Tak Lagi Miskin, 256 Ribu Mundur dari PKH

267
WISUDA PKH : Gubernur Ganjar Pranowo berbincang dengan warga di acara Program Keluarga Harapan (PKH) Jateng Fest 2019 “Pelangi Jawa Tengah” di GOR Wujil, Kabupaten Semarang, Selasa (19/11). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
WISUDA PKH : Gubernur Ganjar Pranowo berbincang dengan warga di acara Program Keluarga Harapan (PKH) Jateng Fest 2019 “Pelangi Jawa Tengah” di GOR Wujil, Kabupaten Semarang, Selasa (19/11). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, UNGARAN – Program Keluarga Harapan (PKH) yang diluncurkan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan mulai membuahkan hasil. Pelan namun pasti, para penerima manfaat PKH mulai bangkit dari kemiskinan dan menjadi keluarga mampu.

Di Jawa Tengah, tercatat sudah ada 256.224 penerima PKH yang mengundurkan diri. Mereka menyatakan sudah mampu dan tidak mau menerima bantuan dari pemerintah lagi.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyambut baik keberhasilan PKH dalam membantu pengentasan kemiskinan di Jateng. Namun yang membuatnya bangga, adalah kesadaran masyarakat yang menyatakan mundur dari program bantuan itu.

“Saya acungi jempol dan berikan penghormatan kepada masyarakat yang menyatakan mundur dari PKH. Mereka menyatakan bahwa hari ini saya sudah mampu. Maaf saya tidak miskin lagi, sudah mandiri dan bantuan ini lebih baik untuk mereka yang membutuhkan. Ini sikap yang benar-benar saya banggakan dari warga saya,” kata Ganjar saat menghadiri PKH Jateng Fest 2019 di GOR Wujil Ungaran Kabupaten Semarang, Selasa (19/11).

Menurut Ganjar, kesadaran sangat penting untuk menyukseskan program bantuan dari pemerintah. Masyarakat yang merasa sudah mampu dan berani menolak bantuan, adalah pribadi yang patut dicontoh. “Dengan begitu, maka bantuan-bantuan dari pemerintah menjadi tepat sasaran dan pengentasan kemiskinan akan lebih cepat,” tegasnya.

Meski sudah mundur dari PKH, namun Ganjar memastikan tetap akan melakukan pendampingan. Mereka akan diberikan pendampingan, pelatihan bahkan akses modal untuk semakin berdikari.

“Mayoritas mereka yang mundur sudah memiliki usaha. Sekarang Dinas UKM bisa masuk, Dinas Koperasi atau Perdagangan untuk mendampingi mereka. Tetap akan kami kawal, apakah pemberian pelatihan, akses modal hingga pemasaran, agar bisnis mereka semakin maju lagi,” pungkasnya.

Dalam acara PKH Jateng Fest itu, Ganjar juga mewisuda beberapa penerima PKH yang sudah mampu. Secara simbolis, Ganjar mewisuda dan memberikan bantuan kepada tiga penerima PKH yang mengundurkan diri.

Di lain sisi, Koordinator Wilayah PKH Jateng, Arif Rohman Muis mengatakan bahwa program tersebut dari pusat sejak tahun 2006. Namun sejak 2015 sudah ada 256.224 penerima PKH Jateng yang diwisuda. Selain karena sudah tidak memiliki komponen sebagai syarat penerima PKH, sebagian besar mengundurkan diri karena menyatakan sudah mampu.

“Di tahun 2019 ini, ada sebanyak 17.060 penerima PKH di Jateng yang diwisuda. Jumlah itu akan terus meningkat karena setiap hari selalu ada data baru,” kata dia.

Mereka-mereka yang sudah lulus, lanjut Arif, tidak dilepas begitu saja. Justru, mereka selalu dilibatkan dalam pertemuan untuk memotivasi penerima manfaat lain agar bisa mandiri.

“Mereka kami jadikan motivator untuk penerima PKH lain agar menjadi mandiri. Tak jarang pula, mereka yang punya bisnis ikut mengajak penerima PKH lain bergabung dan bersama-sama mewujudkan keluarga sejahtera,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu warga yang mengundurkan diri Gunarsih, 37, dari Dusun Bojong Desa Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang. Ia mengaku usaha yang digelutinya bersama suami dan adik, sudah memiliki omzet yang lumayan, belasan juta. Yakni, usaha betiti usus atau membersihkan usus ayam. Kini ia memiliki konco rekoso (pegawai) hingga 19 orang. “Kami terdaftar menerima bantuan sejak delapan tahun lalu,” tuturnya.

Dulu, dirinya menjadi buruh tani hanya dibayar Rp 25 ribu per hari. Sedangkan suaminya bekerja sebagai buruh bangunan dengan bayaran Rp 35 ribu per hari.

Bersyukur, Gunarsih menerima uang bantuan sebesar Rp 1 juta per tiga bulan. Mulai perlahan menggandeng keluarganya untuk membuka usaha. Mulai dari bahan mentah usus, kepala, hingga kaki ayam menjadi olahan siap santap. Ia dan suami memutuskan mengundurkan diri dari buruh tani. “Bersyukur, sejak tiga tahun belakangan usahanya mengalami pertumbuhan di atas dana yang pernah diterima,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang usai menerima award.  (ria/lhr/ida)