Peringati Katina Puja, Bhikkhu Lakukan Pindapata

424
MENERIMA DERMA : Para Bhikkhu berjubah warna coklat keemasan polos berjalan dari Kelenteng Agung Tay kak Sie Kawasan Pecinan menuju Wihara Mahabodhi Buddhist Centre, sambil membawa periuk dan menyapa para warga Semarang dan umatnya yang ingin memberikan derma dana maupun makanan, Minggu (20/10) kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENERIMA DERMA : Para Bhikkhu berjubah warna coklat keemasan polos berjalan dari Kelenteng Agung Tay kak Sie Kawasan Pecinan menuju Wihara Mahabodhi Buddhist Centre, sambil membawa periuk dan menyapa para warga Semarang dan umatnya yang ingin memberikan derma dana maupun makanan, Minggu (20/10) kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG—Puluhan bhikkhu dan Samanera Vihara Mahabodi Jalan Taman Seroja Semarang melakukan ritual Pindapata di kawasan Pecinan, Minggu (20/10) kemarin. Ritual tersebut diawali dari Kelenteng Agung Tay Kak Sie.

Para bhikkhu dengan busana jubah khas berwarna kuning keemasan berjalan menyusuri jalan tanpa alas kaki menyambangi masing-masing kelenteng. Lengkap dengan membawa periuk untuk menerima bantuan dari umat.

Ketika rombongan mamasuki kelenteng, beberapa umat langsung mempersiapkan perlengkapan mulai dari angpao sampai dengan makanan, perlengkapan sehari-hari dan obat-obatan. Ketika para bikkhu itu datang, umat secara sukarela langsung menyerahkan barang tersebut. Setelah berkeliling, para bhikkhu kembali lagi ke Vihara Mahabodi.

Sekretaris Wilayah Sangha Agung Indonesia Provinsi Jateng, Bhikkhu Ditthisampanno mengatakan bahwa ritual Pindapata ini dalam rangka memperingati Katina Puja sebagai persembahan kepada bhiksu. “Dalam sangha ada empat kebutuhan yakni jubah, makanan, tempat tinggal atau kuti serta obat-obatan,” katanya.

Ritual Pindapata menurutnya merupakan kebiasaan para Buddha sekaligus membangun pendekatan dengan masyarakat secara agama Buddha. “Para bhikkhu dan umat Buddha bekerjasama untuk mulai memasyarakatkan tradisi ini,” jelasnya.

Acara dilanjutkan pada malam harinya dengan melakukan ritual Siripada Puja. Yakni, ritual yang dilakukan dengan menghanyutkan bunga teratai seukuran telapak tangan orang dewasa yang dihiasi dengan lilin dan dupa di dalamnya. Tujuannya menghormati telapak kaki suci Sang Buddha.

“Upacara Siripada Puja atau biasa disebut melarung pelita teratai, merupakan tradisi turun menurun bagi umat Buddha di dunia. Tradisi ritual ini sudah dilakukan sejak lama,” katanya.

Salah seorang umat Buddha, Margareta, 54, mengaku dengan adanya ritual Pindapata menjadi bahan renungan bahwa dengan berbuat baik. “Semoga sanak keluarga yang telah tiada ikut bergembira dan dapat menikmatinya,” harapnya. (hid/ida)