Membatik di Kain Sepanjang 100 Meter

353
MENJAGA TRADISI BATIK: Warga dan pengunjung Kampung Batik, Rejomulyo, Semarang Timur membatik di kain sepanjang 100 meter untuk memeriahkan Hari Batik Nasional, kemarin.(Adiya Dwi/ Jawa Pos Radar Semarang)
MENJAGA TRADISI BATIK: Warga dan pengunjung Kampung Batik, Rejomulyo, Semarang Timur membatik di kain sepanjang 100 meter untuk memeriahkan Hari Batik Nasional, kemarin.(Adiya Dwi/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Peringati Hari Batik Nasional dimeriahkan festival mewarnai batik massal. Event yang diikuti oleh ratusan orang baik warga sekitar, wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara itu digelar Jalan Batik, Kampung Batik, Bubakan, Semarang Timur. Mereka membatik bercorak Semarangan dengan gambar khas buah asam dan warak ngendog.

Ketua Paguyuban Sekar Kenanga Edi Haryanto menuturkan, pihaknya beserta 20 pembatik yang ada di kampung tersebut menyiapkan kain putih sepanjang 100 meter. Mereka bersama-sama mengambar motif dan mencanting dengan corak buah asam dan warak ngendog. Setiap pengunjung dibebaskan untuk mewarnai sendiri dengan warna yang telah ditentukan.

“Hari ini (kemarin) merupakan peringatan hari batik nasional. Alhamdulillah sudah 10 tahun batik ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia khas Indonesia. Maka dari itu dengan mengadakan event kali ini, kami berharap banyak anak muda yang mulai mengembangkan batik, sehingga minat mereka semakin terpupuk dan menjaga kelestarian batik,” ujarnya pada pembukaan peringatan hari batik, Rabu (2/10).

Ia menambahkan, sejak kampungnya ditetapkan sebagai kampung tematik batik, banyak kemajuan yang dicapai. Kampungnya yang dulu kumuh dan enggan didatangi orang, saat ini justru menjadi destinasi wisata. Karena itu, pihaknya berterimakasih kepada Pemerintah Kota Semarang yang telah menumbuhkan perekonomian warga dalam 3 tahun terakhir baik dari sektor batik maupun pariwisata.

Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang Muntohar mengapresiasi festival tersebut. Baginya acara semacam itu merupakan ajang pembuktian bahwa Semarang juga memiliki kebudayaan batik sendiri. Bahkan sejak 1940-1960 pun sudah ada. Jauh sebelum batik Pekalongan berkembang. Karena itu dengan event kali ini, pihaknya ingin memperkenalkan batik Semarangan, sehingga dapat terus eksis dan menjadi salah stau ciri khas Kota Semarang.

“Acara kali ini sekaligus mendeklarasikan bahwa Kampung Batik masih terus eksis, bertahan, bahkan terus berkembang. Ke depannya kami akan mendorong agar Kampung Batik dapat menjadi destinasi wisata Semarang dan bergabung dengan Kota Lama. Dengan banyaknya wisatawan yang datang tentu akan menambah perekonomian yang ada, dan secara tidak langsung melestarikan batik Semarangan,” katanya. (akm/aro)