Meriahkan O2SN, Gelar Pameran Pendidikan

333
UNJUK KARYA SISWA : SMA Migas Ceu dalam proses pembuatan miniatur mesin migas dengan alat digital grafir saat pameran pendidikan di halaman Musuem Ronggowarsito, Kota Semarang, Selasa (27/8) kemarin. Tak hanya itu, berbagai inovasi pelajar dipamerkan di gelaran Olimpiade Olahraga Nasional (O2SN) sampai dengan 31 Agustus 2019. (NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)
UNJUK KARYA SISWA : SMA Migas Ceu dalam proses pembuatan miniatur mesin migas dengan alat digital grafir saat pameran pendidikan di halaman Musuem Ronggowarsito, Kota Semarang, Selasa (27/8) kemarin. Tak hanya itu, berbagai inovasi pelajar dipamerkan di gelaran Olimpiade Olahraga Nasional (O2SN) sampai dengan 31 Agustus 2019. (NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng memeriahkan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dengan pameran pendidikan. Ada 40 stan di antaranya lima UMKM dari 36 SMA/SMK dan 6 SMP.

Koordinator Pameran, Suci Astuti menceritakan bahwa pameran tersebut untuk mendukung sekaligus memeriahkan kegiatan olimpiade olah raga. Tidak ada kententuan sekolah mana yang bisa mengikuti pameran.

“Disdikbud Jateng telah mengirim surat tiap dinas maupun per karesidenan. Seharusnya masing-masing mengirimkan perwakilan dua sekolah, satu SMA dan satu SMK untuk mengikuti pameran pendidikan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (27/8).

Kota Semarang merupakan tuan rumah mengirimkan 6 SMA/SMK dan 5 SMP. Pameran pendidikan ini menjadi ajang pertunjukan hasil kerja tiap sekolah. Terutama tingkat SMK yang memiliki inovasi bermacam-macam.

“Banyak inovasi yang dibawa dari daerah, terutama SMK mulai dari motor listrik maupun alat 3D. Kegiatan ini menjadi ladang promosi para sekolah yang mengikuti. Apalagi pengunjung yang datang tidak hanya dari Kota Semarang,” tambahnya.

Empat sekolah dari Semarang, ada SMA Kesatrian, SMA 5 Semarang, SMA 3 Semarang, SMA Semesta, hingga SMK 9 Semarang. Inovasi yang dibawa para siswa pun beragam. Olahan jamu, limbah tahu, hingga limbah plastik rumah tangga yang dibentuk tas dan taplak meja.

“Kami membawa tas dari limbah plastik rumah tangga seperti bungkus sabun cuci, dan baju yang didesain oleh teman-teman difabel. Kami ingin menunjukkan ke masyarakat tentang pendidikan moral yang harus dibawa ke lingkungan sekitar,” jelas siswi SMA negeri 5 Semarang, Anglir Ratna. (ria/ida)