Keren, Alun-Alun Johar Dilengkapi Basement

460

RADAR SEMARANG.ID, SEMARANG–Penataan kembali kawasan Johar sebagai bagian dari sejarah Kota Semarang terus dilakukan. Landscape awal kembali dihidupkan, salah-satunya memunculkan kembali alun-alun yang sempat hilang karena perkembangan zaman. Hingga kini, progres pembangunan Alun-alun Johar sudah mencapai 62 persen. Ditargetkan, pembangunannya rampung akhir 2019 ini.

Plt Kepala Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang M Irwansyah mengatakan, jika dalam pembangunannya masih ada beberapa titik yang belum selesai. Seperti halnya pengaturan drainase, pengisian tanah, dan pemasangan rumput di dak atas alun-alun. “Konsepnya ada basement-nya,” ujar Irwansyah, Jumat (15/11).

Kemudian untuk basement, saat ini sudah rampung pembangunannya. “Dak segera diisi media tanah dan ditanam rumput, apalagi ini momennya pas yaitu musim penghujan,” katanya.

Hal lain yang masih belum dilakukan yaitu pemasangan lampu penerangan alun-alun. Meski begitu, ia optimistis jika pembangunan Alun-alun Johar ini akan selesai tepat waktu, akhir Desember 2019. Menurutnya, progres setiap tahapan dari pembangunan masih sesuai dengan jadwal.

Seperti diketahui, pagu anggaran pembangunan Alun-alun Johar sebesar Rp 30,3 miliar dari APBD Kota Semarang. Diharapkan alun-alun ini nantinya dapat berfungsi ganda sebagai fasilitas penunjang yang mampu mendukung keberadaan tempat-tempat di sekitar alun-alun. Seperti Bangunan Cagar Budaya (BCB) Pasar Johar, Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman, maupun ruang publik dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Bila berjalan maksimal, maka Alun-alun Johar tidak lagi hanya menjadi ruang publik terbuka. Diungkapkan Irwansyah, dalam proses pembangunan tahap II Alun-alun Johar ini kendala yang berarti yaitu saat proses pemasangan tiang pancang dan pembangunan basement.
Untuk air, semua akan terintegrasi dengan bagian dari kawasan Johar yang lain. Seperti Johar bangunan cagar budaya (BCB) dan Masjid Agung Kauman. Secara umum Johar ini sebenarnya kawasan budaya. Apalagi dahulunya di tempat tersebut terdapat pasar, di mana memiliki ruang terbuka yang luas seperti alun-alun.

Bahkan karena memiliki fasilitas yang beragam, Johar pernah dinobatkan sebagai pasar terbesar se-Asia Tenggara. “Kemudian waktu-waktu terakhir, alun-alun kan hilang. Saat ini, Pemkot Semarang menata kembali kawasan itu. Sehingga sebagian alun-alun bisa kita wujudkan lagi,” ujarnya.

Ia berharap ke depan masyarakat juga bisa benar-benar ikut menjaga bangnan dari alun-alun serta Pasar Johar. “Karena yang dibangun bukan hanya alun-alun saja. Namun juga pasar heritage, Johar baru, dan yang penting masyarakat datang ke sini bukan hanya yang mau jualan juga rekreasi,” katanya.

Melalui konsep tersebut, lanjutnya, pusat perekonomian kuno di Johar bisa moncer kembali. Karena geliat ekonomi yang tinggi, aktivitas di kawasan tersebut bisa hidup sampai 24 jam.

Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang Rukiyanto mengatakan, jika pembangunan Alun-alun Johar tersebut juga akan mendukung aktivitas Masjid Agung Kauman. “Dengan adanya alun-alun ini masjid agung lebih kelihatan. Banyak aktivitas yang dapat dilakukan di sana,” ujar politikus PDIP ini.
Ruki –panggilan akrabnya–juga mengatakan, dibangunnya ruang publik seperti Alun-alun Johar juga bisa dimanfaatkan untuk aktivitas budaya seperti Dugderan. “Termasuk kegiatan dugderan bisa kembali di sana,” tuturnya. (ewb/aro)