Prasasti Watu Lawang Desa, Ini Perkiraan Tim Ahli Cagar Budaya

264
PENINGGALAN SEJARAH: Yatini warga Dusun Pulihan, Tajuk, Getasan, Kabupaten Semarang tunjukkan posisi batu besar yang diyakini sebagai prasasti Watu Lawang, Senin (2/12). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
PENINGGALAN SEJARAH: Yatini warga Dusun Pulihan, Tajuk, Getasan, Kabupaten Semarang tunjukkan posisi batu besar yang diyakini sebagai prasasti Watu Lawang, Senin (2/12). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, UNGARAN – Batu besar yang diduga sebagai sebuah prasasti ditemukan di Dusun Pulihan, RT 1 RW 1 Tajuk, Getasan, Kabupaten Semarang sekitar seminggu lalu. Di batu tersebut tertulis inkripsi huruf Jawa kuno yang menunjukkan tahun 1343 Saka.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Semarang Tri Subekso menjelaskan, batu tersebut diduga kuat sebagai Prasasti Watu Lawang. Karena bentuknya menyerupai dua gerbang pintu besar dan di tengahnya ada sebuah batu yang diduga memiliki makna tertentu. Desa Tajuk berada di lereng Gunung Merbabu yang dikenal sebagai tempat memproduksi naskah kuna keagamaan.

“Prasasti Watu Lawang Desa Tajuk diduga kuat menunjukkan angka tahun 1343 Saka atau 1421 Masehi. Kronologi ini bersamaan dengan masa menjelang runtuhnya Majapahit. Penempatan batu ini, dimungkinkan memiliki makna tertentu. Terlebih tidak jauh dari lokasi temuan ada mata air dan alur sungai,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (2/12).

Dijelaskan juga, temuan prasasti tersebut diduga kuat berhubungan dengan beberapa artefak dan naskah kuna yang sudah ditemukan di Kecamatan Getasan. Di antaranya Prasasti Ngadoman bertahun 1371 Saka yang saat ini tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Kemudian ada dua prasasti lagi berdasarkan kajian Balai Arkeologi Jogjakarta pada 1986, tentang Prasasti Yayasan Sanjaya bertahun 1269 Saka dan Prasasti Angka Tahun 1269.

“Yang kita ketahui, pada kurun waktu ini, aktivitas keagamaan justru berkembang pesat di lereng-lereng gunung, seperti di Merbabu. Skriptorium sebagai tempat menghasilkan karya sastra tersebar di berbagai lokasi Gunung Merbabu, salah satunya di sisi utara di mana Desa Tajuk ini berada. Ini masih perlu kajian lebih detil lagi untuk mengungkap makna simbol peletakan batuan arkeologis tersebut,” lanjutnya.

Prasasti Watu Lawang memiliki pungtuasi (penanda) yang sama dengan ciri-ciri dalam naskah lontar Merapi-Merbabu, yang mana ini telah membedakannya dengan gaya Jawa Kuno Majapahitan. Dikatakan juga besar kemungkinan, keberadaan prasasti Watu Lawang berhubungan dengan kehidupan sastra-ajar para pujangga dan pertapa yang tinggal di lingkungan sastra-mandala atau kadewaguruan di sisi utara Gunung Merbabu.

Ketika koran ini menuju lokasi, jarak prasasti kuno dengan permukiman warga cukup jauh. Sekitar 700 meter, melewati kebun dan hutan. Salah satu warga Yatini menceritakan batu tersebut sudah sejak lama berada di lokasi tersebut. Batu yang berukuran dimensi panjang 176 cm, lebar 97 cm, dan tebal 31 cm sementara batu satunya berukuran panjang 140 cm, lebar 73 cm, dan tebal 34 cm. Batu tersebut sering dipercaya bisa memberikan nomor togel hingga mengabulkan keinginan. “Katanya yang bisa memeluk baru tersebut dengan kedua tangannya membentang, yang diminta terkabul. Orang sini sih, tidak percaya. Biasanya yang datang justru dari luar kota seperti Semarang, Tegal, Blora,” ceritanya di depan prasasti tersebut.

Ia juga menjelaskan, Warin Darsono yang melaporkan adanya batu tersebut. Menurut informasi yang ia dapat, nantinya akan dibuatkan jalan menuju batu tersebut. Memang saat ini akses untuk menuju ke prasasti tersebut sangat membahayakan. “Dari pembuatan dekat wisata Kalipasang itu nanti katanya akan ada jalan menuju ke sini,” jelasnya. (ria/ton)