Oknum Notaris Masih Tunjukkan Keangkuhan

623
TUNJUK JARI: I Nyoman Adi Rimbawan usai jalani sidang putusan sela di Pengadilan Negeri Semarang (jks/RadarSemarang.ID

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG-Majelis hakim memutuskan pemeriksaan perkara yang menjerat alumnus Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, sekaligus alumnus Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, I Nyoman Adi Rimbawan, 45, Bin Almarhum I Made Suta Adi, dilanjutkan. Dengan demikian perkara dugaan asusila terhadap korban berinisial S tersebut, akan langsung pada pemeriksaan saksi-saksi dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Dalam sidang beragendakan putusan sela itu tampak suasana berbeda, karena rombongan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dan Karangtaruna Kartini di tingkat Kota Semarang hadir memantau jalannya persidangan.

“Kedatangan kami ingin memberikan dukungan Kejati Jateng untuk memberikan tuntutan secara maksimal. Termasuk mendukung majelis hakim memberikan vonis paling berat ke pelaku dalam kasus itu. Namun demikian tetap harus melihat pembuktian di persidangan, karena kasus ini mendapat perhatian dari publik secara nasional,” kata Ketua Karang Taruna Kartini Kota Semarang, Okky Andaniswari, kepada RadarSemarang.ID, Kamis (1/8/2019).

Dalam kasus itu, yang membuat miris adalah sama sekali tak ada wajah penyesalan dari diri terdakwa. Yang ada justru aksinya yang masih memperlihatkan keangkuhan. Sejak terdakwa digelandang dengan tangan diborgol dan dikenakan rompi warna orange dari mobil tahanan hingga ruang tahanan pengadilan dan ruang sidang, I Nyoman masih sempat mengacungkan jari simbol fuck you. Kemudian mengepalkan tangan kedepan, selanjutnya menunjuk jari seperti pistol, yang dihadapkan di depan awak media. Bahkan nadanya terus meninggi tanpa menunjukkan raut wajah bersedih dengan mengatakan dirinya dikriminalisasi atas kasus itu.

“Dalam nama Yesus kasih saya masih banyak, kasus ini merupakan perbuatan kriminalisasi dari D. Karena ingin menceraikan saya dengan JM,” kata terdakwa I Nyoman Adi Rimbawan, yang juga tercatat sebagai notaris di Denpasar, Bali, ini.

Adapun hasil putusan sela kasus itu, dijelaskan salah satu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng, Pujianti Purwaningsih, bahwa majelis hakim dalam putusannya menyatakan menolak eksepsi penasehat hukum (PH) terdakwa. Sehingga majelis menyatakan sah dakwaan penuntut umum dan meminta pemeriksaan perkara tetap dilanjutkan pada Rabu (7/8/2109).

“Kalau ancaman kurungannya untuk terdakwa bisa 20 tahun penjara. Tim jaksa ada lima orang, saya cuma salah satunya, inti kasusnya dia (I Nyoman) mencabuli anak dari usia 13 hingga 17 tahun,” kata jaksa. (jks/ap)