Veteran Berharap Mengajar Sejarah

295

RADARSEMARANG.ID,  SEMARANG – Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Semarang meminta pemerintah memberikan kesempatan bagi veteran untuk mengajar. Hal tersebut untuk memberikan siswa pelajaran mengenai sejarah bangsanya.

Ketua LVRI Kota Semarang, Herman Yosep Soedjani merasa prihatin. Saat ini pelajaran sejarah mulai dikesampingkan. Padahal kemerdekaan yang dinikmati sekarang lahir berkat sejarah yang panjang. Maka dari itu pihaknya mendorong Pemerintah Kota Semarang untuk memasukkan kurikulum sejarah dalam pembelajaran anak.

“Anak itu kan ingatannya masih kuat. Jadi lebih mudah menerima pelajaran sejarah daripada orang dewasa. Jadi mulai dari dini mereka harus diperkenalkan dengan sejarah bangsanya. Agar dikemudian hari dapat menghargai dan meneruskan jasa para pahlawan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga meminta pemerintah memberikan kesempatan kepada para veteran yang masih hidup untuk mengajar langsung. Daripada hanya membaca dari buku atau mendengarkan penjelasan guru. Penjelasan dari pelaku sejarah justru lebih efektif menyampaikan pelajaran sejarah ke anak. Sehingga mereka lebih mudah mencerna dan memahami sejarah bangsanya dari sudut pandang pelaku sejarah secara langsung.

“Mumpung kami masih ada, kami ingin menceritakan pengalaman kami ketika berjuang dulu. Saya yakin anak akan lebih tertarik dan cepat memahami daripada penjelasan guru mereka,” lanjutnya.

Menanggapi usulan tersebut, Ketua DPRD Kota Semarang Kadarlusman menyambut baik permintaan tersebut. Pihaknya meminta para veteran dapat menuliskan surat tertulis mengenai permintaan untuk dapat mengajar siswa di Semarang. Setelah itu pihaknya akan mencoba berkomunikasi dengan pihak terkait seperti Dinas Pendidikan. Untuk membahas mengenai mekanisme pelaksanaan di sekolah. Sehingga harapan para veteran untuk mengajar dapat terealisasi dengan segera.

“Ini merupakan angin segar bagi kami. Kami setuju para veteran bisa masuk dalam dunia pendidikan untuk memberikan pelajaran mengenai sejarah perjuangan mereka dulu kepada siswa. Sehingga dalam menerima pelajaran sejarah siswa tidak hanya dapat mengakses di museum saja, tapi juga dari pelaku sejarah langsung yang datang ke anak-anak,” tandasnya. (akm/zal)