Idealnya, Jadi 22 Kecamatan dan 250 Kelurahan

Wacana Pemekaran Wilayah Kota Semarang

1263

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG –Rencana pemekaran wilayah Kota Semarang dengan menambah jumlah kecamatan dan kelurahan semakin menguat. Sebab, dengan melihat jumlah penduduk dengan luas wilayah Kota Semarang yang mencapai 373,8 km2 dinilai sudah tidak ideal lagi. Saat ini, Kota Semarang terdiri atas 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Ada wacana ke depan, dari 16 kecamatan tersebut akan diperluas menjadi 22 kecamatan, serta dari 177 kelurahan dimekarkan menjadi 250 kelurahan.

Ketua sementara DPRD Kota Semarang Kadarlusman mengungkapkan jika pemekaran wilayah dalam hal ini kelurahan dan kecamatan memang perlu dilakukan. Mengingat saat ini memang kondisinya sudah tidak ideal. “Kota Semarang ini merupakan kota metropolitan dan ibukota Provinsi Jawa Tengah, idealnya memang harus diperluas,” ujar Pilus, sapaan akrabnya, Minggu (22/9).

Pemekaran wilayah, lanjutnya, memiliki manfaat yang sangat besar. Di antaranya, terkait sistem pengawasan wilayah menjadi lebih mudah. Juga pemerataan pembangunan akan lebih optimal. Dari sudut pandangnya, lanjut Pilus, idealnya dalam satu kecamatan memiliki 7 sampai 8 kelurahan saja. Namun yang terjadi saat ini, hampir semua kecamatan memiliki wilayah 10 sampai 16 kelurahan.

“Di Kota Semarang ini yang ideal hanya empat kecamatan, yaitu Kecamatan Tugu, Gayamsari dan Candisari yang masing-masing memiliki 7 kelurahan, serta Kecamatan Gajahmungkur yang memiliki 8 kelurahan. Sebanyak 12 kecamatan lain, rata-rata di atas 8 hingga 16 kelurahan,” katanya.

Dengan jumlah kelurahan dan kecamatan yang ideal, lanjut dia, pantauan, jangkauan, dan kegiatan apapun yang dilakukan oleh pihak kecamatan maupun kelurahan bisa cepat terkoneksi. “Tidak pakai waktu yang lama,” ujarnya.

Ia mencontohkan lagi wilayah Kecamatan Gunungpati. Menurutnya, jumlah kelurahan di kecamatan itu sangatlah gemuk, mencapai 16 kelurahan. Akhirnya, pengawasan dan pertumbuhan wilayah menjadi kurang optimal.

“Sehingga saat kecamatan yang akan bersosialisasi tentang program pemerintah membutuhkan waktu yang cukup lama karena luasnya wilayah,” tuturnya.

Kondisi tersebut tentunya kontras dengan apa yang terjadi di Kecamatan Tugu yang hanya memiliki 7 kelurahan. Setiap kali sosialisasi tentang program Pemkot Semarang ke masyarakat, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. “Kondisi sekarang memang kurang ideal dan efektif. Perlu sekali pemekaran, supaya jarak jangkau pengawasan dan waktu kerja untuk program itu bisa terselesaikan tepat waktu,” katanya.

Kondisi yang timpang antarkecamatn tersebut membuat pembangunan Kota Semarang menjadi sedikit terhambat. Wilayah ampu kecamatan yang luas tersebut membuat kondisi sarana dan prasarana juga menjadi tidak seimbang. “Karena pasti masing-masing camat itu akan memiliki anggaran yang berbeda,” tuturnya.

Kondisi lain, karena jumlah ampu kelurahan yang cukup banyak di setiap kecamatan, maka menimbulkan kecemburuan sosial di antara para camat.

Camat yang mengampu jumlah kelurahan kecil dinilai memiliki tugas yang cukup ringan jika dibandingkan yang mendapatkan wilayah ampu kelurahan yang banyak.

Dikatakan, DPRD Kota Semarang akan mengawal program Pemkot Semarang yang akan melakukan pemekaran kecamatan dan kelurahan tersebut. Tentunya sepanjang dampak yang ditimbulkan dari pemekaran wilayah tersebut positif.

Terkait dengan anggaran proses pemekaran wilayah itu, menurut Pilus, tidak membutuhkan anggaran besar. “Pada dasarnya hanya ada perubahan di sistem administrasi. Untuk pembangunan juga tidak begitu menelan banyak biaya, hanya membangun gedung kelurahan dan kecamatan,” ujarnya.

