Beranda Semarang Raya Semarang Beda Nominal Utang, Hakim Tunda Putusan

Beda Nominal Utang, Hakim Tunda Putusan

0

KRAPYAK – Sidang gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang dilayangkan PT Nata Meridian Investara (PT NMI) terhadap perusahaan jamu PT Nyonya Meneer di Pengadilan Negeri (PN) Semarang belum menemukan titik temu, Selasa (10/3) kemarin.

Kuasa hukum PT Nyonya Meneer, Maria Ulfa didampingi Kepala Humas PT Nyonya Meneer, Erni Widianingrum, mengatakan, pihaknya akan berusaha untuk mencari upaya perdamaian. Ia mengakui, pihaknya dengan PT NMI memang belum mencapai kesepakatan. Karena itu, majelis hakim belum bisa memutuskan.

”Kami upayakan untuk mencari perdamaian. Sementara dari sidang PKPU sebelumnya masih ada selisih yang sangat jauh antara permohon dan termohon, jadi belum bisa diputuskan, kami ingin mencari win-win solution,” ujar Maria usai sidang.

Dia menjelaskan, kalau pihaknya sudah menemukan titik temu, maka tidak perlu mengadakan perpanjangan waktu. ”Kami tidak mau berlarut-larut dalam masalah ini, di luar persidangan ini kami juga mengadakan upaya perdamaian. Kami sudah melakukan pembicaraan-pembicaraan supaya ada titik temu, dalam waktu dekat kalau memang ada kesepakatan kami malah senang,” katanya.

Dia menyebutkan, perbedaan hitungan utang tersebut sangat jauh berbeda, karena PT NMI mengenakan bunga yang cukup besar. ”Dalam 1 bulan bunganya mencapai 2,65 persen, sedangkan 1 tahun 31,8 persen. Padahal awal perjanjian yang digunakan adalah perjanjian distributor bukan perjanjian bunga, apalagi kami sudah melakukan cicilan 15 persen setiap bulan,” ujarnya.

Belaum adanya kata sepakat soal jumlah nominal utang yang belum dibayarkan antara tergugat dengan penggugat juga diakui Hakim Pengawas, Siti Zamzanah. ”Selisih nominal kreditur dengan debitur masih belum ketemu. Untuk itu, harus diperlukan pembuktian lebih lanjut. Mediasi tidak berhasil,” kata Siti Zamzanah.

Dia menambahkan, permintaan untuk membayarkan utang oleh distributor tunggal sebenarnya berjalan baik. Pihak PT Nyonya Meneer telah mengakui ada 35 jenis piutang yang tersebar dalam 37 kelompok debitur. Dua kreditur lain masih belum diakui oleh termohon PT Nyonya Meneer.

Siti merinci bahwa dalam rapat mediasi Senin (9/3) kemarin telah terjadi perubahan terhadap jumlah kreditur terkait piutang. Semula 35 kreditur utang diakui bertambah menjadi 36 kreditur dari 37 kreditur yang terdaftar. Satu kreditur dari PT NMI mengajukan piutang sebesar Rp 89 miliar dan Rp 21 miliar. Tapi yang diakui PT Nyonya Meneer hanya Rp 17 miliar.

”Termohon berdalih telah menjalin kerja sama tunggal dengan PT NMI terkait penagihan, distribusi dan sebagaimana. Kesepahaman dua pihak terkait perjanjian distribusi juga telah disepakati teknis, juga soal pelunasannya,” tambah Zamzanah.

Berdasar itulah, termohon mencoba mencicil utang PT NMI sebesar Rp 38 miliar. Setelah diangsur sepanjang tahun, utang yang belum dibayarkan tersisa Rp 17,7 miliar. Selisih utang itulah yang hingga kini masih menjadi permasalahan dalam PKPU ini.
Dalam sidang tersebut, majelis hakim yang diketuai Dwiarso Budi Santiarto, meminta waktu sehari untuk musyawarah bersama majelis hakim guna menindaklanjuti hasil mediasi penundaan pembayaran kewajiban utang oleh PT Nyonya Meneer.

Keputusan tersebut diambil Dwiarso setelah mendengarkan laporan hakim pengawas Siti Zamzanah, dan Ketua Tim Pengurus Kreditur PT Nyonya Meneer. ”Karena masih ada selisih besaran utang yang disampaikan antara PT NMI dan PT Nyonya Meneer, maka belum tercapai kesepakatan,” katanya.

Menurut hakim, utang yang ditagih distributor tunggal PT Nyonya Meneer tersebut mencapai Rp 110 miliar. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan perhitungan PT Nyonya Meneer yang menyatakan total utangnya hanya sekitar Rp 17 miliar.

Ketua Tim Pengurus Kreditur PT Nyonya Meneer, Dedy A Prasetyo, meminta majelis hakim memberi tambahan waktu sekitar 15 hari untuk mediasi lanjutan atas usulan penundaan pembayaran kewajiban utang tersebut. ”Karena tidak ada titik temu mengenai jumlah utang, kami meminta perpanjangan waktu 15 hari untuk pembicaraan PKPU sementara ini,” ujarnya.

Seperti diketahui, sebelumnya PT NMI melayangkan gugatan ke Pengadilan Tata Niaga Semarang terhadap perusahaan jamu PT Nyonya Meneer atas kewajiban pembayaran utang sebesar Rp 110 miliar. Utang tersebut terbagi atas utang uang senilai Rp 89 miliar, dan berwujud barang senilai Rp 21 miliar.

Dari hasil persidangan, terungkap total kewajiban pembayaran utang yang harus dipenuhi PT Nyonya Meneer terhadap para krediturnya mencapai sekitar Rp 270 miliar. Hakim Dwiarso menunda sidang, Rabu (11/3) hari ini, dengan agenda memutuskan perkara utang piutang tersebut. (mg21/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.