Kiai Nasionalis, Rendah Hati dan Penyayang

Isyarat Ingin Meninggal Selasa

418
KH Maimoen Zubair. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)
KH Maimoen Zubair. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Indonesia berduka. Ulama kharismatik KH Maimoen Zubair berpulang di Makkah, Selasa (6/8) pagi waktu setempat, dalam rangkaian ibadah haji. Kepergian KH Maimoen diiringi hujan deras menjelang subuh, seakan langit ikut bersedih.

Kepergian pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ponpes Al-Anwar, Sarang, Rembang ini memang menyisakan duka mendalam. Tak terkecuali bagi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bagi Ganjar, Mbah Moen –sapaan akrabnya- adalah kiai nasionalis yang selalu mendengungkan semangat kebangsaan, sejarah, dan patriotisme. Kiai yang menjadi rujukan bagi siapapun.

Dengan kebesaran yang dimilikinya, Mbah Moen juga sosok rendah hati. Satu hal yang membuatnya merinding adalah ketika mengingat pertemuan terakhirnya dengan Mbah Moen di kediamannya, Sarang, Rembang, 3 hari menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci.

”Bergetar hati saya karena sebelum beliau ke Mekkah saya sempat ke rumah beliau. Sebelum itu, saya bertemu Ibu Megawati. Ibu pengin ketemu Mbah Moen, maka saya menyampaikan kabar itu dan Mbah Moen bilang, luar biasa, ”Nggak usah…nggak usah, saya saja yang ke sana,” maka pertemuan ini terjadi. Sebelum Mbah Moen berangkat ke Mekkah mampir ketemu Bu Mega,” ujarnya menggambarkan betapa Mbah Moen adalah kiai yang bersahaja.

Pada pertemuan terakhirnya itu, gubernur berkesempatan salat Asar berdua di kamar Mbah Moen. Beberapa kali, saat itu, Mbah Moen diingatkan untuk salat Asar di masjid oleh santrinya. Namun, Mbah Moen menolak dan menghendaki untuk salat bersama Ganjar.

”Saya sampai di Sarang hampir jam 17.00. Saya mau salat Asar. Saya mau salat di masjid, tapi santrinya bilang ‘Nggak, mbah minta mas nunggu’. Mbah Moen ketika itu beberapa kali diingatkan santrinya untuk salat Asar, ”Ngko, aku karo Mas Ganjar wae”,” cerita gubernur. Selepas salat Mbah Moen meminta Ganjar duduk di sebelahnya. “Beliau tanya ke saya, sudah pernah didoakan Mbah Moen belum? Saya menjawab belum. Lalu, beliau mendoakan, saya mengamini,” ceritanya.

Ganjar sendiri sangat berkesan dengan sosok Mbah Moen. Sebab, di usia yang sudah sepuh, beliau tidak sambil duduk salatnya. Seperti biasa. Dan ketika hendak mau berdiri dari sujudnya, belau pegangan kasurnya. Artinya effort beliau sangat luar biasa. Saya merinding,” timpalnya. Hingga sore kemarin, Gubernur masih kesulitan menghubungi Gus Yasin untuk menanyakan kabar pemakaman Mbah Moen.

Ganjar terbilang dekat dengan Mbah Moen. Terlebih sejak putra Mbah Moen, Taj Yasin, diusulkan menjadi pendampingnya untuk memimpin Jawa Tengah. Saking dekatnya, semua hal bersama Mbah Moen masih terekam kuat diingatakannya.

”Saya sama Gus Yasin sejak kampanye, kemudian terpilih kita jalan pengajian bareng beliau. Beliau sosok penyayang, karena ketika saya datang selalu digandeng, dipeluk,” kenangnya.

”Bahkan saya merasa seperti lebih anaknya daripada Gus Yasin. Kebetulan tanggal lahirnya sama dengan saya. Ini yang sering kali beliau bercanda dengan saya,” ujarnya kepada Direktur Jawa Pos Radar Semarang Baehaqi bersama jajaran manajemen saat bersilaturahmi di Puri Gedeh, Selasa (6/8) sore.

Kepada Gubernur, Baehaqi menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya KH Maimoen Zubair. Mbah Moen merupakan ayah dari wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. ”Kami dari Radar Semarang menyampaikan turut berduka atas meninggalnya KH Maimoen Zubair,” ucap Baehaqi kepada Gubernur.

Ingin Meninggal Selasa

Sementara itu, kabar duka menyelimuti kelurga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Ponpes Al-Anwar, Sarang, Rembang. Mereka telah kehilangan Kiai karismatik KH Maimoen Zubair. Mbah Moen meninggal di usia 91 tahun usai menjalankan salat subuh, setelah mengeluhkan kurang enak badan. Mbah Moen meninggal saat perjalanan dibawa rumah sakit setempat. Tak ada wasiat sebelum menghembuskan nafas terakhir. Namun di beberapa kesempatan kiai kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928 ini, menyatakan ingin meninggal dunia di Tanah Suci. Termasuk menentukan harinya. Keinginannya Jumat. Tetapi Mbah Moen sudah memprediksi. Namun juga pernah menyampaikan Selasa menjadi hari meninggalnya nenek dan kakeknya.

”Keluarga semua tidak ada seperti ini (dapat wasiat, Red). Kami menyaring dari orang-orang, bahwa Abah (Mbah Moen) ingin meninggal di Makkah dan meninggalnya Hari Selasa,” kata Majid Kamil, putra Mbah Moen saat menggelar jumpa pers dengan awak media di kediaman Mbah Moen kemarin.

