Disbudpar Fasilitasi Seniman dan Musisi Semarang

230
RUANG BERKESENIAN : Pelaku seni barongan di Semarang ketika beratraksi di depan Gedung Pandanaran Semarang, Rabu (4/12) malam. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RUANG BERKESENIAN : Pelaku seni barongan di Semarang ketika beratraksi di depan Gedung Pandanaran Semarang, Rabu (4/12) malam. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang memfasilitasi pelaku seni Semarang. Terbaru dengan memberikan ruang kepada pentas seni budaya setiap Rabu malam di halaman Gedung Pandanaran.

Mengangkat tema ‘Seng Penting Guyub’, pentas Rabu (4/12) malam lalu menampilkan kelompok seni barongan Watu Lumbung. Selain itu juga kesenian campursari, serta talk show dengan narasumber dalang kondang Ki Joko Edan Hadiwidjoyo. “Event ini merupakan panggung bagi komunitas atau pelaku seni di Semarang untuk tampil. Disbudpar memberikan ruang kepada para pelaku seni untuk bisa berkembang,” kata Kepala Disbudpar Kota Semarang, Indriyasari.

Kepala Dinas yang akrab disapa Iin ini menjelaskan, ruang bagi pelaku seni budaya ini rutin diselenggarakan pada Rabu minggu pertama dengan tema tradisonal dan Rabu minggu ketiga dengan tema modern. Menurut dia, adanya pertunjukan seni budaya di Gedung Pandanaran yang letaknya persis di pusat kota dan ikon Kota Semarang yakni Lawang Sewu dan Tugu Muda, diharapkan bisa menjadi magnet untuk wisatawan.

“Semarang saat ini menjadi jujukan wisata, harapan kami bukan hanya saat weekend saja wisatawan datang dan menikmati Semarang. Namun di hari biasa juga ada hiburan gratis yang ditampilkan rutin untuk menghibur wisatawan yang datang,” paparnya.

Selain pelaku seni budaya, Disbudpar Kota Semarang juga memberikan ruang kepada musisi Semarang dengan konsep ‘urban street music’, di Halaman Balai Kota Semarang setiap Jumat malam. “Pemkot juga mengakomodasi musisi di Semarang, setiap Jumat malam temanya berbeda dari genre musik-musik yang ada di Semarang. Juga menjadi destinasi wisata baru bagi wisatawan ataupun masyarakat Semarang,”tambahnya.

Sementara itu, pelaku seni yang juga dalang Ki Joko Edan menerangkan, wadah yang diberikan Pemerintah Kota Semarang ini harus dimanfaatkan oleh pelaku seni sebaik mungkin untuk berkreasi dan berinovasi. “Saya pribadi siap mendukung, jadi selain nguri-uri budaya, ada konsep edukasinya juga, dan bisa menjadi magnet bagi wisatawan untuk datang ke Semarang,” katanya.

Menurut dia, selain pertunjukan seni budaya, acara yang dikemas dengan obrolan ringan ini bisa memberikan edukasi kepada masyarakat terkait budaya yang ada di Semarang sebagai ajang pembelajaran. “Ada wayang orang, campur sari, barongan, dan lainnya ini juga harus dikenalkan kepada generasi muda, serta bagaimana membawa Semarang maju dalam bidang seni,” paparnya.

Ia mencontohkan, magnet Solo dan Jogja yang menjual kesenian, ternyata terbukti bisa mendatangkan wisawatan. Joko Edan berharap, Kota Lama yang merupakan ikon wisata baru di Semarang, bisa digarap dan berkolaborasi dengan pelaku seni. “Kalau dikolaborasikan sangat bagus, kita bisa jual seni budaya di Kota Lama sebagai atraksi untuk mendatangkan wisatawan,” jelasnya. (*/den/ton)