Guru Swasta Ngotot Bosda Rp 500/Siswa

562
AUDIENSI: Perwakilan PGSI dan Forum Guru Inpassing se-Jateng beraudiensi dengan Komisi E DPRD Jateng. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AUDIENSI: Perwakilan PGSI dan Forum Guru Inpassing se-Jateng beraudiensi dengan Komisi E DPRD Jateng. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Guru-guru swasta di Jateng tetap ngotot agar alokasi anggaran Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) 2020 untuk SMA/SMK, SLB dan MA swasta tetap Rp 500 ribu per siswa. Mereka minta agar ada keseragaman, sebagai bentuk keseriusan Pemprov Jateng dalam meningkatkan sumber daya manusia di Jateng.

Hal tersebut ditegaskan perwakilan Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI) Jawa Tengah (Jateng), Forum Kepala Sekolah SMA Swasta dan Persatuan Guru Inpasing (PGI) Jateng saat beraudiensi dengan Komisi E DPRD Jateng. “Kami meminta agar Bosda pada 2020 disetarakan setiap siswa Rp 500 ribu,” kata Ketua Forum Kepala Sekolah SMA Swasta Jateng, Untung Cahyono.

Ia menambahkan, desakan cukup beralasan mengingat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jateng Bosda yang disetujui juga Rp 500 ribu per siswa per tahun. Pihaknya menilai jika anggaran Bosda 2020 disesuaikan dengan peringkat akreditasi, maka hampir semua sekolah swasta tidak mendapatkan anggaran tersebut. Sekolah yang akreditasinya A, tidak akan diberikan Bosda. Padahal, dari 502 SMA swasta di Jateng, misalnya sekitar 60 persennya sudah menyandang akreditasi A. “Ini akan terjadi ketimpangan dan justru memunculkan polemik di bawah,” tambahnya.

Salah satu hal yang bisa meningkatkan kualitas SDM dengan memperhatikan sektor pendidikan. Tetapi nyatanya Pemprov Jateng masih belum memberikan perhatian terutama untuk sekolah-sekolah swasta. “Harusnya anggaran diberikan disesuaikan dengan kondisi di bawah. Jika anggaran kecil tentu tidak ada keterpihakan,” tambah Pengurus PGI, Hadi Arifin.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jateng, Abdul Aziz, menegaskan akan terus memperjuangkan sekolah swasta dalam pembahasan RAPBD 2020. Ia juga sudah ngotot, agar anggaran Bosda sesuai dengan RPJMD yakni Rp 500 ribu per siswa per tahun. “Dalam pembahasan yang sudah kami lakukan memang sedikit alot karena kesannya swasta diabaikan. Tetapi saya akan terus memperjuangkannya,” tegasnya.

Politisi PPP ini menambahkan, sekolah swasta juga harus mendapatkan perhatian serius. Mengingat perannya dalam meningkatkan kualitas SDM di Jateng sangat besar. Ia juga tidak menampik, jika Pemprov Jateng masih terkesan setengah hati dan belum memperhatikan sekolah swasta. “Justru sekolah swasta ini yang gotong royong ikut membangun pendidikan. Jadi sudah saatnya mereka harus diperhatikan Pemprov Jateng,” tambahnya. (fth/ida)