Kualitas Udara Kawasan Industri Menurun

124
ILUSTRASI: Padatnya kendaraan pribadi di daerah  Kabupaten Semarang, Jumat (11/10). (Mari Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
ILUSTRASI: Padatnya kendaraan pribadi di daerah  Kabupaten Semarang, Jumat (11/10). (Mari Novena/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, UNGARAN – Kualitas udara di Kabupaten Semarang mulai dikeluhkan. Selain karena polusi, kondisi ini diperparah dengan kemarau panjang. Salah satu warga Nur Ardyansah Putra mengeluhkan batuk yang sudah kurang lebih  seminggu.

Warga Ungaran yang bekerja sebagai buruh pabrik di Kecamatan Bawen ini pun harus mengenakan masker. Untuk tetap bisa beraktivitas, pria ini mengenakan masker dan tetap mengonsumsi obat yang ia peroleh dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).”Sudah seminggu ini batuk dan sekarang udara terasa berat dan panas,” ungkapnya.

Menurunnya kualitas udara tersebut selain karena aktivitas manusia seperti asap kendaraan bermotor juga adanya faktor cuaca. Musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga November 2019 semakin memperburuk hal tersebut.

“Ketika udara yang kering dan berdebu mengakibatkan mata perih. Selain itu kemampuan penglihatan  berkendara juga menjadi terhambat akibat cuaca karena kendaraan besar yang melintas di jalan provinsi di Ungaran,” lanjutnya.

Sementara itu terpisah Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang, Nurhadi Subroto, mengatakan pemerintah terus melakukan kontrol terhadap kualitas udara. Saat ini ada 16 alat pengontrol indeks kualitas lingkungan hidup.

Namun, melihat luasan wilayah Kabupaten Semarang, kualitas udara tak dapat disamakan. Menurutnya, kualitas udara di daerah pegunungan berbeda dengan daerah industri maupun di jalan utama atau jalan Provinsi.

“Ya memang karena luasan Kabupaten Semarang, kualitas udara tidak bisa disamakan. Daerah pegunungan tentu beda dengan yang di daerah industri dan jalan-jalan raya utama. Kualitas udara yang kurang baik umumnya ada di daerah industri seperti di Kecamatan Bawen dan Kecamatan Pringapus,” tanggapanya.