Beranda Semarang Raya Semarang Pawai Budaya Srawung Keberagaman Lintas Agama

Pawai Budaya Srawung Keberagaman Lintas Agama

0
Pawai Budaya Srawung Keberagaman Lintas Agama
TOLERANSI: Pawai budaya puncak perayaan paskah yang dimulai dari kawasan Kota Lama menuju Balai Kota. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Perayaan Karnaval Paskah 2018 di Kota Semarang diikuti ribuan peserta dari lintas agama. Jumat (27/4) sekitar pukul 13.30, mereka berkumpul di depan Dream Museum Zone (DMZ) Jalan Branjangan Nomor 3-9, selanjutnya melakukan pawai budaya menuju Balai Kota Semarang.

Pawai tersebut dibuka dengan melakukan prosesi Jalan Salib atau Via Dolorosa oleh sejumlah aktor teater. Para pengunjung tampak antusias menyaksikan adegan demi adegan. Di awal pembukaan, tampak seorang pria setengah telanjang diseret oleh sejumlah tentara Romawi lengkap dengan senjata pedang dan cambuk.

Pria itu disiksa hingga bersimbah darah. Setelah lemas tak berdaya, kemudian disalip dalam kondisi tangan diikat di balok kayu. “Adegan dalam prosesi tersebut penggambaran sosok Yesus Kristus yang penuh kesengsaraan dengan segala pengorbanan untuk menebus dosa manusia,” kata Pendeta Nathan, kemarin.

Setelah prosesi Via Dolorosa selesai, peserta karnaval dilepas oleh Ketua Panitia Karnaval Paskah, Rukma Setiabudi, bersama sejumlah tokoh dan pejabat Pemkot Semarang.  “Prosesi Jalan Salib untuk mengenang kesengsaraan Yesus Kristus. Ini visualisasi pengorbanan Yesus yang mati disalip menebus dosa kita,” jelasnya.

Dikatakan Nathan, umat Kristiani memercayai bahwa tidak ada yang bisa menebus dosa sendirian. “Dia (Yesus Kristus) menebus dosa kita. Dia menderita hingga mati. Sekarang Yesus ada di kerajaan surga, dan akan dibangkitkan,” katanya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengatakan, perbedaan sudah semestinya bukan menjadi hal yang melemahkan. Tetapi sebaliknya menjadi sebuah kekuatan. “Kita tinggal di Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus bisa merawat dan menjaga keberanekaragaman. Jangan hanya klise dalam omongan saja. Tapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurutnya, sejauh ini Kota Semarang telah menerapkan itu. Sebab, Kota Semarang tetap menjaga keragamaan. “Kemarin ada pawai ogoh-ogoh, kali ini ada Karnaval Paskah. Termasuk sebelumnya juga ada parade budaya, arak-arakan laksamana Cheng Ho dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Kelenteng Sam Po Kong. Besok 12 Mei ada dugderan. Ini cerminan berbagai macam agama yang kemudian disengkuyung oleh kelompok pemeluk agama yang lain,” katanya.  (amu/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.