Harus Jeli Memilih Telur Ayam

TELUR BERACUN

329
STABIL: Agus Mulyono, supplier telur ayam di Pasar Bulu, Semarang. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
STABIL: Agus Mulyono, supplier telur ayam di Pasar Bulu, Semarang. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Pemberitaan soal telur ayam yang mengandung zat berbahaya tidak memengaruhi penjualan di Kota Semarang. Di sejumlah pasar tradisional, penjualan telur ayam masih normal.

Sunarto, pedagang telur di Pasar Relokasi Johar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) mengaku, penjualan di tokonya tidak terpengaruh isu tersebut. “Kemarin sih sempat lihat sekilas di TV, toko kami tidak terpengaruh. Penjualan masih seperti biasa,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (19/11).

Diakui, masyarakat belum banyak mengetahui soal isu telur beracun tersebut. “Itu paling cuma isu untuk menjatuhkan peternak. Kami sih tidak tahu, paling beberapa hari isunya akan hilang,” katanya.

Sunarto menambahkan, telur yang dijual didapatkan langsung dari peternak di Boja, Kendal. Ia berharap, isu tersebut tidak benar adanya dan peternak menjaga kualitas telurnya. “Sehari biasanya habis 10 krat. Satu kratnya beratnya 10 kilo. Saat ini harga telur lagi turun Rp 22.500 per kg, kemarin Rp 23 ribu. Ya, saya rasa itu bukan karena isu telur beracun,” ujarnya.

Kasdi, pedagang lain tidak begitu mempercayai berita soal telur ayam beracun itu. “Kalau menurut saya, tidak mungkin bisa beracun. Di peternaknya kan pakannya juga jelas,” katanya.

Salah satu supplier telur ayam di Pasar Bulu Agus Mulyono mengatakan, hingga kini suplai telur ayam ke pdagang masih stabil. “Saya kirim telur dari Boja, setiap harinya memasok 40 peti telur. Belum dengar telur beracun, tahunya telur karet atau putih, kalau telur yang saya jual ini kan langsung dari kandang, tidak beracun,” tegasnya.

Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah Ngargono mengatakan, isu telur beracun belum ramai di Semarang. Hal itu lantaran untuk membuktikannya agak sulit. Menurutnya, efek dari dioksin yang diduga terkandung dalam telur ayam dapat berpotensi kanker. Untuk mengatasi hal itu, bisa mengadopsi program yang ada di Jawa Tengah dan nasional untuk sertifikasi pangan asal tumbuhan.

“Dalam rangka meredam isu ini, saya kira pemerintah harus memfasilitasi dan turun tangan untuk melakukan berbagai pengujian dan pemberian sertifikat bagi mereka yang betul-betul menginginkan sertifikat itu,” katanya.

Menurutnya, proses sertifikasi produk supaya aman memang membutuhkan waktu yang lama. Hal tersebut dikarenakan harus diteliti mulai dari penanaman, unsur tanah, proses budidaya dan pengelolaannya. Semua ini melihat apakah di dalamnya mengandung bahan-bahan yang telah diatur oleh regulasi dan mengandung sesuatu yang dilarang atau tidak

Ia mengimbau kepada konsumsen untuk jeli terhadap produk yang dibeli dan  memilih produk yang bersertifikat. Namun hal tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk memalsukan sertifikasi. Bagi Ngargono, yang paling aman bagi konsumen adalah mengetahui proses produksinya.  (cr3/cr5/aro)