Berbeda Warna Itu Indah Jika Toleran

PBAK MABA UIN Walisongo

86
FLASHMOB : Ribuan mahasiswa baru melaksanakan flashmob pada puncak acara PBAK di kampus III UIN Walisongo, Kamis (22/8) kemarin. (Dewi Akmalah/RADARSEMARANG.ID)
FLASHMOB : Ribuan mahasiswa baru melaksanakan flashmob pada puncak acara PBAK di kampus III UIN Walisongo, Kamis (22/8) kemarin. (Dewi Akmalah/RADARSEMARANG.ID)

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG–Sebanyak 4420 mahasiswa baru (MABA) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo melakukan flashmob dengan membawa balon beraneka warna sesuai fakultas masing-masing. Flashmob tersebut dilakukan dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) mulai 19 hingga 22 Agustus kemarin.

Meski berbeda warna, jika bersatu menjadi pemandangan indah dan mengagumkan. “Kami ingin nilai tersebut tidak hanya diterapkan saat orientasi mahasiswa, namun untuk kehidupan dalam kampus ke depan,” kata Ketua Panitia PBAK sekaligus Ketua DEMA UIN Walisongo, Pryo Ikhsan Aji.

Menurutnya, flashmob tersebut sangat ideal mengingat pelaksanaannya bertepatan dengan kasus pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Pihaknya ingin agar mahasiswa kampusnya tidak melakukan sesuatu hal yang negatif dan membedakan antarsesama. “Sehingga tercipta kehidupan kampus yang rukun, damai, berprestasi dan memiliki semangat toleransi yang tinggi,” harapnya.

Sementara itu Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Walisongo, Achmad Arief Budiman menuturkan bahwa PBAK merupakan instrumen penting dalam memberikan bekal kepada mahasiswa untuk memiliki orientasi wawasan yang jelas terhadap kampusnya. Maka dari itu, kegiatan tersebut menjadi agenda rutin yang wajib diikuti setiap mahasiswa baru. Selain itu, dirinya menginginkan setelah selesainya proses orientasi, mahasiswa akan memiliki cara pandang yang lebih tepat, lebih siap secara fisik dan mental untuk mengarungi studi yang harus mereka tempuh.

“Cara pandang mahasiswa baru perlu dibentuk. Sebab peralihan dari kehidupan SMA ke bangku kuliah sangat berbeda. Dunia kampus memiliki dinamika sendiri, sehingga memerlukan bekal cukup untuk menjalaninya. Harapannya, mereka dapat memiliki kompetensi dan dapat berprestasi secara optimal,” pungkanya. (akm/ida)