Dikatakan Pilus, saat ini aset yang dimiliki oleh Pemkot Semarang berupa lahan sudah mencukupi apabila hendak dilakukan pemekaran wilayah. Khususnya untuk membangun kantor-kantor kecamatan dan kelurahan yang baru. Namun itupun juga akan dilakukan bertahap.

Senada dikatakan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Hendi, sapaan akrabnya, juga mengiyakan terkait rencana pemekaran wilayah tersebut. “Saat ini sudah masuk dalam tahap kajian, kemudian nanti kita serahkan ke DPRD supaya segera bisa disetujui,” ujar Hendi.

Gagasan pemekaran wilayah ini sendiri sebenarnya sudah pernah diwacanakan oleh Pemkot Semarang pada 2016 lalu. Namun, kala itu kalangan legislatif tidak menyetujuinya dengan alasan pemborosan anggaran.

“Jika melihat hasil kajian, idealnya 250 kelurahan, kalau sekarang baru 177 kelurahan. Untuk kecamatan idealnya menjadi 22 kecamatan. Itu hasil dari kajian,” katanya.

Harapannya, pada saat teritorial kecamatan dan kelurahan bisa dipersempit, maka pelayanan kepada masyarakat jauh lebih cepat.  “Bisa dibayangkan jika satu kelurahan memiliki wilayah yang sangat luas. Maka penduduknya jika datang ke kantor kelurahan ataupun kecamatan bisa sangat jauh. Kemudian dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kecepatan petugas memberikan pelayanan pasti berbeda jika jumlah penduduknya jauh lebih sedikit,” ujarnya.

Dari hasil kajian tersebut, lanjutnya, menunjukkan sebuah keidealan dari kota besar. Jika dibandingkan dengan Surabaya dan Kota Bandung, sebenarnya Kota Semarang memang sudah perlu melakukan pemekaran wilayah. “Dengan wilayah mereka (Surabaya dan Bandung, Red) jauh lebih kecil, tapi jumlah kecamatan dan kelurahannya lebih banyak dari Kota Semarang. Ini menjadi pemikiran kita supaya menjadi produk untuk pengembangan Kota Semarang,” katanya.

Sehingga pemekaran wilayah itupun perlu dilakukan. Dampak yang akan ditimbulkan, lanjutnya, dari sisi pertumbuhan ekonomi akan lebih maju. “Misalnya di Kecamatan Gunungpati, seperti Pongangan dan Ngijo yang jarang disentuh, tiba-tiba dibagi dua kelurahan, maka seorang lurah akan berorientasi membangun wilayahnya,” tuturnya.

Selain itu, dari sisi kenyamanan dan kerapian juga pasti akan berubah. “Jika satu lurah sebelumnya mengelola lokasi satu kelurahan itu 30 hektare, kini menjadi 15 hektare. Tentu  lurah jadi gampang. Pemantauan pun jadi lebih cepat,” katanya.

Salah satu kelurahan yang saatnya dilakukan pemekaran adalah Kelurahan Sendang Mulyo, Kecamatan Tembalang. Wilayah ini terdiri atas 32 RW dan 276 RT. “Kalau untuk Kelurahan Sendang Mulyo sendiri, pemekaran wilayah sudah menjadi kebutuhan, karena cakupannya terlalu besar. Kita ini ada 32 RW dan 276 RT” ujar Lurah Sendang Mulyo Nuridin kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Nuridin sendiri mengaku sudah mendengar adanya kajian ke depan Kecamatan Tembalang akan dibagi menjadi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Tembalang, Tembalang Timur, dan Tembalang Utara. “Untuk Sendangmulyo sendiri juga akan dibagi menjadi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Sendang Mulyo, Bukit Mulyo dan Ketileng Mulyo” bebernya.

Lurah Meteseh Joko Waluyo juga mendukung rencana pemekaran wilayah. Saat ini, wilayahnya terdiri atas 31 RW dan 198 RT. “Memang sejauh ini pelayanan kita tetap baik dan tidak ada kendala meski wilayahnya luas. Kita selalu memberikan yang terbaik, buktinya kita peringkat 1 layanan one day service” katanya.

