Situs Kuno Sendangguwo Harus Diselamatkan

337
MASIH MISTERI: Lurah Sendangguwo Agustinus Kristyono menunjukkan batuan candi berbentuk lumpang yang teronggok di tepi jalan di wilayahnya. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MASIH MISTERI: Lurah Sendangguwo Agustinus Kristyono menunjukkan batuan candi berbentuk lumpang yang teronggok di tepi jalan di wilayahnya. (RIYAN FADLI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Empat titik situs di Kelurahan Sendangguwo, Tembalang, Semarang memerlukan perhatian lebih dari dinas terkait. Pasalnya, situs itu ada yang sengaja dikubur di bawah lantai Masjid Al-Hikmah Jalan Salak II. Ada juga batuan kuno yang telah diambil warga untuk dijadikan pondasi rumah.

Tri Subekso, salah satu arkeolog yang pernah meneliti situs-situs kuno itu mengatakan, batuan itu perlu diamankan agar suatu saat dapat diteliti lebih dalam. Sebab, batuan itu merupakan data arkeologi.

“Karena itu bagian dari jejak peradaban dan kaitannya dengan undang-undang cagar budaya. Sebisa mungkin harus diselamatkan dari kerusakan dan kehancuran. Itu yang akan menjadi PR bagi dinas terkait,” katanya kepada Jawa Pos radar Semarang, Rabu (2/12).

Ia mengakui masih minim data untuk bisa menyimpulkan situs kuno di Sendangguwo sebagai bangunan pemujaan. Penelitian yang dilakukan masih sebatas di permukaan, ukuran, dan juga lokasi titik sebaran temuan. Belum sampai pada penggalian dan penelitian yang lebih intens.

“Yang di bawah masjid, saya kurang tahu itu ada candinya atau tidak. Tapi yang jelas, temuan struktur candi di sana adalah bagian dari pemujaan. Pada zaman klasik bangunan pemujaan itu tidak cuma berupa candi, tapi bisa juga berupa batuan dan dinding kanan kiri. Titik pemujaannya pada lingga yoni,” tuturnya.

Di Kelurahan Sendangguwo, menurutnya, adalah sebuah permukiman di masa kuno. Ditandai dengan adanya bangunan-bangunan suci di sana. Adanya watu lumpang yang ditemukan di sana juga sebagai pertanda. “Saya kira eman-eman kalau tidak bisa dikaji lebih lanjut,” katanya.

Berbeda dengan mitos yang ada di warga sekitar bahwa temuan batu bata kuno di area Makam Padukuhan adalah bakal Masjid Agung Demak yang batal dibangun. Sebagai arkeolog, ia menduga bahwa batu bata kuno itu merupakan batuan candi dari masa Mataram kuno. Era periode klasik di abad 8-15 Masehi.

Sebelumnya, mitos yang beredar di area makam itu adalah tempat yang akan dibangun Masjid Agung Demak. Pembangunannya dilakukan secara gaib seperti pada kisah pembangunan Candi Prambanan. Dilakukan dalam waktu semalam, namun gagal lantaran, terdengar suara orang sedang menyapu di tengah malam.

“Bentuknya batu bata merah besar, itu identik dengan batu bata masa Mataram kuno. Bisa dibandingkan dengan Candi Duduhan di Mijen, Semarang.  Itu sangat mirip sekali dengan bentuk dan ukurannya. Juga sangat mirip dengan temuan di Cebokoh, Kedungpane. Di Semarang kan juga ada beberapa titik temuan candi yang punya karakter dari batu bata,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, di area Makam Padukuhan terdapat candi yang diperkirakan memiliki ukuran  saperti di Gedung Songo. “Jadi, candinya tidak besar. Bandingannya sama seperti temuan candi di Mijen. Ukurannya 9.3×9.3 meter, di sana menggunakan struktur bata yang sama dengan di Sendangguwo,” tandas Tri Subekso.

Lurah Sendangguwo Agustinus Kristyono mengakui, saat ini Kapolrestabes Semarang akan menindaklanjuti situs-situs kuno tersebut. “Sementara, saat ini kapolrestabes mau membantu memfasilitasi kaitannya dengan surat izin penggalian situs itu,” ujarnya.(yan/aro)