Pembangunan Tak Lebih 2 Tahun

Revitalisasi Pasar Karangayu

392

SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memastikan pembangunan Pasar Karangayu Semarang tidak lebih dari dua tahun. Karenanya, ia meminta masyarakat yang selama ini menolak rencana dilakukannya relokasi di lapangan RW I Kelurahan Karangayu, Semarang Barat tidak perlu khawatir.

”Tanah itu merupakan milik pemerintah. Sehingga ketika terjadi kerusakan merupakan tanggung jawab pemerintah untuk memperbaikinya,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (10/3).

Ia membeberkan, rencana revitalisasi Pasar Karangayu telah dianggarkan pada tahun ini. Jika prosesnya berjalan lancar, saat ini telah mulai dilakukan lelang pembuatan lapak pedagang di tempat relokasi yang telah ditentukan. Kemudian baru dilaksanakan pembangunan fisik di pasar utama Karangayu. ”Pemerintah terus berupaya membantu pedagang,” katanya.

Hal senada diungkapkan anggota Komisi B DPRD Kota Semarang Danur Rispriyanto. Ia menyatakan bahwa lokasi ideal untuk relokasi pedagang adalah di lapangan RW I Kelurahan Karangayu. Terkait adanya penolakan dari warga, ia meminta pemkot melakukan pendekatan yang baik dan memberi jaminan atas persoalan yang dikhawatirkan masyarakat. ”Termasuk soal kebersihan dan tentang fungsi lapangan itu sendiri nantinya,” ujarnya.

Politikus Partai Demkorat itu menambahkan, pembangunan Pasar Karangayu memang telah dianggarkan di APBD Murni 2016 sekitar Rp 30 miliar. Karena itu, ia meminta Dinas Pasar Kota Semarang untuk banyak melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar. ”Hal ini untuk meminimalisasi persoalan,” katanya.

Sebelumnya, ratusan warga RW I Kelurahan Karangayu, Semarang Barat, bersikukuh menolak jika lapangan yang ada di RW tersebut dialihfungsikan menjadi pasar sementara jika nanti Pasar Karangayu dibangun. Selain lokasi yang berada di permukiman padat penduduk, lapangan itu juga digunakan untuk aktivitas beberapa sekolah yang ada di lingkungan tersebut.

Ketua RW I, Djumakir, mengatakan, penolakan warga dilakukan setelah dilakukan musyawarah warga RW I. Bahkan setelah mendengar rencana Dinas Pasar yang akan menggunakan lapangan setempat menjadi pasar sementara, warga telah mengirimkan surat penolakan.