Minta Kota Lama Bebas Kendaraan Bermotor

Jembatan Berok Kembali Buka-Tutup

235
TAWARKAN KENYAMANAN : Wisatawan sedang menikmati sepeda wisata di kawasan Kota Lama Kota Semarang tanpa merasa terganggu oleh kendaraan bermotor.   (NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)
TAWARKAN KENYAMANAN : Wisatawan sedang menikmati sepeda wisata di kawasan Kota Lama Kota Semarang tanpa merasa terganggu oleh kendaraan bermotor.   (NUR CHAMIM/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG  – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menginginkan Kota Lama Semarang terbebas dari kendaraan bermotor. Hanya sepeda onthel yang menjadi alat transportasi menuju titik-titik di Kota Lama. Dalam hal ini, Gubernur membayangkan kawasan Kota Lama benar-benar menjadi tempat nyaman dan mengesankan.

”Kendaraan bermotor harus parkir di tempat yang khusus disediakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang,” ujarnya saat menerima Panitia Festival Kota Lama di Puri Gedeh, Senin (12/8).

Berkaca dari Kota Lama Arbat di Moskwa, Rusia, Gubernur mengatakan, Kota Lama akan lebih cantik ketika semua bebas dari kendaraan. Gedung-gedung hidup dan menjadi pusat kreativitas. ”Car free day zone setiap hari. Parkiran disiapkan. Polusi dihilangkan,” ujarnya melukiskan hasil perjalanannya ke Rusia Minggu lalu.

Arbat, diceritakan, dengan bangunan lama yang eksotik, setting sejarah di sepanjang jalan dan lingkungannya, menjadi cermin keberhasilan manajemen kota. Kondisi seperti ini kemudian dapat dijadikan ikon yang ’menjual’. Mendatangkan kesejahteraan bagi warga dan meningkatkan pendapatan bagi pemerintah kota. ”Arbat pun menjadi titik yang ”wajib” dikunjungi wisatawan ke Rusia,” ujarnya menekankan.

Dalam kunjungannya, Gubernur mengaku terpukau dengan sungai yang mengelilingi kota tua di Rusia. Di salah satu sudutnya, ada jembatan kecil yang bisa dibuka tutup. Ia pun mengusulkan Jembatan Berok bisa dibuka tutup kembali. Seperti dulu. Sehingga Kali Semarang bisa dilalui perahu-perahu wisata untuk mendukung keberadaan Kawasan Kota Lama.

”Saya berharap, Arbat bisa menjadi cermin bagi pengelolaan Kota Lama Semarang, yang sekarang mulai tertata dan dikembangkan. Kuncinya, kesungguhan menjadikannya sebagai kawasan wisata konservasi unggulan. Dengan segala detail pernak-perniknya,” ujarnya.

”Kota Lama bisa diorientasikan sebagai ekspresi eksotisitas sejarah yang dikemas secara gaul dan menjadi jalan seni,” imbuhnya.

Festival Kota Lama yang akan berlangsung 12-22 September 2019, dinilainya sudah oke. Festival ini, menurutnya, dapat menjadi pemantik Kota Lama yang lebih berkembang. ”Tapi saya minta juga menggandeng partner lokal, termasuk artis lokalnya. Tambah lagi seni digital, video mapping, itu akan membuat suasana lebih baru,” tandas Gubernur.

Ketua Panitia Festival Kota Lama 2019 Yeru Salimianto menjelaskan, kegiatan yang akan berlangsung di Eks Marabunta, Gedung Marabunta, Taman Kota Lama akan dimeriahkan dengan Pasar Sentilin, pameran, dance festival, street art, musik, parade, workshop, dan jelajah Kota Lama. ”Semuanya dikemas dengan tema besar Kuno Kini Nanti,” ujarnya. (sga/ida)