Matangkan Skema Modal Usaha Perternakan

106
TERNAK UNGGAS: Menteri Pertanian Republik Indonesia Syahrul Yasin Limpo meninjau rumah unggas Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, Selasa (19/11). (MARIA NOVENA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERNAK UNGGAS: Menteri Pertanian Republik Indonesia Syahrul Yasin Limpo meninjau rumah unggas Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, Selasa (19/11). (MARIA NOVENA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARNG.ID, UNGARAN – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendatangi rumah unggas Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Selasa (19/11). Ia pastikan pengadaan modal usaha untuk warga Jawa Tengah dibawah bunga 40 persen.

Syahrul Yasin Limpo dalam tinjauannya mengatakan banyak keluhan yang berkaitan dengan dana modal usaha di sektor pertanian dan peternakan ini dipastikan tidak dengan bunga tinggi. Ia menceritakan permintaan modal dalam satu kelompok tani hingga Rp 500 juta.

“Saya sudah berkomitmen dengan Gubernur Jawa Tengah (Ganjar Pranowo, red) modal usaha yang dibutuhkan kelompok di bidang pertanian maupun peternakan tidak tinggi bunganya. Harus ada pemodalan. Jangan sampai rakyat malah mengambil pinjaman dari bank lain yang punya bunga hingga 40 persen. Itu justru akan membebankan rakyat dan akhirnya gagal usahanya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menilai peternakan di Indonesia khususnya di Jateng masih sangat terbuka. Tidak hanya untuk bahan pokok namun bisa menjadi energi perekonomian di Indonesia.”Ini potensi yang besar untuk meningkatkan sektor peternakan. Kedepan tidak hanya di wilayah Jawa saja. Harus bisa mencapai ekspor kedepannya,” lanjutnya.

Sementara Kepala BPTP Jawa Tengah, Joko Pramono mengungkapkan dalam seminggu unit pengelola bibit sumber ayam hanya mampu memenuhi permintaan sebesar 12 ribu ekor. Saat ini yang sedang dikembangkan adalah produksi makanan ternak dengan memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar peternak unggas. Dengan adanya pola ini, harga pakan ternak bisa ditekan. Jika biasanya harga pakan pabrikan berkisar Rp 6.200, produksi sendiri hanya Rp 4.500.

“Itu hanya sebagian kecil. Karenanya kita dorong asosiasi binaan awal untuk mengawal, sekaligus mendorong untuk menghasilkan DOC dengan bimbingan BPTP. Bahan yang dimanfaatkan bisa jagung, roti, tepung, tepung ikan. Pokoknya selama nilai proteinnya sama, maka nilai gizi juga sama,” bebernya.

Saat ini, lanjutnya, asosiasi peternak unggas DOC binaan BPTP sudah ada di 33 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kemampuan indukan kan terbatas, kelompok harus bisa menghasilkan DOC agar tidak semata terfokus di BPTP. (ria/bas)