Namun ia mengakui, jika ke depan wilayah kelurahan ini akan dipecah, tentunya pelayanan ke masyarakat akan lebih maksimal lagi. Sebab, jumlah warga yang dilayani lebih sedikit. Pun dengan luas wilayahnya. “Yang saya dengar, Kelurahan Meteseh akan dibagi menjadi tiga, yakni Meteseh I, II dan III yang sampai saat ini belum ditentukan namanya,” ujarnya.

Berbeda dengan Sendang Mulyo, Kelurahan Terboyo Wetan dan Terboyo Kulon ke depan justru akan dijadikan satu atap. Penggabungan dua kelurahan tersebut lantaran sedikitnya jumlah penduduk dan sempitnya wilayahnya kedua kelurahan tersebut. Kelurahan di Kecamatan Genuk ini belum bisa dikatakan padat penduduk.

Lurah Terboyo Wetan Wahyuti mengatakan, wilayah Terboyo Wetan justru didominasi kawasan industri dan tambak. “Di sini daerah industri dan tambak yang banyak. Tidak heran kalau jumlah penduduknya tidak banyak bertambah seperti kelurahan lain,”ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Tak heran, suasana kantor kelurahan juga tampak sepi. Seminggu hanya ada tiga hingga lima orang yang datang ke kantor untuk meminta tanda tangan atau hanya ingin bertemu petugas. Koran ini pun mencoba menunggu lima jam di kantor Kelurahan Terboyo Wetan. Benar, selama lima jam tersebut tidak ada yang datang untuk meminta pelayanan. “Bahkan satu hari sering tidak ada orang datang. Kami hanya ada 2 RW dan 8 RT, sedangkan Terboyo Kulon hanya 1 RW. Iya begini sepi,” ucapnya.

Sedikitnya warga yang dilayani membuat kelurahan ini seperti jasa ekspedisi kilat. Mengurus tidak perlu ditinggal, ditunggu pun langsung jadi. Inilah keunggulan untuk kelurahan yang hanya memiliki wilayah 2 RW.

“Kami hanya ada dua pegawai non ASN untuk membantu, terutama untuk komputer. Satunya untuk kebersihan. Lainnya kami para Kasi yang langsung bekerja tidak perlu ada staf,”ujar Kasi Trantib R Patih Jonat Mahendra.

Lokasi kantor Kelurahan Terboyo Wetan juga relatif jauh dari permukiman warga. Justru lokasinya dekat dengan kawasan industri. Saat menuju kantor kelurahan, warga harus berpapasan dengan truk-truk besar yang keluar masuk kawasan industri.

Wahyuti menambahkan, jika penggabungan dua kelurahan dilakukan, ia berharap pemkot memberikan jalan alternatif untuk warga datang ke kantor kelurahan. “Awalnya, kantor kelurahan mau pindah di tepi jalan raya, namun kami berpikir lagi dana yang akan dikeluarkan warga sekitar akan semakin banyak. Akhirnya, digodok lagi kantor Kelurahan Terboyo nantinya tetap di sini (Terboyo Wetan), tetapi kami selalu ingatkan untuk ada jalur alternatif penghubung yang dekat. Sehingga warga tidak mengeluh,”katanya.

Bagaimana tanggapan warga soal wacana pemekaran dan penggabungan wilayah kelurahan ini? Pujianto, warga Terboyo Kulon mengaku tidak masalah. “Saya sih gak masalah, tapi semoga segala administrasinya tidak memberatkan masyarakat, dan kalau bisa ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Misalnya, dalam penggantian dokumen kependudukan,” harap Pujianto.

Hal senada diungkapkan Rozikan, Ketua RW 02 Tebroyo Wetan.  “Kalau Kelurahan Terboyo Wetan dan Kulon digabung nggak apa-apa. Asal menjadi lebih baik.  Yang penting tidak memberatkan masyarakat,”katanya. (ewb/ria/mg2/mg3/mg4/mg5/mg6/mg7/mg8/aro)

Pemekaran Wilayah Kota Semarang

  • Luas Kota Semarang 373,8 km2
  • Idealnya menjadi 22 kecamatan dan 250 kelurahan
  • Saat ini terdiri atas 16 kecamatan dan 177 kelurahan
  • Kecamatan ideal maksimal terdiri atas 7-8 kelurahan
  • Jika dilakukan pemekaran harus membangun kantor kecamatan dan kantor kelurahan baru
  • Jika dilakukan pemekaran warga harus memperbaharui dokumen kependudukan dan dokumen lainnya

Diolah dari Berita