Wates Unggulkan Sedekah Jamban dan Sampah

206
HIJAU : Lurah Wates Yulita Ekowati bersama warga berfoto di taman penghijauan RW 04, taman Edelweis. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HIJAU : Lurah Wates Yulita Ekowati bersama warga berfoto di taman penghijauan RW 04, taman Edelweis. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID,  SEMARANG-Warga RW 04 Kelurahan Wates Kecamatan Ngaliyan rajin menyisihkan sebagian harta untuk membantu warga lain yang kurang mampu. Sedekah Jamban, demikian mereka menyebutnya. Kegiatan ini menjadi prioritas untuk mengikuti Lomba Kampung Hebat kerjasama Jawa Pos Radar Semarang dengan Pemkot Semarang dalam kategori Kampung Hijau, Bersih dan Sehat.

Sedekah Jamban ini dicetuskan oleh Forum Kesehatan Kelurahan (FKK) sebagai inovasi untuk memajukan kesehatan kelurahan Wates. Lurah Wates, Yulita Ekowati mengatakan, ini merupakan sebuah inovasi di bidang kesehatan. “Kami mengambil jamban karena prinsipnya agar bisa diterima oleh warga masyarakat kurang mampu yang belum memiliki jamban. Warga mengumpulkan uang dalam setiap kegiatan PKK tingkat RT. Kemudian dengan itu warga memberikan sedekahnya di dalam toples-toples yang sudah diberi nama penerima bantuan,” jelasnya.

Anggota FKK Kelurahan Wates Jarod Mintarso mengatakan, pemberian bantuan tidak dalam bentuk uang melainkan material untuk membangun jamban tersebut. Seperti semen, paralon, wc dan lain-lain. “Dengan ini penyelenggara menyiapkan sistem gotong royong dalam pembuatannya. Sehingga kerukunan tetap tercipta,” tuturnya.

Warga juga memiliki program Sedekah Sampah yang akan dilaksanakan mulai Januari 2020 mendatang. Program ini juga merupakan gerakan sosial untuk membantu warga yang kurang mampu. Pengolahan sampah yang akan disedekahkan ini dilakukan oleh ibu-ibu dalam membantu pemerintah menjalankan program, salah satunya Universal Health Converage (UHC).

Yulita mengatakan, warga akan menyedekahkan sampah untuk dijual. Hasil penjualan akan disedekahkan untuk biaya pengobatan kesehatan warga kurang mampu. Sedekah sampah ini menggunakan sistem bagi hasil. “Misalnya kita jual sampah seharga Rp 100 ribu, yang Rp 60 ribu itu milik yang menjual dan Rp. 40 ribu untuk disedekahkan dan membantu warga mengikuti program penghijauan maupun UHC,” katanya.

Disamping dua program tersebut, Kelurahan Wates juga menggalakkan penghijauan. Memiliki lokasi yang sudah cukup asri membuat kelurahan Wates tak begitu kesulitan dalam menjalankan program penghijauan. “Di sini memang loaksinya sudah wilayah hijau dan banyak sekali tanaman yang bisa diolah. Kita berinovasi untuk tanaman bisa dimanfaatkan. Ada tanaman teleng, satu sisi untuk tanaman di rumah sisi lain untuk berbagai macam bentuk seperti minuman dan pewarna makanan,” tukasnya.

Ia menerapkan di setiap rumah minimal ada lima tanaman di halaman rumah. Hal tersebut bertujuan untuk menghijaukan lingkungan. Penanaman bisa menggunkan kaleng atau bekas minyak, botol-botol bekas. Uniknya, setiap rumah diwajibkan untuk memelihara tanaman teleng sebagai ciri khas dari Kelurahan Wates. (cr5/ton)