Demo Ricuh, Gerbang DPRD Jebol

Ganjar Siap Kawal Tuntutan Mahasiswa

225
MEMANAS: Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Semarang Raya merobohkan pintu gerbang DPRD Jateng saat aksi demo menolak revisi Undang-Undang KPK, Revisi Rancangan KUHP dan sejumlah persoalan lainnya, Selasa (24/9) kemarin.(ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)
MEMANAS: Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Semarang Raya merobohkan pintu gerbang DPRD Jateng saat aksi demo menolak revisi Undang-Undang KPK, Revisi Rancangan KUHP dan sejumlah persoalan lainnya, Selasa (24/9) kemarin.(ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)

 

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Ribuan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi se-Jawa Tengah menyerbu Kantor DPRD Jawa Tengah. Mereka yang tergabung dalam Aliansi Semarang Raya tersebut terlihat mulai memadati kawasan Jalan Pahlawan Semarang sejak pukul 08.00 pagi. Dengan memakai jas almamater masing-masing, mereka mulai menyuarakan tuntutan dan membawa ratusan poster yang menuntut DPR untuk mengabulkan yang mereka perjuangkan. Tampak beberapa tulisan yang menggelitik seperti “Kuat Dilakoni, Ora Kuat Kok Direvisi”, “DPR Bokep Aku Luweh, Aku Ngawe DPR Reseh” dan masih lainnya.

Salah seorang peserta aksi dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Erlina, menuturkan, selain mahasiswa,massa juga berasal dari berbagai macam aktivis dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Semarang. Mereka bersama-sama berkumpul demi kepentingan sama, yakni menolak revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK), Revisi Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan sejumlah persoalan lainnya. Mereka ingin agar DPR sadar bahwa rakyat tidak sepakat dengan apa yang dilakukan para wakil rakyat tersebut.

“Kami adalah pejuang keadilan. Selama ini banyak hal yang dilakukan dewan menciderai rasa keadilan rakyat. Seperti halnya rencana revisi UU KPK dan RUU KUHP. Maka dari itu kami di sini untuk memperjuangkan keadilan tersebut,” ujarnya ketika ikut dalam rombongan massa tersebut, Selasa (24/9).

Aksi yang semula berjalan damai dan terkendali mulai panas ketika massa menuntut perwakilan DPRD dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo turun menemui mereka. Massa mahasiswa mulai memanjat pagar dan meminta pihak kepolisian dari Polrestabes Semarang untuk membuka pagar tersebut. Namun pihak keamanan enggan untuk membuka. Massa semakin mendesak dengan mulai memanjat dinding dan mendorong pagar agar dapat terbuka. Tak lama setelah itu, Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman dan Anggota DPRD Fraksi PKS Agung Budi turun untuk menemui massa. Mereka hendak mendengarkan dan berdialog dengan mahasiswa. Namun itikad tersebut langsung ditolak oleh massa. Mereka justru meminta Gubernur Jateng untuk turun menemui mereka. Massa terus meneriakkan “Ganjar Keluar, Ganjar Keluar.”

Anggota DPRD pun akhirnya hanya melihat aksi tersebut selama kurang lebih setengah jam. Massa yang tetap ngotot meminta Ganjar turun mulai melakukan aksi teaterikal di depan gerbang yang menceritakan kesewenang-wenangan para pemimpin terhadap rakyatnya. Melihat aksi teaterikal yang tak kunjung mendapat respon membuat mahasiswa semakin marah. Mereka mulai mendorong pagar lebih kencang dan puncaknya pagar masuk kantor DPRD Jateng jebol sekitar pukul 11.40. Massa saling dorong untuk masuk, namun dihadang oleh ratusan polisi yang berjaga. Terpantau ada beberapa orang yang terluka tertimpa pagar besi tersebut. Ada pula mahasiswa yang terinjak-injak akibat kejadian itu.

Melihat situasi tak terkendali, Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji menemui massa dan meminta mereka menenangkan diri. Ia menjamin gubernur akan segera turun menemui mahasiswa asalkan mereka dapat tenang dan damai.

“Saya meminta mahasiswa untuk tenang. Mari menggelar aksi unjuk rasa secara damai dan tertib. Jangan sampai anarkhis. Kami jamin Pak Gubernur akan menemui kalian, namun kami minta jaga kondusivitas. Tunjukkan kearifan Anda sebagai warga Jawa Tengah yang berbudaya,” ujarnya ketika berbicara di tengah massa.

Pihaknya pun berjanji tidak akan melakukan tindakan selama aksi yang dilakukan berjalan tertib. Ia menjamin akan memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Masaa pun berhasil ditenangkan dan mulai tertib menyuarakan tuntutan mereka. Mereka juga berjanji akan menghormati dan tidak melukai gubernur.

Sekitar pukul 12.00, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo turun menemui mahasiswa. Mengenakan kemeja putih panjang yang digulung lengannya dan celana hitam, Ganjar disambut tepuk tangan massa. Ia mulai naik ke podium yang berada di tengah massa. Pihaknya meminta mahasiswa untuk tenang dan mendengarkan apa yang hendak disampaikan.  Dengan tenang, Ganjar meminta agar mahasiswa tetap menjaga kondisivitas dan tidak merusak fasilitas umum.

