tanpa mengindahkan kebijakan Pemkot Semarang. Baik yang berada di area lapang berupa kantong parkir dengan petunjuk lokasi, hingga yang ada di gang-gang kecil yang dikelola seadanya. Di pusat Kawasan Kota Lama saja ada beberapa titik parkir yang bisa dijumpai.

Seperti di samping kanan dan kiri Taman Srigunting, di gang kecil dekat Spiegel Bar Bistro, begitu pula dengan sepanjang jalan bekas area Pasar Padangrani. Gang kecil seberang Gereja Blenduk atau Jalan Suari serta Jalan Gelatik (gang samping Gedung Marba) juga tak luput dari penguasaan juru parkir.

Sama halnya dengan Jalan Garuda dekat Galeri Industri Kreatif Semarang. Bahkan saat ada event hiburan di Kota Lama Semarang, banyak jukir liar yang memasang tarif selangit. Untuk sepeda motor saja banyak yang ditarik parkir hingga Rp 5 ribu.

Seiring dengan penataan kawasan Kota Lama, lahan parkir memang menjadi persoalan serius dalam upaya menyedot wisatawan berkunjung ke kawasan cagar budaya tersebut. Titik parkir kian banyak bermunculan.

Bahkan jalur pedestrian yang dibangun untuk akses bagi para pejalan kaki (pedestrian) juga tak luput dari para juru parkir untuk mangambil keuntungan di sana. Khususnya saat akhir pekan, ketika para wisatawan mulai ramai mengunjungi Kota Lama Semarang.

Seperti di Jalan Letjen Suprapto, beberapa oknum juru parkir (jukir) memanfaatkan jalur pedestrian untuk dijadikan sebagai lahan parkir. Seorang pengunjung Kawasan Kota Lama yang lain, Adi Wijayanto, 30, mengaku terganggu dengan banyaknya titik parkir yang memanfaatkan jalur pejalan kaki. Hal ini membuat Kota Lama terkesan semrawut.

“Apalagi para jukir ini tidak memberikan karcis kepada para pengunjung. Harus ada upaya penataan parkir di kawasan Kota Lama Semarang agar kawasan ini lebih aman dan nyaman bagi pengunjung,” katanya.

DPRD Kota Semarang pun mendorong Pemkot Semarang segera menyelesaikan penataan kawasan Kota Lama. Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman mengakui kondisi Kota Lama yang masih semrawut.

Lantaran parkir belum tertata secara keseluruhan dan masih adanya pedagang kaki lima (PKL), pengamen, maupun pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT) yang justru dapat memberikan efek negatif terhadap pengelolaan kawasan. “Selain itu, kesemrawutan juga dapat menimbulkan kerawanan bagi para pengunjung,” kata Pilus, sapaan akrabnya.

Sebenarnya, Dishub Kota Semarang telah menyiapkan tiga kantong parkir di kawasan Kota Lama. Ketiga kantong parkir tersebut dapat menampung sekitar 700 motor dan 500 mobil. Namun hingga kini, tiga kantong parkir tersebut belum resmi beroperasi, sehingga pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor parkir di Kota Lama Semarang belum bisa masuk ke kas daerah.

Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Danang Kurniawan mengatakan bahwa kantong parkir tersebut akan ditempatkan di depan kantor pelayanan SIM Satlantas. Kemudian di Jalan Branjangan atau belakang Museum 3D, dan satu kantong lagi di Jalan Sendowo. “Nantinya di luar kawasan parkir itu tidak diperbolehkan untuk tempat parkir,” tutur Danang.

Sementara Kepala Dishub Kota Semarang, Endro P Martanto mengatakan penertiban parkir di kawasan Kota Lama terus dilakukan oleh jajarannya berserta pihak kepolisian. “Kami juga melakukan penindakan tilang terhadap kendaraan yang parkir di jalur pedestrian,” kata Endro.

Diakuinya, hingga saat ini praktik parkir ilegal memang masih marak di Kota Lama. Pemkot Semarang saat ini sedang melakukan persiapan terkait skema parkir kawasan Kota Lama. Beberapa kantong parkir baru sedang disiapkan untuk pengunjung dan untuk mengantisipasi menjamurnya parkir liar di tempat yang dilarang. (ewb/ida)