Pemakaman Mbah Moen akhirnya diputuskan keluarga di Makkah. Seluruh keluarga sudah merelakan. Karena yakin semua milik Allah dan pasti suatu ketika kembali. Inilah yang memantapkan keluarga besar Mbah Moen.

Sebelumnya, keluarga banyak mendapat saran agar dimakamkan di Indonesia. Tetapi akhirnya memantapkan diri dan merelakan dimakamkan di Makam Ma’la. Persemayamannya di dekat Sayidatina Khodijah al-Kubro, guru beliau Sayid Alawi Al Maliki dan Abuya Sayid Muhammad Alawi Al Maliki, serta dekat makam Habib Salim AS Syathiry.

”Di sana (Makkah, Red) ada kakak ipar saya Ufal Marom. Juga ada Asrokan Asrofi, Gus Hayat, Muhtarom, dan sebagainya dari santri Madura, sehingga keluarga tak ada yang ikut,” terangnya.

Pria yang juga ketua DPRD Rembang itu berharap kepada masyarakat agar usai Magrib tadi malam ada salat gaib. Dilanjutkan dengan tahlil dan doa di rumah duka.

Terkait keluarga hingga sore kemarin belum mengetahui agenda ke Makkah. Namun sesuai rencananya, Gus Kamil dan Taj Yasin (putra Mbah Moen yang juga Wagub Jateng) akan menyusul. ”Beberapa waktu lalu kami mimpi mengurus paspor untuk ke Makkah,” terangnya.

Mengenai kondisi terakhir sebelum wafat, Gus Kamil menuturkan, Mbah Moen mengaku merasakan linu-linu. ”Saya tanya apakah kebanyakan tamu, katanya tidak. Lalu memanggil dokter Zaky dan dilarikan RS Mustofa Annur,” katanya.

Kendati dimakamkan di Tanah Suci, rumah duka ramai yang takziyah. Santri juga memadati musala ponpes. Mereka bersama-sama membacakan surat Yasin. Suara lantunan juga terdengar di kompleks pesantren putri.

Terlihat pula beberapa santri kesayangan Mbah Moen. Di antaranya, Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’). Tamu besar lain, ada pengasuh Ma’had Ilmi Syar’i (MIS) KH Roghib Mabrur, dan KH Abdul Fatah dari Bangilan (mertua Gus Kamil).

Lalu pukul 11.38, rombongan Forkompimda Rembang, muspika, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah hadir. Tampak Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto.

Lantunan ayat suci masih berlanjut. Santri-santri dan tamu-tamu berdatangan. Aparat kepolisian dan linmas sibuk mengatur lalu-lintas yang padat merayap di Pantura area pesantren Al Anwar 1, Sarang, Rembang, yang satu kawasan dengan kediaman Mbah Moen. Saat itu sekitar pukul 14.00 di mushola Al Anwar depan rumah Mbah Moen masih ada aktivitas mengaji.

Tak berselang lama, sekitar pukul 14.30 beberapa tamu berdiri menyambut kedatangan Taj Yasin. Mereka bersalaman, ada yang mencium tangan, ada pula yang memeluk sembari menepuk punggung untuk menguatkan. Tampak dari raut wajah wabup Jateng itu habis menangis. Matanya sembab dan memerah.

Gus Yasin mengatakan, Mbah Moen kerap mewejangkan bahwa dunia ini memiliki tahapan-tahapan. Seperti Ahad dan Senin. Sementara penyempurnaan bumi ini dimulai pada Selasa dan Rabu. Ahad bermakna satu yang berarti milik Allah Subhanahuwata’ala. Yang kedua adalah makhluk. Yang dalam hal ini adalah manusia mulia Nabi Muhammad SAW.

”Nabi wafat pada hari Senin. Para pewaris nabi adalah ulama. Dan bumi ini disempurnakan pada hari Selasa. Memang beliau (Mabh Moen, Red) ingin meninggal hari Selasa. Beliau sering menyampaikan hal itu. Tapi tak langsung,” ujarnya.

Mbah Moen sendiri meninggalkan 10 anak. Mereka, Gus Ubab, Muhamad Najih, Sobiqah, Majib Kamil, Abdul Qofur, KH Abdul Rouf, KH Muhammad Wafi, Rodiyatul Ghorro, Taj Yasin, dan Muhamad Idror.

Sementara itu, makin petang area kediaman Mbah Moen makin dipadati para petakziyah. Termasuk di gang masuk menuju ndalem saat menjelang Magrib. Untuk menuju rumah itu, harus masuk sekitar 100 meter dari jalan raya. Para petakziah menunaikan Salat Magrib, kemudian dilanjutkan Salat Ghaib.

Sekitar pukul 19.00, para petakziah sudah keluar. Ada yang menikmati hidangan nasi boks yang sudah disediakan. Ada juga yang masuk ke ndalem.

Tetapi masih ada yang berdatangan. Para santri yang bertugas langsung mengarahkan warga yang baru dagang masuk ke Musala Al Anwar yang berada tepat di depan rumah Mbah Moen. Musala itu penuh. Mereka pun membentuk jamaah untuk Salat Ghaib hingga sekitar pukul 19.00 sudah berganti tiga kloter. ”Sudah tiga kloter ini (tadi malam sekitar pukul 19.00). Sampai saat ini paling jauh dari Jember,” ujar Kholid, santri yang mengarahkan warga.

Setelah Salat Ghaib, mereka langsung bertahlil dan bersalawat. Tak hanya di gang, di Masjid Jami’ Ponpes MIS yang berdekatan dengan Ponpes Al Anwar juga dipenuhi orang. Bahkan meluber hingga pondok. (sga/vah/noe/lin/aro)