Dicekoki Ciu, Siswi SMP Digilir Empat Pemuda

582
BEJAT: Tiga tersangka saat digelandang petugas Polsek Genuk, kemarin.(M HARYANTO/RADARSEMARANG.ID)
BEJAT: Tiga tersangka saat digelandang petugas Polsek Genuk, kemarin.(M HARYANTO/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG -Tiga pemuda ditangkap aparat Reskrim Polsek Genuk lantaran melakukan aksi perkosaan terhadap gadis berinisial RP, 15, warga Kelurahan Bangatayu Kulon, Kecamatan Genuk. Ketiga pelaku adalah Julia Manda Sihotang, 19, warga Bangetayu Kulon; WH, 15, warga Kampung Bugen Utara Kelurahan Bangetayu Kulon, dan OT, 16, pelajar yang tinggal di Kampung Galar Kok, Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk.  Penangkapan ketiga pemuda bejat itu dilakukan setelah korban  yang masih duduk di bangku kelas VIII SMP di kawasan Genuk melapor ke Mapolsek Genuk didampingi keluarganya, Jumat (26/7) siang lalu.

Peristiwa perkosaan tersebut terjadi di kebun pisang samping Posyandu Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk.   Modus yang dilakukan para pelaku adalah lebih dulu mencekoki korban dengan minuman alkohol jenis ciu. Setelah korban tidak sadarkan diri, pelaku yang berjumlah empat orang langsung melancarkan rencana aksi bejatnya, yakni menyetubuhi korban secara bergiliran.  “Ada empat pelaku, tiga sudah tertangkap. Sedangkan satunya yang berinisial AR masih DPO (Daftar Pencarian Orang). Diduga AR sebagai otaknya,” kata Kapolsek Genuk Kompol Zaenul Arifin kepada RADARSEMARANG.ID, Rabu (7/8) kemarin.

Menurut Zaenul Arifin, pelaku ada yang masih tetangga korban. Sebelum  peristiwa itu, korban diajak pesta miras jenis ciu. Setelah tidak berdaya, para pelaku melakukan persetubuhan. Saat ditemukan oleh keluarganya, korban dalam kondisi tidak berdaya dan telanjang.

Kakak korban, NS, 22, mengaku mengetahui kejadian tersebut setelah terbangun dari tidurnya Jumat (26/7) sekitar pukul 01.30 lalu. Saat terbangun itu, NS tidak melihat adiknya yang hampir setiap hari tidur dalam satu kamar. Merasa penasaran, NS menanyakan ke ibunya dan berusaha mencari di dalam rumah, namun tidak menemukan.

“Saya terus nyari keluar rumah. Saya melihat ada sandal milik adik saya di tempat kos-kosan. Kemudian saya bertemu dengan AR, lari dari arah gang Posyandu. Saya tanya, kenopo kok mlayu-mlayu,” ceritanya.

Posyandu tersebut masih berada di satu kawasan dengan rumah korban. Setelah bertemu dengan AR dan mendapat jawaban adanya perkelahian. NS merasa penasaran, sebab tempat yang disebutkan AR ternyata tidak ada keributan. Dari sini NS pikirannya berkecamuk penasaran dan menaruh kecurigaan terhadap penyampaian AR.

Gak mungkin, padahal di gang  keluar Posyandu gak ada apa-apa. Di depan Posyandu itu saya mikir-mikir lagi, hingga terdengar suara kresek-kresek, kemudian saya masuk. Ibu saya ngejar dia (AR),” katanya.

NS kemudian berjalan menuju arah sumber suara di kebun pisang. Alangkah terkejutnya NS melihat adiknya sudah setengah telanjang tidak mengenakan celana dalam dengan kondisi tubuh terlentang tidak sadarkan diri. Seketika itu, NS langsung memapah adiknya untuk dibawa pulang ke rumah.

“Mulut adik saya bau ciu. Saat saya temukan dalam keadaan sudah tidak pakai celana dalam dan celana luar, hanya pakai baju saja,” terangnya.

Ia pun langsung menduga adiknya menjadi korban asusila. Karena itu, ia melaporkan kejadian itu ke Polsek Genuk.

Pelaku WH mengatakan, awalnya menenggak miras oplosan di sebuah rumah tidak jauh dari Posyandu Bangetayu Kulon sebanyak satu botol mineral ukuran 1,5 liter bersama AR. Setelah pesta miras, AR mengajak WH menuju lokasi kejadian bersama korban hingga akhirnya ikut menikmati tubuh korban. WH mengakui, menyetubuhi korban sebanyak empat kali, setelah AR dan OT. Sedangkan pengakuan OT dan WH, aksi bejat itu direncanakan oleh AR. “Saya hanya sekali, tidak sampai lima menit,” kata OT polos.

Akibat perbuatannya, para pelaku terancam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara.  Saat ini, polisi masih memburu pelaku berinisial AR yang diduga sebagai otak kejahatan ini. (mha/aro)