Tarik 306.773 Ampul Ranitidine dari Pasaran

157

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Menindaklanjuti perintah BPOM terkait penarikan kembali (recall) dan pemberhentian produksi Reniditin yang mengandung N-nitrosodimethylamine (NDMA) melebihi ambang batas, PT Phapros Tbk mulai melakukan instruksi BPOM tersebut. Perusahaan farmasi yang beroperasi di Jalan Simongan Semarang tersebut mulai melakukan penghentian dan penarikan produk sejak 3 Oktober lalu. Tepat setelah surat resmi yang dilayangkan BPOM kepada pemegang izin edar obat Renitidine cairan injeksi diterima perusahaan.

Corporate Comunications PT Phapros Tbk Annisa Dewi Yustita menuturkan, penarikan produk yang dimaksudkan oleh BPOM adalah produk Ranitidin HCl Cairan Injeksi 25 mg/ml dengan nomor bets produk jadi yakni 95486160 sampai dengan 190, 06486001 sampai dengan 008, 16486001 sampai dengan 051, dan 26486001 sampai 019. Pihaknya secara berkala akan melakukan proses penarikan ke seluruh outlet yang mereka miliki mulai dari pedagang besar farmasi, instalasi farmasi pemerintah, apotik, puskesmas, klinik hingga dokter.

Dikatakan, dengan adanya penarikan tersebut, dirinya mengimbau  kepada masyarakat untuk tidak panik. Pasalnya, pihak perusahaan dan BPOM telah melakukan langkah cepat dan antisipatif untuk kepentingan dan keselamatan konsumen.

“Kami secara berkala akan melaporkan perkembangan penarikan yang kami lakukan kepada BPOM. Kami sangat mengapresiasi BPOM yang secara cepat mengeluarkan kebijakan terkait temuan dari US FDA (BPOM Amerika) dan European Medicine Agency (EMA) mengenai cemaran NDMA melibihi ambang batas yang dapat bersifat karsinogenik. Kami mengimbau kepada konsumen untuk tidak panik, karena kami dan BPOM akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan konsumen,” lanjutnya.

Sementara itu, berdasarkan data dari BPOM Semarang, dua perusahaan farmasi yang masuk lingkup kerja BPOM Semarang, yakni PT Global Multi Farmalab dan PT Phapros Tbk telah melakukan penarikan terhadap produk yang masuk dalam daftar BPOM Pusat tersebut. Sampai hari ini, PT Phapros Tbk telah menarik produk Ranitidine injeksi sebanyak 306.773 ampul dan PT Global Multi Farmalab telah menarik produk Rinadin 75 mg/5mL dengan nomor bets produk beredar, yakni 0400518001, 04007180001 dan 04008180001.

Kepala Balai BPOM Kota Semarang Safriansyah membenarkan pihaknya telah memberikan perintah kepada perusahaan obat yang beroperasi di wilayah kerjanya untuk melakukan penghentian produksi dan penarikan produk Raniditine yang memiliki NDMA melebihi ambang batas. Pihaknya mengaku tidak dapat melakukan penarikan, karena menurut aturan penarikan hanya dapat dilakukan oleh perusahaan pemegang izin edar saja. Sehingga pihaknya hanya mampu melakukan pengawasan dan memantau penarikan obat tersebut dari peredaran.

“Kami memberikan waktu 80 hari setelah surat edaran BPOM terbit terkait penarikan tersebut. Kami harap perusahaan dapat segera menyelesaikan penarikan tersebut sesuai batas waktu yang ditentukan hingga ke unit pelayanan kesehatan paling rendah,” ujarnya.

Ia menambahkan, tidak semua produk Ranitidine ditarik dari pasaran. Hanya produk yang memiliki NDMA yang melebihi ambang normal saja yang ditarik, yakni 96 nanogram/ per hari pemakaian. Karena itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak perlu khawatir tidak adanya produk obat yang biasa digunakan untuk obat maag tersebut. Pasalnya, masih ada produk lain yang dapat digunakan dengan efek samping lebih rendah dari produk yang ditarik.

“Masyarakat tenang saja, tidak perlu bingung. Mereka masih ada alternatif lain untuk pengobatan maag. Kami yakin semua apotek dan farmasi mengetahui alternatif obat tesebut, sehingga masyarakat tinggal datang dan konsultasi obat apa yang mereka butuhkan,” katanya.(akm/aro)