Go-Food Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner

142
TERUS TUMBUH : VP Corporate Affairs Gojek, Michael Say dan ead Regional Corporate Affairs Gojek Indonesia Wilayah Jateng, Arum K Parsodjo, ketika memberikan keterangan perkembangan Gojek di Indonesia. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERUS TUMBUH : VP Corporate Affairs Gojek, Michael Say dan ead Regional Corporate Affairs Gojek Indonesia Wilayah Jateng, Arum K Parsodjo, ketika memberikan keterangan perkembangan Gojek di Indonesia. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Platform digital Gojek saat ini mulai berkembang dari tahun ke tahun. Aplikasi yang mulai diluncurkan tahun 2015 ini, mulai merambah pelaku UMKM di bidang kuliner. Bahkan dalam enam bulan terakhir, meningkat dua kali lipat.

VP Corporate Affairs Gojek, Michael Say mengatakan jika jumlah transaksi Go-Food meningkat dua kali lipat mencapai lebih dari 50 juta transaksi di seluruh Asia Tenggara setiap bulannya. Ini menjadi salah satu layanan yang tumbuh dan memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM dibidang kuliner.

Merchant yang tergabung di Go-Food 80 persen merupakan UMKM dan sisanya adalah merchant besar. Bahkan dalam 6 bulan terakhir, tercatat jumlah transaksi Go-Food meningkat dua kali lipat mencapai lebih dari 50 juta transaksi di seluruh Asia Tenggara setiap bulannya,” katanya saat ditemui di Semarang, Senin (21/10) kemarin.

Ia menerangkan, layanan pesan antarmakanan melului Go-Food saat ini masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan termasuk di Semarang. Misalnya adalah Leker Paimo yang belum lama ini digandeng sebagai merchant Go-Food dan membuka kedai tambahan untuk layanan pesan antar. “Bisnis layanan pesan-antarmakanan lewat Go-Food masih memiliki potensi yang sangat besar untuk terus berkembang,” jelasnya.

Dari sejarah Gojek sendiri, lanjut Michel, Gojek awalnya bukanlah penyedia jasa ojek online berbasis aplikasi, justru berbasis call center dengan operator. Nadiem Makariem dulunya, mengawali usaha itu karena sering menggunakan ojek pangkalan ketika bekerja dan melihat peluang tersebut. “Dulu Mas Nadiem juga menerima telepon order, kemudian menghubungi tukang ojek, mau diambil tidak ordernya,” bebernya.

Seiring berjalannya waktu, aplikasi Gojek diluncurkan tahun 2015. Saat itu, ada 3 layanan unggulan yaitu Go-Ride, Go-Send, dan Go-Shop. Berbagai layanan terus dikembangkan termasuk Go-Food. Kemudian di tahun 2016-2017 ditambah layanan lain seperti Go-Car dan Go-Pay. “Tahun 2017, Gojek sudah menjadi unicorn dan masih terus berkembang. Tahun 2018, Gojek ekspansi ke luar negeri yaitu Vietnam dan Singapura. Tahun ini ekspansi ke Filipina dan Thailand,” ucapnya.

Sampai saat ini aplikasi Gojek sudah diunduh sampai 155 juta kali termasuk di luar negeri. Di Indonesia Gojek sudah hadir di 207 kabupaten/kota dan memiliki lebih dari 1,7 juta mitra Gojek.

Sementara itu, Head Regional Corporate Affairs Gojek Indonesia Wilayah Jateng, Arum K Parsodjo menjelaskan jika Gojek saat ini terus berkembang di Semarang untuk mendukung program Smart City. “Pembayaran PBB, RSUD, 37 Puskesmas, Bus Trans Semarang bisa menggunakan aplikasi Gojek. Bahkan memberi tips pada pemusik jalanan sudah bisa menggunakan Gopay,” tambahnya.

Nadiem Makarim yang mendapatkan tawaran kursi menteri oleh Presiden Joko Widodo, kini telah mundur dari Gojek. “Nadiem sudah menyatakan mundur dari Gojek. Saat ini Gojek dipimpin 2 orang yakni Andre Soelistyo, Presiden Gojek Group dan Kevin Aluwi, Co-Founder Gojek akan berbagi tanggung jawab menjalankan perusahaan sebagai Co-CEO dengan fokus membawa perusahaan ke tahap selanjutnya,” pungkasnya. (den/ida)