Pertanian Modern Tingkatkan Produksi Kini Petani Milenial Punya Peranan

190
ILUSTRASI
ILUSTRASI

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Modernisasi pertanian dinilai sebagai langkah tepat untuk menghadapi jumlah lahan pertanian yang kian menyusut. Terbukti, dengan jumlah lahan yang terus berkurang, jumlah produksi pertanian di Jawa Tengah justru semakin meningkat.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Suryo Banendro mengatakan bahwa saat ini jumlah lahan pertanian di Jawa Tengah adalah sebesar 1,002 juta hektare. Dengan total luas lahan tersebut, petani bisa memproduksi 9,8 juta ton gabah kering giling atau 6,9 juta ton beras. Berbeda di tahun 2014, dengan jumlah lahan pertanian mencapai 1,8 juta hektare petani hanya mampu memproduksi 9,6 juta ton gabah kering giling.

”Dengan modernisasi pertanian, tahun 2014 petani hanya bisa menghasilkan 5,3 ton gabah kering giling per hektare. Saat ini dengan luas lahan yang menurun, malah bisa memproduksi 5,8 ton per hektare,”  ujarnya di Semarang.

Modernisasi pertanian ini, dikatakan Suryo, di antaranya dilakukan dengan memanfaatkan bibit unggul, pupuk, dan penggunaan alat mesin pertanian. Saat ini, total alat mesin pertanian di Jawa Tengah sebanyak 447.192, terdiri atas 14 item. Di antaranya mesin transplanter sebanyak 1536 unit, power weeder 1242, power teaser 13.487, dryer 440, dan RMU sebanyak 20.494.

”Selain semua hal itu, penerapan pertanian modern juga dengan digitalisasi sistem pertanian. Ternyata dengan itu semua menjadi lebih efektif. Selisih panennya sangat banyak,” ujarnya.

Dalam penerapan pertanian modern, peran petani milenial dinilai sangat besar. Di Jawa Tengah, jumlahnya ada sebanyak 975 ribu atau 33,7 persen dari total petani keseluruhan. Ditambah 2 persen atau 57.600 petani milenial berpendidikan sarjana.

Ia mengatakan, perhatian pemerintah terus diberikan kepada para petani milenial ini untuk ditingkatkan kualitasnya. Tahun ini ada 2000 petani milenial, mulai dari kelompok tani hingga para santri, diberikan pelatihan penerapan sistem pertanian modern.

”Sebanyak 2000 orang itu, konsen pada 22 komoditi di antaranya holtikultura, tanaman pangan hingga perkebunan, utamanya kopi. Semuanya menggunakan sistem pertanian modern. Mulai dari tanam sampai penjualan,” ujarnya di Semarang.

”Kami kasih materi pengolahan kopi sampai e-commerce. Penjualan secara online. Tahun depan target pelatihan kita tingkatkan sampai 3000 petani,” imbuhnya. (sga/ida)