Tangkal Radikalisme, MAJT akan Bentuk Forum Pengelola Tempat Ibadah

379
(BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
(BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) akan menginisiasi pembentukan Forum Pengelola Pusat Tempat Ibadah tingkat Jawa Tengah berlandaskan Pancasila. Dalam rangka menangkal paham radikalisme yang kerap memusatkan serangan di berbagai tempat ibadah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), KH Noor Achmad di sela acara Silaturahmi Ramadan Pengelola Pusat Ibadah, Dalam Rangka Mewujudkan Jawa Tengah Rukun Aman dan Damai di Aula VIP MAJT, Jalan Gajah Raya, Gayamsari, Senin (21/5).

Menurutnya, semua agama mengajarkan kasih sayang. Sedangkan munculnya terorisme di Indonesia, bukan ajaran asli agama dan bukan ajaran asli Indonesia. “Forum ini akan perkuat kebhinekaan, mempererat persaudaraan, sekaligus mempererat kerjasama silaturrahim antara satu dengan yang lain,” kata Noor Achmad.

Sedangkan tempat ibadah sebagai pusat iman, kerap dijadikan sasaran. Meski begitu, melalui tempat ibadah perlu terus mendeklarasikan kasih sayang dalam mengayomi umat. “Antar tempat ibadah, perlu saling memberikan informasi dan meningkatkan komunikasi dan saling berempati antara tempat ibadah satu dengan lainnya.

Sementara itu, dalam silaturahim antar umat beragama, ditegaskan bahwa Pancasila menjadi ideologi tunggal bangsa Indonesia. Pancasila menjadi rumah besar bagi penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 260 juta. Melalui keberagaman ini pula, persatuan dan kesatuan harus tetap dijaga, saling menghormati, menghargai serta menguatkan antara agama satu dengan agama lainnya.

“Silaturahmi antaragama diperlukan, untuk mengukuhkan kembali nilai-nilai dasar keberagaman Indonesia serta meciptakan Jateng yang rukun dan damai,” paparnya.

Staf Biro Kesra Pemrov Jateng, M Arifin Ilham mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, hubungan harmonis antaragama patut dilestarikan karena dapat menimbulkan kedamaian di Indonesia. Namun, pihaknya mengaku masih prihatin lantaran masih banyaknya ujaran kebencian di lapangan. “Ini tidak hanya mengancam kesatuan negara sudah sepatutnya bergandeng tangan, tidak tinggal diam,” kata dia.