Duhh….Dekat Kantor Kecamatan Ngaliyan, Belasan ABG Mabuk Lem…

370

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Belasan anak laki-laki dan perempuan yang mayoritas masih di bawah umur diamankan aparat kepolisian, di daerah Kecamatan Ngaliyan, Senin (25/11) kemarin. Kala itu, mereka sedang bergerombol dan mabuk dengan alat lem alias ngelem. Pengamanan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolsek Ngaliyan, AKP R Yustinus.

Pengamanan tersebut dipicu oleh suara gaduh belasan bocah tersebut di sekitar kantor Kecamatan Ngaliyan yang berdampingan dengan Mapolsek Ngaliyan, sekitar pukul 04.00. Selanjutnya, mereka digelandang ke Mapolsek Ngaliyan, untuk pendataan dan pembinaan.

“Waktu itu, kami keluar patroli di sekitaran kantor. Ternyata ada kegaduhan di dekat kantor kecamatan. Setelah saya cek, ternyata ada belasan anak laki-laki dan perempuan, yang laki-laki sedang ngelem (mabuk). Terus saya bawa ke kantor,” katanya di Mapolsek Ngaliyan kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (25/11) kemarin.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang, belasan bocah laki-laki tersebut berinisial DDY, warga Karangnongko Wonosari; EEK, warga Ngaliyan; ES, warga Beringin Ngaliyan; AFR, warga Ngaliyan; MDC, warga Gunungpati; AP warga Tegalsari; dan NU, warga Bangkongsari. Kemudian bocah perempuan dari Ketapang Kendal, RNA, 16, dan warga Semarang yang meliputi FKA, 15; SA, 17; ANA, 15; NC, 14.

“Ada lima perempuan yang masih di bawah umur, mereka tidak ikut ngelem, hanya menemani nongkrong. Ada juga satu dari mereka yang sedang hamil, tapi ketika ditanya hamil berapa bulan tidak tahu,” bebernya.

Yustinus mengaku, merasa prihatin dengan pergaulan mereka. Meski demikian, mereka tetap mendapat pembinaan dan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi kembali. Selanjutnya, mereka dipulangkan ke orangtuanya masing-masing.

“Sangat prihatin, mereka itu masih berkeliaran jam 04.00 pagi. Padahal masih anak-anak. Sudah kami beri pembinaan, orangtuanya kami panggil untuk diberikan pengarahan,” tegasnya.

Lebih memprihatinkan lagi, kata Yustinus, belasan anak tersebut sudah drop out sekolah. Mereka selama ini kerap nongkrong di tepi jalan. “Istilahnya gerombolan anak Punk. Ada satu dari mereka laki-laki yang sudah dewasa. Tapi semua sudah kami pulangkan karena tidak ada unsur pidana,” jelasnya.

Meski demikian, kepolisian tidak segan-segan memberikan sanksi tegas manakala mereka kembali mengulangi perbuatannya kembali. Pihaknya berharap, masyarakat utamanya orangtua untuk terus memperhatikan pergaulan lingkungan anak-anaknya, utamanya yang masih di bawah umur atau pelajar. “Jangan sampai mereka terpengaruh narkoba. Dari pengakuan mereka, kebanyakan dari keluarga yang broken home,” pungkasnya. (mha/ida)