Pesantren Bisa Akses Fasilitas Negara

106
DISKUSI UU PESANTREN- Jajaran pengurus NU Jateng dan PKB Jateng saat diskusi publik
DISKUSI UU PESANTREN- Jajaran pengurus NU Jateng dan PKB Jateng saat diskusi publik "Bedah Undang-Undang Pesantren" yang digelar di kantor PWNU Jateng di Semarang, Senin (7/10) malam. (IST)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Dunia pesantren harus bisa mengakses semua fasilitas negara. Sebab dunia pesantren, tak melulu soal pendidikan. Ada aspek budaya hingga ekonomi.

Hal itu diungkapkan Ketua DPW PKB Jawa Tengah KH M Yusuf Chudlori di sela diskusi publik “Bedah Undang-Undang Pesantren” yang digelar PWNU Jateng dan DPW PKB Jateng di kantor PWNU Senin (7/10) malam.

Acara diikuti Rois Syuriah PWNU KH Ubaidillah Shodaqoh, Ketua Tanfidz KH Muhammad Muzammil beserta badan otonom (banom), dan para pengurus. Hadir pula Dewan Syuro KH Badawi Basyir, Sekretaris DPW PKB Jateng Sukirman dan anggota Fraksi PKB serta sejumlah pimpinan ponpes di Jateng.

Gus Yusuf -panggilan akrabnya- menegaskan yang harus digarisbawahi dalam UU ini adalah adanya kepedulian negara kepada pesantren. Atas dasar itu, menurutnya masih banyak masukan dari berbagai pihak agar UU benar-benar selaras dan tepat sasaran. “Masih harus dibedah lagi, dan pengawalan. Karena nanti butuh peraturan menteri, hingga peraturan daerah provinsi atau kabupaten/kota,” katanya.

Ketua DPP PKB Bidang Pendidikan dan Pesantren ini menambahkan, dalam UU ini ada definisi pesantren. Mulai dari adanya kiai, masjid, madrasah, hingga adanya pendidikan khas, seperti kajian kitab kuning. “Ada rambu-rambu. Jadi bukan hanya ada papan, kemudian juga bisa disebut pesantren. Atau kemudian muncul pesantren-pesantren dadakan,” paparnya.

Ketua PWNU Jateng KH Muhammad Muzammil menyatakan, keberadaan pesantren harus terus berkibar untuk membangun karakter bangsa. Sementara itu anggota FPKB DPR RI Marwan Dasoppang mengatakan, lahirnya UU karena selama ini pesantren masih dianggap sebagai lembaga pendidikan yang baru lahir. “Padahal ada faktor historis juga. Pesantren juga mengajarkan nilai keislaman dan kebangsaan berupa cinta tanah air,” katanya.