“Sejak beberapa hari ini saya mengikuti aksi ini, beberapa teman aktivis juga meminta izin untuk menggelar aksi. Saya persilakan, bahkan sebenarnya saya sudah menyiapkan tempat sejak kemarin untuk menerima kawan-kawan yang akan menyampaikan tuntutan,” ucap Ganjar berbicara di atas podium orasi mahasiswa.

Seharusnya, lanjut dia, para mahasiswa dapat menggelar aksi demo dengan tertib dan menyampaikan tuntutan dengan dialog yang baik. Tidak perlu mahasiswa melakukan aksi yang merugikan, bahkan sampai merusak pagar dan taman. “Pagar dan taman ini adalah uang dari kalian juga, seharusnya tidak perlu dirusak karena saya harus mengeluarkan anggaran lagi untuk memperbaikinya. Bagaimana kalau besok, saya undang kawan-kawan semua untuk bersih-bersih dan memperbaiki taman yang dirusak itu, setuju tidak,” tanya Ganjar dan dijawab dengan kompak oleh mahasiswa ‘setuju’.

Ganjar pun menegaskan akan menampung semua aspirasi serta tuntutan dari para mahasiswa. Ia akan menyampaikan aspirasi itu sampai ke tingkat pusat. “Cukup banyak pesan yang disampaikan, nanti akan kami sampaikan ke pusat. Tadi mereka minta disampaikan ke DPR dan Presiden, tentu akan saya lakukan,” ucapnya.

Ganjar pun mengapresiasi aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa itu. Meski sedikit memanas dan membuat pagar roboh, namun bagi dirinya hal itu masih merupakan hal yang wajar. “Ya, itu risiko, kalau massa banyak memang sulit mengontrol dan kerap menimbulkan situasi memanas. Ya tidak apa-apa, nanti kami perbaiki. Saya dulu juga pernah jadi mahasiswa yang sering demo seperti mereka,” katanya.

Koordinator Aksi dari Aliansi Semarang Raya Cornelius Gea menuturkan terdapat tujuh tuntutan yang diminta mahasiswa dalam aksi kali ini. Pertama, mereka meminta DPR untuk membatalkan RUU KUHP, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan dan mengesahkan RUU Pengahapusan Kekerasan Seksual, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga dan RUU Masyarakat Adat. Yang kedua meminta presiden untuk mengeluarkan Perpu Pencabutan UU KPK dan UU Sunber Daya Manusia. Yang ketiga menuntut presiden untuk memberikan sanksi tegas kepada korporasi pembakaran hutan. Yang keempat menuntut Kepolisian RI membebaskan dan menghentikan kriminalisasi aktivis Papua, pejuang HAM, dan bertanggung jawab atas pemulihan nama baik setiap aktivis dan menghentikan segala intimidasi terhadap masyarakat Papua. Kelima, menuntut pemerintah untuk menjamin terlaksanakannya pemberian jasa layanan kesehatan BPJS dengan baik.

“Selain itu, kami menuntut pemerintah mengusut kasus HAM masa lalu dan mewujudkan pendidikan yang demokratis, gratis dan transparan dalam keuangannya, khususnya bagi dunia pendidikan. Kami meminta Pak Ganjar menandatangani surat penyataan kami dan mohon diteruskan ke presiden untuk dapat ditindaklanjuti,” ujarnya ketika menyampaikan orasi.

Mendengar tuntutan tersebut, Ganjar langsung menandatangani pernyataan tersebut. Disusul oleh Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman yang turut serta menandatangani. Mahasiswa pun menyambut riuh momen tersebut dan berterimakasih kepada gubernur telah mendengar tuntutan mereka. Setelah membubuhkan tandatangan, Ganjar turun dari podium dan meminta mahasiswa untuk melanjutkan aksi demonstrasi dengan tertib.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, sekitar pukul 13.30 halaman depan gedung DPRD Jateng mulai lengang dan terlihat beberapa petugas membereskan kekacauan akibat aksi tersebut.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abioso Seno Aji mengatakan, untuk mengamankan aksi unjuk rasa tersebut, pihaknya menerjunkan sebanyak 1.100 personel aparat Polrestabes Semarang dan Polda Jateng. “Ada 1.100 personel dari berbagai fungsi yang di-back up aparat Brimob Polda Jateng dan Dalmas Sabhara Polda Jateng,” ungkap Abioso Seno Aji di lokasi aksi.

Selain personel polisi, pihaknya juga menurunkan kendaraan taktis seperti mobil baracuda dan watercanon. Ribuan personel yang diturunkan juga ada yang dilengkapi baju dan tameng sebagai antisipasi terjadinya kericuhan.

“Dari awal saya juga minta kepada mereka (para mahasiswa) untuk menggunakan jaket almamater, karena memudahkan kami untuk mengidentifikasi. Artinya, jangan sampai nanti ada pihak-pihak yang menyusup menunggangi, memprovokasi dan sebagainya,” katanya. (akm/mha/aro)