alexametrics


Kekurangan ASN Tenaga Pendidikan dan Kesehatan

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Pengajuan formasi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk bidang pendidikan dan kesehatan oleh Pemkot Semarang tidak disetujui oleh Kementerian Pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN dan RB). Padahal jumlah tenaga kependidikan yang pensiun setiap tahunnya terus bertambah.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang Gunawan Saptogiri menuturkan, kebutuhan ASN guru bagi tingkatan PAUD/TK, SD, dan SMP, setiap tahun mencapai 800 orang. “Jumlah itu diperlukan untuk menggantikan guru pensiun dan menambahi kekurangan,” ujar Gunawan, Rabu (6/11).

Dari catatannya, Kota Semarang masih membutuhkan penambahan guru dalam lima tahun ke depan. “Bila bisa dipenuhi, maka kuota profesi guru akan aman. Kalau tidak bisa dipenuhi, maka akan berat,” tuturnya.

Seperti diketahui, jika di akhir 2019 nanti akan ada rekrutmen ASN oleh pemerintah pusat. Jumlah tenaga kependidikan pensiun yang besar membuat Disdik Kota Semarang khawatir tidak bisa menutup kebutuhan itu. Data Disdik Kota Semarang menyebutkan jika ASN guru dan tenaga pendidikan di Kota Semarang yang pensiun pada 2020 berjumlah 401 orang. Sementara untuk tenaga pendidik di Kota Semarang saat ini berjumlah 7.000 lebih orang. Sebanyak 3.000 guru merupakan non ASN. Selama tidak adanya kuota ASN dalam rekrutmen ASN 2019 nanti, kekosongan guru dan tenaga pendidikan kemungkinan akan diisi melalui jalur pemenuhan guru non ASN.

“Di 2019, kami merekrut 300 lebih guru SD non ASN. Jumlah itu masih kurang. Kami masih menunggu kuota formasi guru ASN dari KemenPAN dan RB. Hanya saja, kemungkinan pengajuan 800 orang tersebut sangat susah dipenuhi,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro (RSWN) Susi Herawati. Susi mengatakan, jika saat ini karyawan RSWN rata-rata merupakan dokter kontrak. “Kita masih membutuhkan pegawai dokter spesialis dan sub spesialis ASN,” ujar Susi.

Beberapa dokter spesialis yang masih dibutuhkan oleh RSWN antara lain dokter spesialis kemoterapi, onkologi, jantung, dan intervensi. “Jumlah kebutuhan sekitar 10 hingga 12 dokter spesialis. Kalau dokter umum hanya butuh empat formasi saja, untuk menjadi dokter jaga,” paparnya.

Pihaknya juga sudah mengajukan penambahan tenaga kesehatan, yaitu dokter ke KemenPAN dan RB. Namun sampai saat ini belum ada jawaban apakah usulan formasi tersebut diberikan atau tidak.

RSWN merupakan fasilitas kesehatan bertipe B. Hingga saat ini, tenaga kesehatan dan dokter ASN di RSWN berjumlah 407 orang dari keseluruhan pegawai mencapai 1.314 orang. Sebanyak 907 pegawai di antaranya merupakan non ASN, yang gajinya dibayar dari anggaran rumah sakit.

Dikatakan Susi, keberadaan dokter ASN, cukup mengurangi beban RSWN dalam pengeluaraan pembiayaan gaji. “Kalau dokter ASN, gajinya ditanggung Pemkot Semarang. Soalnya beban gaji dokter kontrak ini cukup berat,” katanya.

Beratnya beban RSWN tersebut ditambah dengan BPJS Kesehatan yang sampai saat ini belum dibayar. Dikatakan Susi, BPJS Kesehatan di RSWN masih memiliki tunggakan yang cukup besar, mencapai sekitar Rp 50 miliar lebih. (ewb/aro)

Terbaru

Populer

Lainnya