Napi Lapas Kedungpane Kendalikan Bisnis Sabu

515
TIDAK KAPOK: Tersangka peredaran sabu yang diamankan aparat Ditresnarkoba Polda Jateng.(ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)
TIDAK KAPOK: Tersangka peredaran sabu yang diamankan aparat Ditresnarkoba Polda Jateng.(ADITYO DWI/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG- Dua pria ditangkap anggota Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jateng terkait peredaran narkotika jenis sabu. Barang bukti yang diamankan sabu seberat 2,2 kilogram dan pil ekstasi sebanyak 226 butir. Ironisnya, peredaran sabu ini dikendalikan narapidana yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Kedungpane, Semarang.

Tersangka berinisial LLK dan VMT alias Marhen, kos di Jalan Bungur, Kelurahan Punggawan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Keduanya ditangkap di tempat kos pada Kamis (5/9) sekitar pukul 13.15. Sedangkan pengendali peredaran sabu ini adalah Maryanto alias MR alias Memble, napi penghuni Lapas Kedungpane.

Penangkapan ini berawal saat petugas mendapat informasi adanya transaksi sabu di wilayah hukum Polda Jateng, tepatnya di wilayah Surakarta. Petugas pun melakukan penyelidikan dan menemukan seorang pria yang dicurigai melakukan transaksi. Hingga akhirnya pria yang diketahui berinisial LLK tersebut berhasil diamankan.

“Pada saat dilakukan penggeledahan ditemukan barang bukti 100 pil ekstasi dan 1 paket sabu dalam plastik kecil,” ungkap Dirresnarkoba Polda Jateng Kombes Pol Wachyono kepada Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Jumat (6/9).

Dari penangkapan ini, petugas melakukan pengembangan dan melakukan penggeledahan di kamar kos LLK. Hasilnya, petugas berhasil menangkap tersangka VMT alias Marhen, yang kebetulan berada di dalam kamar kos LLK.

“Dari hasil penggeledahan ditemukan barang bukti 29 peket sabu siap edar. Total keseluruhan 2.202 gram atau 2,2 kilogram dan ekstasi sebanyak 166 butir. Selain itu juga ditemukan satu unit senjata airsoft gun. Ini masih kita dalami, darimana mereka mendapat airsoft gun itu,” katanya.

Keterangan kedua tersangka yang diamankan, sabu tersebut didapatkan dari narapidana yang mendekam di dalam Lapas Kedungpane berinisial MR alias Memble. Dari pengakuan ini, petugas berkoordinasi dengan petugas Lapas Kedungpane Semarang untuk melakukan penangkapan dan penggeledahan ruang yang dihuni narapidana tersebut.

” LLK dan VMT berperan sebagai kurir, dikendalikan oleh MR. Dari hasil penggeledahan di sel napi tersebut, petugas menyita satu unit handphone yang digunakan untuk berkomunikasi dengan kurir. Hasil tes urine terhadap MR juga positif  mengkonsumsi sabu,” terangnya.

Dijelaskan, MR alias Memble mendekam di dalam bui terkait kasus yang sama. Ia menjadi pengendali bisnis narkotika dan ditangkap pada 2016. Dalam sidang, ia divonis penjara 14 tahun 6 bulan serta pidana denda sebesar Rp 3 miliar. Sedangkan dua kurir itu,  menurut Wachyono, baru beroperasi satu bulan.

“Pengakuan keduanya akan mendapat upah Rp 20 juta setiap penjualan ini. Kan dipecah-pecah, dijual ke bandar kecil. Peredarannya di wilayah Surakarta, sudah ada 5 gram yang beredar. Kalau tersangka MR sudah tertangkap 3 kali,” jelasnya.

“Ini masih kita dalami, karena tersangka yang mendekam di lapas ini belum mau mengaku. Dari mana mendapat barang ini,” lanjutnya.

Tersangka VMT mengaku, mengedarkan barang tersebut setelah mendapat perintah dari tersangka Memble. Namun demikian, laki-laki yang mengaku bekerja di mebel ini belum mendapat upah, meski telah mengambil barang tersebut di suatu tempat yang telah ditentukan.

“Belum dikasih. Ini (airsoft gun) belum pernah digunakan, ini rusak. Kenal sama dia (Memble) dikenalkan Pak Iksan, dia juga napi di Solo,” bebernya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Kelas 1 Semarang Tribowo mengatakan akan terus meningkatkan pengamanan guna mencegah peredaran narkotika yang melibatkan narapidana.

“Kita selalu berkomitmen untuk memberantas peredaran narkotika. Sweeping di kamar napi rutin dilakukan seminggu dua kali, semua petugas turun ke bawah. Selain itu kita juga insidentil melakukan penggeledahan-penggeledahan terkait barang-barang terlarang lainnya,” katanya.

Saat ini, ketiga tersangka masih mendekam di sel tahanan Mapolda Jateng. Akibat perbuatannya, mereka akan dijerat pasal 114 ayat (2) subsider pasal 112 ayat (2) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman seumur hidup, bahkan sampai hukuman mati. (mha/aro)