Kirab Budaya Susruk, Ini Pesan Wali Kota Semarang

152
KEMBANGKAN KEARIFAN LOKAL: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat menuang jenang, makanan khas Gondoriyo. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KEMBANGKAN KEARIFAN LOKAL: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat menuang jenang, makanan khas Gondoriyo. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG Sebagai destinasi wisata baru, Curug Gondoriyo masih memiliki banyak kekurangan. Utamanya akses menuju lokasi. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang sempat meninjau objek wisata alam tersebut bakal melakukan pembenahan.

Akses wisata Curug Gondoriyo akan dipaving dan menambah lampu penerangan. Menurutnya, akses menuju lokasi dari jalan raya masih dalam kategori belum layak sebagai destinasi wisata, jalan tanah.

“Yang harus dicermati adalah jalan menuju tempat ini. Harus mudah dijangkau. Artinya kalau orang pakai kendaraan pribadi, kendaraanya harus bisa sampai parkiran dekat sini. Yang kedua, rute-rute transportasi umum akan bisa mengarah ke sini,” kata Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, di sela acara Kirab Budaya Susruk Wangan di Desa Gondoriyo Minggu (1/12).

Selain itu, Hendi juga akan memasang lampu sebagai penerangan jalan. Menurutnya, antusiasme masyarakat untuk menciptakan destinsi wisata Curug Gondoriyo ini sangat tinggi. Mulai dari penataan wilayah dan menampilkan budaya-budaya khas kearifan lokal.

“Nah, dua hal itu yang harus dipikirkan. Tadi lihat ada jalan yang belum terpasang paving, ya minggu depan segeralah akan kita selesaikan,” ujarnya.

Curug Gondoriyo mulai awal tahun 2019 menarik banyak minat wisatawan. Salah satunya karena pengelola mempercantik curug saat malam hari menggunakan lampu warna-warni. Curug setinggi 20 meter ini juga unik karena terdapat gua sepanjang 2.5 meter di dalam air terjun.

Hendi juga berpesan agar Gondoriyo menggelar atraksi kesenian sebagai pemikat wisatawan secara kontinyu. “Kesenian itu harus rutin diadakan, sehingga orang datang ke sini tidak hanya menikmati kecantikan curug ini tapi juga ada event atraksi, ada lesung, setap hari ada yang masak jenang, jangan setahun sekali” pesan Hendi.

Gondoriyo sendiri memiliki sejumlah kesenian yang dapat dikategorikan sebagai wisata kearifan lokal karena memiliki sejumlah kesenian berupa Susrukwangan dan gejluk lesung. Hingga ragam kuliner lokal seperti Jenang Gondoriyo, Nasi Bleduk dan Wedang Sinom.

“Maka ini perlu dikemas yang baik, kalau atraksinya sudah oke, maka yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kita merawat ini supaya keberlangsungannya ada terus,” ungkap Hendi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari menambahkan, pihaknya sudah menambah faktor keamanan sesuai  SOP (Standar Operasional Prosedur, Red). “Tentu ke depannya harus ada inovasi lagi,” tuturnya.

Sementara, Lurah Gondoriyo, Totok Indarto mengatakan sejak 2018 telah menggali potensi dan kearifan lokal masyarakat Gondoriyo. Namun ini baru kali pertama diadakannya kirab budaya Susruk Wangan.

“Susruk wangan itu kerja bakti bersih-bersih saluran irigasi, di atas ada DAM di bawah ada sawah kelompok. Nah, di antara itu kan ada saluran irigasi, itu yang kami bersihkan. Ini juga akan menjadi acara tradisi tahunan Gondoriyo,” paparnya.

Dalam kirab tersebut, warga memikul tumpeng berisikan sayur mayur dan buah-buahan hasil bumi yang dibuat menggunung berukuran besar mengelilingi RW 04 Kelurahan Gondoriyo. Mengenakan pakaian adat Jawa berupa lurik dan kebaya, dan menampilkan tarian tradisional yang diiringi dengan tabuh lesung. (idf/zal)