Wali Kota Upayakan Semarang Zero Stunting

201
TINGKATKAN GIZI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat memberikan pemaparan mengenai stunting di Kota Semarang dalam talkshow Sinau Bareng Gizi dan Stunting di balai kota. (Humas Pemkot Semarang)
TINGKATKAN GIZI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat memberikan pemaparan mengenai stunting di Kota Semarang dalam talkshow Sinau Bareng Gizi dan Stunting di balai kota. (Humas Pemkot Semarang)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Stunting masih menjadi tantangan di Indonesia. Tak terkecuali di Kota Semarang. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, prevalensi balita stunting tahun 2018 berada di angka 2,73 persen atau 2.708 anak. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan prevalensi balita stunting di Provinsi Jateng yaitu 34,3 persen dan prevalensi stunting nasional 30,8 persen atau 7,3 juta anak. Namun, kondisi ini harus tetap menjadi perhatian bersama dan tidak dapat disepelekan.

Hal itu disampaikan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka talkshow Sinau Bareng Gizi dan Stunting Kota Semarang di Balai Kota Semarang, belum lama ini.

Stunting terjadi akibat kekurangan gizi. Terutama pada saat 1000 HPK (hari pertama kelahiran). Dengan demikian pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan pada ibu hamil perlu mendapat perhatian. Hendi –sapaan akrab wali kota– menyampaikan bahwa tugas dan tanggung jawab kepada generasi emas untuk mendidik dan memberikan asupan gizi yang baik di 1000 hari pertama di kehidupannya, terutama ASI eksklusif sebagai upaya mencegah stunting.

“Ada dua faktor yang menyebabkan stunting. Pertama adalah faktor spesifik karena kekurangan gizi. Dan asupan makanan yang diberikan tak mendukung pertumbuhan tubuhnya. Misalnya, saat kondisi hamil, ibu tidak makan-makanan berprotein atau sayur-sayuran atau saat bayi, tidak diberikan ASI secara ekslusif. Kedua adalah faktor sensitif. Seperti kesehatan lingkungan dan penggunaan jamban yang baik,” jelas Hendi.

Ia menambahkan, bagi anak yang sudah telanjur stunting, dapat diberikan pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan, stimulasi pengasuhan dan pendidikan berkelanjutan. Kuncinya di seribu hari pertama, asupan gizi harus dicukupi. Upaya Pemkot Semarang untuk memperbaiki stunting salah satunya dengan rumah pelangi di wilayah Banyumanik.

Selain stunting, Hendi juga menyinggung soal penerangan dan sanitasi di rumah, termasuk septic tank. Jika tidak dimanfaatkan dengan baik dapat menimbulkan masalah. Menurutnya, perawatan sanitasi yang baik adalah dengan cara septic tank dikuras setiap 5 tahun sekali. Karena jika tidak, dikhawatirkan akan terserap ke sumber air bersih di sekitar rumah. Hendi pun berharap agar jajarannya dapat terus melakukan sosialisasi dan bantuan kepada masyarakat. Agar di setiap rumah dapat mempunyai sanitasi yang baik. (zal/aro)