Tambah Profesor, Proses Pengurusan Dipermudah

211
PROFESOR BARU : Rektor Untag Semarang Prof Dr Drs Suparno MSi (tengah) dan Prof Dr Retno Mawarini Sukmariningsih SH MHum (kedua dari kiri) usai dikukuhkan sebagai guru besar di Gedung Graha Kebangsaan Untag Semarang, Sabtu (14/9).(NURWAHIDI/RADARSEMARANG.ID)
PROFESOR BARU : Rektor Untag Semarang Prof Dr Drs Suparno MSi (tengah) dan Prof Dr Retno Mawarini Sukmariningsih SH MHum (kedua dari kiri) usai dikukuhkan sebagai guru besar di Gedung Graha Kebangsaan Untag Semarang, Sabtu (14/9).(NURWAHIDI/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG—Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mempermudah serta mempercepat proses pengurusan jenjang dari dosen menjadi guru besar atau profesor. Namun kemudahan itu tetap mempertahankan standar kualitas yang ideal.

“Saat ini sekurang-kurangnya dua bulan pengusulan Lektor Kepala dan Profesor dapat segera diketahui apakah usulannya diterima atau ditolak,” kata Direktur Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Kemenristekdikti Prof Dr Bunyamin Maftuh MA MPd usai pengukuhan Rektor Untag Semarang Prof Dr Drs Suparno MSi dan Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama Prof Dr Retno Mawarini Sukmariningsih SH MHum sebagai guru besar di Gedung Graha Kebangsan Untag Semarang, Sabtu (14/9).

Bunyamin menjelaskan saat ini jumlah profesor masih sedikit, sekitar 5.897 orang untuk Perguruan Tinggi di bawah Kemenristekdikti. Bila ditambah dengan guru besar dari kementerian dan lembaga lain, jumlah totalnya hanya 6.460 orang. Jumlah tersebut hanya 2,4 persen dari seluruh dosen tetap.

“Kami dengan berbagai program seperti melalui program World Class Profesor, mencoba mendorong percepatan usulan menjadi profesor ini,” tambahnya.
Selain itu Kemenristekdikti juga mendorong Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, baik negeri maupun swasta, untuk berkembang maju dan menjadi PT yang bermutu serta memiliki daya saing global. Kemenristekdikti berharap PT di Indonesia mampu bersaing dengan PT di luar negeri. Bahkan memiliki target untuk mendorong PT di Indonesia untuk menjadi universitas kelas dunia.

“World Classs University yang masuk dalam 500 universitas terbaik pada 2019 ini baru Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gajah Mada (UGM). Ke depannya dua universitas lainnya Universitas Airlangga dan Institut Pertanian Bogor (IPG) (diharapkan) juga dapat masuk daftar 500 universitas terbaik di dunia,” jelasnya.

Untuk meningkatkan daya saing universitas tanah air dengan negara lain, Kemenristekdikti juga mendorong para dosen untuk melakukan publikasi ilmiah terutama dalam jurnal-jurnal ilmiah internasional bereputasi. Dalam beberapa tahun lalu, jumlah publikasi ilmiah internasional masih tergolong rendah dan masih kalah bila dibandingkan beberapa negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

Namun dengan kerja keras berbagai pihak, sejak 2017 lalu, jumlah publikasi ilmiah internasional sudah mampu melewati PT di Thailand dan Singapura. Bahkan pada September 2019 jumlah publikasi internasional berjumlah 33.800 artikel sudah di atas Malaysia yang memiliki 33.300 artikel.

“Kami mendorong kualitas dosen khususnya dalam melakukan penelitian dan publikasi ilmiah Kemenristekdikti juga memiliki program unggulan yaitu VCT World Class Profesor, program ini juga diarahkan untuk mendukung program World Class University, dilakukan dengan mendatangkan profesor dari luar negeri,” jelasnya.

Bunyamin juga menjelaskan Permenristekdikti No 20 Tahun 2017 terkait karya ilmiah guru besar. Apabila seorang profesor selama tiga tahun tidak aktif dan tidak memiliki karya ilmiah, maka tunjangan kehormatannya akan dikurangi.

“(Gelar profesor) itu tidak hilang sama sekali dan itu tujuannya untuk mendongkrak. Tapi (aturan) itu tidak terlalu berat, karena beda kalau mau jadi profesor harus (diterbitkan di) jurnal bereputasi dan menjadi penulis pertama, kalau yang ini tidak,” ungkapnya.

Terkait dengan pengukuhan guru besar Prof Dr Drs Suparno MSi dan Prof Dr Retno Mawarini Sukmariningsih SH MHum, Bunyamin berharap agar jabatan profesor itu bukan harapan terakhir setelah