Pengusaha Karaoke Desak Satpol PP Kaji Ulang Penyegelan

416
Pingit Mahanani menunjukan surat permohonan pembukaan segel. (mha/radarsemarang.id)

RADARSEMARNG.ID, SEMARANG – Para pemilik karaoke sekitaran relokasi Pasar Johar Baru, di Jalan Arteri Sukarno-Hatta Kecamatan Gayamsari membantah tudingan adanya praktik prostitusi dan perjudian di tempat tersebut. Pihaknya meminta supaya penyegelan yang dilakukan Satpol PP Kota Semarang dilakukan peninjauan ulang.

“Saya tegaskan tidak ada praktik prostitusi dan perjudian. Ditempat kami pure karaoke, tidak ada praktik prostitusi atau judi tidak ada,” ungkap salah satu perwakilan dari pengusaha karaoke, Johar Baru, Pingit Mahanani, kepada RADARSEMARANG.ID, Senin (22/7).

Pingit membeberkan, tempat karaoke di relokasi Johar Baru yang disegel Satpol PP Kota Semarang beberapa hari lalu berjumlah 16 titik atau tempat. Menurutnya, berdirinya belasan tempat karaoke tersebut di atas lahan milik perorangan.

“Kami mewakili dari rekan rekan pemilik karaoke, kami berharap ada kebijaksanaan dari pemerintah, kami dalam hal ini tidak ada urusan dengan pihak ke tiga, karena lahan yang saya tempati disitu lahan pribadi. Kami akan merespons dengan baik kalau kami diajak berbicara. Tidak bisa sepihak seperti itu,” katanya.

Lanjut Pingit mengatakan, penyegelan yang dilakukan Satpol PP Kota Semarang tersebut dinilainya hanya sepihak, tanpa disertai adanya pemberitahuan dan sosialisasi sebelum melakukan penindakan penyegelan. Sehingga pihaknya mendorong supaya Satpol PP Kota Semarang melakukan pengkajian ulang terkait penyegelan tersebut.

“Menurut saya, penyegelan itu dalam hal ini Satpol PP harusnya didahului pemberitahuan dan sosialisasi, duduk bersama jangan langsung disegel seperti itu. Kami minta supaya penyegelan dikaji ulang,” tegasnya.

Akibat dari penyegelan tersebut, Pingit menyebutkan sangat berdampak terhadap kebutuhan hidup para pekerja karaoke yang jumlahnya mencapai kurang lebih sebanyak 160 orang, belum termasuk pemiliknya. Sehingga pihaknya sangat berkeinginan supaya Satpol PP melakukan peninjauan ulang terkait penyegelan tersebut.

“Makanya kami minta kebijaksanaan dengan Kasatpol untuk membuka poliseline atau segel tersebut. Kalau disisi perijinan kami nanti melengkapinya, ini masih dalam proses,” tegasnya.

Pingit menambahkan, bersedia mematuhi aturan dan ketentuan yang ada, termasuk jam operasional. Bahkan, siap berdampingan untuk bersama-sama melakukan pemberantasan praktik prostitusi dan perjudian di tempat tersebut.

“Kami bersedia kok misalkan berdampingan selaras, saling menghormati misalnya kok ada di MAJT ada kegiatan keagamaan, saya tutup sementara tidak apa-apa. Bisa komunikasi baik disampaikan ke kami. Kita tetap menjaga toleransi, menyesuaikan,” pungkasnya. (mha/ap)

Editor : Agus AP